Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku


Awal Maret 2020, menjadi sejarah panjang bagi masyarakat Indonesia. Tak terkecuali saya. Diumumkannya dua suspek covid-19 yang berasal dari Depok ini seolah menjadi cerita pembuka tentang keadaan yang tak baik-baik saja yang entah kapan berakhirnya. Bulan Maret, saya berada di Cikampek. Ya, sejak Januari 2020, saya tinggal di Cikampek untuk bekerja juga belajar membuat berbagai macam jenis kue. Pasca diumumkannya dua suspek di Depok, saya sempat ke Jakarta sekali. Setelah itu, saya betul-betul berdiam diri di Cikampek.

Lalu lalang berita dengan berbagai macam cerita mulai muncul di linikala. Semua berkejar-kejaran menjadi yang utama. Media sosial dipenuhi dengan segala unggahan tentang corona. Sesekali, timbul rasa takut. Tapi acap kali saya tepis. Teringat tulisan dari ketua RT perumahan Studio Alam Indah (SAI) Depok (di mana suspek pertama tinggal) bagaimana tulisan-tulisan netizen yang lalu lalang mengganggu kondisi psikologis mereka, bagaimana media mengeksploitasi warga sekitar di sekitar perumahan, baik yang datang langsung mau pun yang ditulis di laman berita.

Hari berlalu. Satu demi satu kabar orang yang terkena covid semakin banyak. Bahkan, korban yang meninggal pun jumlahnya melesat melebihi Malaysia yang sebelumnya mereka terkena lebih dahulu. Kondisi psikis mulai berubah. Saya menghindari membaca berita mengenai covid, kesibukan membuat segala macam kue membuat saya sedikit "lupa" jika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Selama di Cikampek, saya nggak pernah kemana-mana. Paling hanya ke warung sesekali untuk membeli bahan pokok. Itu pun dengan wanti-wanti diri selalu jaga jarak, cuci tangan dan menjaga kebersihan badan. Saat itu, kebiasaan menggunakan masker belum begitu didengungkan. Masker, hanya untuk orang yang sakit. Begitu menurut mentri kesehatan juga WHO.

Waktu berjalan dengan cepat, sangat cepat. 2020 betul-betul menjadi cerita yang akan selalu diingat. Saya mulai khawatir tidak akan bisa pulang ke Citayam mau pun ke Serang. Saya sama sekai tak berani menaiki kendaraan umum. Membayangkan perjalanan dengan naik kereta api dari Cikampek, lalu commuterline menuju Citayam membuat saya begitu seram. Tiba-tiba semua menjadi "musuh", semua dicurigai bahkan badan sendiri.

menjelang akhir Maret, Kakak meminta saya pulang. Dia khawatir nanti saya terjebak di Cikampek nggak bisa ke mana-mana. Mulanya saya menolak, tak apa sampai pandemi berakhir saya nggak pulang ke Serang. Tapi kakak bersikeras, dan bilang kalau dia yang akan menjemput. Akhirnya, saya mengiyakan tawaran Kakak.

Sebulan yang lalu, Kakak menjemput saya ke Cikampek. Perjalanan Serang-Cikampek yang biasanya lima jam-an, hanya ditempuh dua jam lebih. Melewati Jakarta, jalanan lengang. Ada yang berembun ketika melewati jalan-jalan yang biasanya sesak oleh kendaraan kali itu begitu sepi. Sedih... Saya terdiam sepanjang jalan, merapal doa semoga pandemi lekas berlalu. 

Karena ada keperluan, kami singgah di Cilegon. Ternyata, Cilegon masih ramai. Orang lalu lalang tanpa menggunakan masker. Melihat itu semua, saya setres. Tapi di satu sisi saya juga memahami bahwa masih banyak orang yang keluar memang untuk mencari kebutuhan hidup. Semoga yang keluar itu memang berkepentingan untuk keluar, bukan sekadar untuk nongkrong nggak ada keperluan. 

Apa yang dilakukan setelah saya berada di rumah?

1. Karantina Mandiri

Tahu diri karena dari luar kota dan melewati Jakarta meski nggak turun kendaraan, saya melakukan isolasi mandiri dengan tidak keluar rumah dan membatasi interaksi dengan keluarga. Meski saya sehat, tapi kekhawatiran menjadi carier itu membayangi diri. Sebelumnya, saya kerap mencari referensi bacaan mengenai apa dan bagaimana kalau orang dari lain kota.

Owh ya, di Halodoc, ternyata bisa test virus corona secara online. Pertanyaannya simpel-simpel  aja, seperti yang kita tahu selama ini. Kalau penasaran, bisa download aplikasinya ^_^



tes ini bisa dilakukan di aplikasi halodoc


2. Belajar Membuat Kue

Demi mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari di Cikampek, selama karantina diri saya mulai belajar membuat beberapa kue. Dari donat, bolu, brownies dan roti goreng. Itu aja, sih yang baru dipraktekin. Tentunya, dengan menggunakan alat yang ada. Karena di rumah pastinya berbeda peralatan dengan yang ada di Cikampek  hehehehe...

Asli, buatan sendiri pake tangan (helegh, sombong) hehehehe


3. Senantiasa berpikir Positif

Ya, di masa pandemi seperti ini, pikiran-pikiran buruk apa berkelebat. tak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga kehidupan sosial secara umum. Tak jarang, kepala ini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, 'kalau sudah nggak ada uang beredar nanti gimana? Saya sebentar lagi gimana, trus orang-orang yang lain, yang keadaannya jauh lebih susah dari saya gimana?". Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap menghantui. Jalan satu-satunya adalah selalu berpikir positif dan menggantungkan sepenuhnya ketentuan dengan Allah. Dalam keadaan seperti ini, kadang saya sadar sesadar-sadarnya jika saya adalah manusia yang lemah. Ikhtiar, tawakal adalah jalan terbaik saat ini. Pun saling memberikan doa dan kekuatan satu sama lain.

4. Berbagi untuk Menempa Diri

Inilah keadaan di mana kekurangan saya hari ini, saya usahakan masih bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan sebelumnya. Berbagi nasi dengan uang seadanya, lalu ada donasi dari teman lainnya. Sedangkan donasi sembako, saya hanya sebagai penyalur saja. Karena donaturnya adalah Mbak Melanie Subono. 


Kalau biasanya berbagi nasi makannya beli, kemarin masak sendiri


Isi sembako


"Halo, Kak. Masih di kantor, nggak?."

"Masih, Kanaz. Ini mau pulang."

"Ok, aku sama Adi mampir ke kantor, ya. Ini lagi ngider bernas."

Rabu, 22 April 2020 saya dan Adi berencana berbagi nasi di sepanjang jalan Cilegon. Bermodalkan uang Rp. 250.000 hasil donasi, saya inisiatif buat masak sendiri. Tentunya dibantuin kakak. Jadilah 28 bungkus nasi dengan lauk ayam goreng tepung dan tumis kacang panjang dan tempe. Sementara Adi membawa 15 bungkus nasi hasil masak sendiri juga donasi dari tetangganya. Kami membuat temu janji di masjid agung Cilegon selepas ashar. Selain dengan Adi, saya juga janjian dengan Isna. Selagi Isna belum sampai dan kami mulai ngider, tiba-tiba teringat Kak Magda dan kami berniat singgah di kantornya. Tupperware Cilegon. Sebuah markas tak resmi yang kerap kami jadikan tempat ngumpul ketika keadaan sedang baik-baik saja. 

Rp. 250.000 menghasilkan 28 bungkus nasi. Yang Adi bawa nggak sempat motret. Terima kasih, donatur...


Sampai di Tupperware, rupanya sudah ada Kak Dita. Tak lama  kemudian muncullah Ijal. Setelah Ijal menampakan diri, Isna pun sampai di depan kami. Alahai... Pertemuan yang tak direncanakan ini tiba-tiba terjadi. 

Pertemuan yang tak direncanakan


Sebelum berangkat ke Cilegon, Kak Dita mengabarkan ke saya kalau paket sembako dari Jakarta yang akan dibagikan sudah sampai. Ya, beberapa hari sebelumnya Kak Dita memberitahu kalau akan membagikan donasi sembako dari teman-teman komunitas womanmarch dengan target perempuan sebagai penyangga kebutuhan. Mumpung ketemu, mumpung sembako juga sudah sampai akhirnya kami sepakat membagikan malam itu juga ke beberapa tempat. Sembako ada di rumah Kak Magda, jadilah menjelang maghrib kami menuju rumah Kak Magda.

Nasi yang dibawa oleh saya dan Adi belum habis terbagi. Isna menambahkan beberapa bungkus tahu melet produksinya. Di rumah Kak Magda, puluhan kardus sudah berjejer rapih. Seusai solat maghrib, kami mendiskusikan kemana saja paket tersebut akan dibagikan. Tak ada yang kebetulan... Selama covid ini kami memang jarang sekali ketemu kecuali untuk urusan-urusan pekerjaan (ngambil barang dan antar barang jualan). 

Jika sebelumnya saya mengajukan tiga tempat, malam itu saya menambahkan lagi jumlah penerima donasi. Owh ya, beberapa hari yang lalu Kak Dita udah whatsapp Adi, menanyakan kebutuhan warga di dekat kampungnya. Tapi dikarenakan hapenya Adi rusak, komunikasi itu tak pernah berbalas. Jadilah malam itu Adi sibuk berkoordinasi dengan ketua RT di kampungnya. Tak lama kami duduk, Cholis datang dengan temannya. Kalau dengan Cholis, sepertinya Kak Dita sudah berkoordinasi. Kak Dita kembali memperbarui data kepada siapa saja donasi akan disalurkan. Adi sibuk bertelpon dengan pak rt, saya pun sibuk bertelpon menanyakan dan memastikan siapa saja yang layak mendapakan bantuan.

"Loh, kalau ngomongin terdampak, saya juga terdampak."

"Lah, saya juga. Nggak kerja ini."

Ngomongin layak nggak layak, kami semua jadi berkelakar. Sampai kemudian orang yang paling bisa dipercaya di antara kami nyeletuk, "Layak tak layak, dalam kondisi seperti inilah mental kita diuji." Itu merupakan sabda pandita dari Kak Magda, orang yang paling bisa dipercaya di antara kami selain percaya kepada Pemilik alam semesta.

Teringat chat sehari sebelumnya dengan Adi. Mulanya, saya mengajak Adi berbagi nasi hari Selasa. Tapi Adi bilang besok saja. Rabu, 22 April 2020 rupanya ada rezeki lain yang menemani kami. Selesai memperbarui data, kami semua bergerak mengeluarkan paket sembako, memasukannya ke dalam mobil Kak Magda dan Adi juga ke motor Cholis. Kami beranjak meninggalkan rumah Kak Magda, menuju Kebon Dalem sambil melanjutkan berbagi nasi di sepanjang jalan Cilegon.

Karena malam hari dan mendadak, ada keharuan dari wajah-wajah penerima donasi. Salah seorang penerima manfaat yang saya temui suaranya tercekat di tenggorokan, memegang tangan saya "Saya nggak tahu mau ngomong apa." Ucapnya sambil terbata-bata. Target pemberian donasi ini adalah untuk para perempuan tulang punggung keluarga yang terdampak covid. Teruntuk Kak Dita dan Kak Magda, terima kasih atas perantara kebaikannya. Donasi ini, menurut Kak Dita adalah kepanjangan tangan dari Mbak Melanie Subono (Rumah Harapan Melanie) dan Mbak Oli (mohon maaf jika salah nama). Semoga berkah untuk semuanya... Kok kardusnya Sido Muncul semua? Bisa jadi, ini adalah donasi dari CSR mereka. 

Untuk Adi, Isna dan Bella, terima kasih juga atas donasi berbagi nasinya ^_^


Semangat, Cholis!Itu rambut gondrong amat hahahaha

Kata Kak Magda berat banget. Kata aku dan isna B aja (maklum, tenaga kuli) Hahahhhahaha

Istrinya Adi, yang ninggali baby di rumah ^_^


Sumber foto, Adi Caesario official (picasa)



Rumah Sakit Mitra Keluarga merupakan salah satu pilihan tempat yang memberikan layanan kesehatan untuk masyarakat. Tidak hanya melayani di kota besar, tetapi rumah sakit ini juga mempunyai banyak cabang yang ada di daerah. Seperti misalnya ada Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru yang ada di Sidoarjo. Rumah Sakit ini mempunyai alamat lengkap di Jalan Jenderal S Parman Nomer 8, Krajan Kulon, Waru, Kabupaten Sidoarjo. Rumah sakit ini juga menawarkan fasilitas kesehatan yang lengkap termasuk untuk dapat membuat janji dengan dokter. Anda bisa untuk menentukan dan mengatur konsultasi yang dibutuhkan dengan cara buat janji dengan mengetahui jadwal dokter Mitra Keluarga Waru.

Pada umumnya untuk mengetahui jadwal dokter juga sangat mudah. Dimana Anda bisa untuk melihat jadwal dokter tersebut yang ada di website rumah sakit masing-masing. Maka dalam hal ini Anda bisa untuk melihat jadwal dokter ada di Rumah Sakit Mitra Keluarga yang ada di Waru Sidoarjo. Anda bisa untuk melihat jadwal tersebut di website Rumah Sakit Mitra Keluarga Pusat kemudian memilih cabang rumah sakit Waru. Setelah itu Anda juga perlu untuk mengisi beberapa hal yang dapat untuk melihat jadwal dokter yang Anda inginkan dan juga bisa untuk buat janji pertemuan dengan dokter.

Adapun untuk membuat janji dari jadwal dokter adalah dengan mengisi berbagai hal berikut ini:

  1. Pertama adalah dengan memilih waktu untuk berkonsultasi. Dalam ini Anda harus memilih tanggal, bulan, dan tahun yang diinginkan untuk berkonsultasi. Sehingga dengan mengisi waktunya maka akan dapat memperlihatkan jadwal dokter yang sesuai dengan jadwal Anda.
  2. Selanjutnya adalah memilih poliklinik yang diinginkan karena banyak sekali layanan kesehatan yang ada di rumah sakit ini.
  3. Terakhir adalah dengan memilih dokter yang Anda inginkan untuk melihat jadwal dari dokter yang telah Anda pilih.

Beberapa hal di atas merupakan hal yang perlu diperhatikan ketika akan membuat janji dengan dokter yang ada di Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru. Dari beberapa hal yang harus diperhatikan untuk buat janji tersebut, maka juga ada beberapa pertimbangan ketika Anda akan memilih konsultasi menggunakan jadwal dokter yang Anda inginkan. Misalnya untuk hal pertama yang perlu diperhatikan adalah dari kesesuaian jadwal dokter dengan jadwal Anda. Dokter pada umumnya akan ada setiap hari tetapi jam tertentu. Sehingga ketika akan memilih jadwal memang penting untuk yang detail yaitu dari hari dan juga jam untuk melakukan konsultasi.

Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah dari jenis layanan yang akan didapatkan. Bagi Anda yang kurang mengetahui untuk bertemu dengan dokter spesialis apa maka bisa untuk bertemu dokter umum terlebih dahulu. Cara ini akan lebih efisien sehingga akan mendapatkan diagnosis yang lebih tepat karena nantinya apabila memerlukan pemeriksaan lainnya maka akan dirujuk dengan dokter spesialis yang lebih tepat dari dokter umum.

Hal ketiga ketika memperhatikan jadwal dokter Mitra Keluarga Waru adalah dengan memperhatikan jadwal dokter yang diinginkan. Apabila Anda telah pernah berkonsultasi dengan dokter sebelumnya maka bisa untuk memilih dokter yang sama ketika akan buat janji. Akan tetapi misalnya tidak menemukan jadwal yang tepat dengan dokter tersebut, maka Anda bisa untuk membuat janji dengan dokter lainnya dengan spesialis yang sama. Sehingga jadwal dokter tersebut dapat mengetahui jadwal dokter yang tersedia untuk waktu, spesialis, hari, dan jam yang Anda inginkan.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Kemerdekaan Bagi OYPMK Bagaimana?
  • Bagaimana Cara Membuat KTKLN?
  • Orenji, Salah Satu Restoran Jepang di Cilegon
  • Resep Sambal Terong Dicabein

Harta Karun

  • ►  2022 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ▼  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ▼  April (3)
      • Karantina Mandiri Setelah dari Luar Kota
      • Menyalurkan Donasi dari Rumah Harapan Melanie
      • Berikut Pertimbangan dalam Memilih Jadwal Dokter M...
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (23)
  • ►  2009 (124)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (16)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com