Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku

Sebelumnya, saya sempat beberapa kali berkunjung ke kota Bekasi. Awal mula, sepertinya saat @HibahBuku diundang oleh komunitas Indonesia Berkibar yang mengadakan acara di SDN mana entah saya juga lupa. Sekali-kalinya itu saya berkunjung ke Bekasi. Tapi, setelah bekerja di Layanan Kesehatan Cuma (LKC) Dompet Dhuafa saya kerap kali berkunjung ke sana untuk beberapa acara. Seperti Ramadhan tahun lalu, saya juga sempat beberapa kali mengunjungi beberapa pesantren di wilayah Bekasi untuk event Ramadhan Santri Sehat (Sanset)

Minggu lalu, saya kembali mengunjungi Bekasi. Tidak seperti biasanya, perjalanan kali itu lebih lama. Kalau biasanya hanya dua jam, ini hampir empat jam perjalanan dari Ciputat menuju Bekasi belum sampai juga. Rabu, 22 Januari kami berlima dari kantor mengunjungi Desa Lenggah Sari Kampung Cabang 2, Cabang Bungin untuk menyalurkan bantuan dari donatur yang diamanahkan ke kantor kami. Entah itu masuk ke Bekasi mana, saya juga kurang paham. Saya kira, itu sudah masuk daerah luar Bekasi. Ternyata, setelah bertanya-tanya itu masih di Bekasi.

Setelah nyasar juga ke daerah yang lumayan jauh, alhamdulilah kami sampai juga di daerah yang kering tanpa ada genangan air. Sampai di situ, kami disambut warga. Ada yang baru turun dari perahu, ada juga yang sudah menunggu di situ.

"Kampungnya di sana, Neng. Tuh, dari sini kelihatan." ujar seorang bapak-bapak yang baru turun dari perahu kecil sambil menunjukan sebuah tempat yang tak terlihat oleh saya karena tak memakai kaca mata. Saya tertegun memperhatikan sekitar. Sejauh mata memandang, hanya bentangan air yang terlihat. Saya mengira, ini sebuah lautan atau paling tidak sebuah danau.

"Ini sawah, Mbak Anaz" Rika, salah seorang teman menjawab pertanyaan saya.

Tak menunggu lama, barang-barang segera dipindahkan dari mobil ke perahu kecil. Warga menyarankan supaya tidak terlalu banyak orang di dalam kapal. Barang-barang yang dimasukan pun tidak begitu banyak. Jadilah kami yang lima orang dan setumpuk barang-barang diangkut beberapa kali menggunakan perahu kecil. 

Naik saja ke perahu, jantung saya berdetak lebih kencang. Iya, saya deg-degan. Padahal sudah terbiasa menaiki perahu kecil di Pulau Tegal. Ah, tapi ini bukan Pulau Tegal, ini bukan di laut lepas. Perahu kecil berjalan perlahan, dua orang warga mendorong sampai ke tengah, sampai ke tengah mereka naik ke perahu dan menghidupkan mesin. Laju perahu semakin kencang, tempias air berwarna coklat mengenai kamera juga masuk ke dalam perahu. Dua warga yang mengantar kami tak segan bercerita tanpa kami minta.

"Di bawah ini sawah, Neng. Kerugian bukan lagi ratusan juta. Tapi milyaran." kata bapak yang duduknya lebih dekat dengan saya.

"Padinya udah tinggi, Pak?"

"Baru disemai, Neng."

Saya dan Rika saling pandang. Seluas-luas tempat yang kami lihat adalah hamparan air berwarna coklat. Sama sekali tak terbayang kalau di bawah air ini adalah sawah. Dan masih menurut bapak yang mengantar kami, dari ujung ke ujung yang terlihat itu semuanya sawah.

Dan sampailah kami di perkampungan, kampung yang penuh dengan air dan mari kita lihat gambar-gambar saja...

Perahu yang baru sampai

Warga bergotong royong meletakan barang bawaan kami



Ini bukan lautan :(




Sejak awal, komitmen kami memang mengantarkan dari rumah ke rumah. Meski ini lebih repot, tapi alhamdulilah warga sangat membantu kami. Mereka bergotong royong mengantarkan kami. Awalnya, saya berjalan kaki mengikuti perahu, sementara Rika berada di atas perahu. Sedangkan Mas Oing, Mas Andi dan Pak Yusuf berjalan mengkuti warga (meski akhirnya pada nyerah juga naik perahu) :D sama kayak saya yang akhirnya nyerah juga naik perahu karena nggak tahu medan, bawa kamera pula. Rawan terperosok ke got dan sungai-sungai kecil yang kami nggak tahu.


 Ini di Bekasi  ya, Bekasi yang hanya selemparan batu dari Jakarta. Tapi.... Ah, entahlah angkat bahu saya melihatnya :(




Anak-anak itutak mengenal duka




Menurut warga, banjir tahun ini lebih parah dari tahun sebelumnya. Konon, bantuan dari pemda setempat masih sangat minim. Baru beberapa dari caleg dan salah satu bank yang sudah memberikan bantuan. Sayangnya, bantuan dari salah satu bank tersebut pun dipangkas entah oleh siapa. Dalam keterangan gambar, paket bantuan yang diberikan itu berisi minyak goreng, beras, mie instant dan beberapa lainnya. Sayangnya, yang sampai ke warga hanya keping-keping indomie beberapa biji. Ini curhat warga yang saya temui. Ini adalah penyakit bencana yang paling parah, menimbun hak korban banjir untuk disimpan bahkan diperjual belikan. Innalillahi... Wallahua'lam.
Bagi kita yang kerap berselancar di dunia maya, tentunya tak asing lagi dengan twitter. Layanan jejaring sosial yang didirikan pada bulan Maret 2006 oleh Jack Dorsey ini begitu familiar di Indonesia. Bahkan, beberapa bulan lalu saya sempat membaca tulisannya Pak Maman Suherman di Kompasiana yang menuliskan Indonesia adalah salah satu dari 10 negara pengguna terbanyak internet. Namun, 95 % pengguna adalah untuk media sosial. Indonesia juga merupakan negara pengguna aktif facebook nomor empat di dunia, lebih menakjubkan lagi, ciapan terbanyak (twit) terbanyak ternyata berasal dari Jakarta, kota dengan ciap-ciap terbanyak di dunia: 15 twit/detik. Baca link lengkapnya di sini

Awal membaca berita di atas, saya sempat terhenyak kaget. Saya sempat share link di atas juga ke group whtasapp hibahbuku dan seperti biasa kami membahas bersama. Di group yang saya sebagai adminnya itu tak melulu ngomongin buku, nama group diganti-ganti setiap ada topik yang dibicarakan. Apa saja, bahkan lebih banyak gila-gilanya dan miring-miringnya. Karena kegilaan dan kemiringan itulah yang mendekatkan kami semua.

Seperti Selasa lalu, kami semua dirundung kegelisahan yang sama. Kegelisahan melihat musibah saudara-saudara kami di Sinabung sebelum ada banjir Menado. Pagi itu, kami berinisiatif menghimpun dana. Saya melontarkan sebuat ide menjual buku Relawan Merapi yang saya tulis bersama teman-teman blogger dari berbagai platform. Penjualan sepenuhnya akan kami himpun untuk saudara-saudara kami yang ada di Sinabung sana. Lagipun, saya masih memegang uang Rp. 1. 370. 250 hasil penjualan sebelumnya. Uang itu belum dikirim dan digunakan karena niat awalnya memang untuk kemanusiaan. Jadi, niatnya nanti uang yang ada akan disatukan.

Teman-teman menyambut antusias. Segala rencana dibuat, menyusun kalimat untuk broadcast di whatsapp dan black barry juga menyiapkan bahan untuk diluncurkan di twitter. Saya sungguh terharu melihat antusias teman-teman. Anak-anak muda ini semangatnya keren sekali. Ayu, Uci, Mas Paeng, Kak Aip, Lia, Rin rin, Dhenok, Abjad bumi, Rudiansyah, Aty, Arie, Ijal mereka dengan semangat 45 ikut urun ide dan ikut membantu menyebar informasi. Kesepakatan pun kami buat mencari nomor rekening siapa yang akan digunakan. Rekening Rinrin blogger yang tinggal di Medan akhirnya kami pakai dengan rekening BCA.

Informasi langsung kami sebar baik broadcast di whatsapp juga black barry bagi yang menggunakannya. Tak lupa juga up date di twitter @HibahBuku. Di twitter Hibah Buku, kami ada lima orang yang menjaganya. Sampai di sini, sambutan dari beberapa teman yang kami kirimi broadcast beragam. Ada yang langsung memesan buku, tapi ada juga sambutan yang tak menyenangkan. Saya sedikit terkejut ketika membaca mention yang sampai di akun @hibahbuku


Saya langsung share dengan teman-teman di group whatsapp. Teman-teman terkejut tentunya. Tapi masing-masing saling menguatkan jangan terbawa emosi. Kembali ke niat awal. Karena penasaran, saya langsung stalking ke akun tersebut. Sungguh-sungguh terkejut ketika menuju akunnya, pemilik akun justru menuliskan di time line yang membuat saya menggigil membacanya, perasaan saya nggak bisa digambarin lagi. Yah, saya sedih, marah dan bercampur baur rasa menjadi satu. Karena nama sayalah dalam buku itu.


Twit @HibahBuku membalas mention tersebut sesuai dengan niat awal kami di group bahwa penjualan sepenuhnya untuk Sinabung. Dan ternyata, time line berbalas kami diperhatikan dan jadinya banyak yang nimbrung. Kalau saya secara pribadi nggak nyahut-nyahut. Sampai akhirnya pemilik akun yang mention sebelumnya membalas mention @HibahBuku (Saya lupa nggak capture) :D Yang mention itu nggak minta maaf, meski sudah dijelasin. Hihihi... Iya, suwer waktu itu saya nungguin banget itu minta maaf. Tapi tak lama setelah itu pemilik akun meminta maaf.


Saya menganggap semuanya selesai. Selesai dengan banyak pengajaran dan pelajaran. Pengajaran ke saya untuk lebih hati-hati lagi menanggapi sebuah kalimat 140 karakter di twitter. Pelajaran ke saya untuk belajar lagi banyak hal, tentang niat dan ikhlas, tentang niat dan tujuan seseorang yang saya tak pernah tahu sejauh mana ia menujunya. Illallah, bismillah ia menjadi bekal sedangkan sandungan yang ditemui di depannya bukan berarti harus menghentikan langkah. 

Buat teman-teman di group whatsapp, kalian keren-keren! Kalian selalu membuat lompatan di luar nalar saya. Kebersamaan kalian, semangat berbagi kalian semoga berkekalan dan menjadi keberkahan. Aamiin.

Tulisan personal bukan atas nama @HibahBuku, tapi atas nama Anazkia sebagai salah satu penulis buku Relawan Merapi yang dijual :). Alhamdulilah, sudah ada beberapa orang yang memesan buku. Ada juga yang kirim uang, tapi tidak mau dikirimi bukunya. Subhanallah. Alhamdulilah. Saya percaya, selalu ada jalan untuk kebaikan. 


Buat yang mau ikutan donasi untuk saudara-saudara kita di Sinabung bisa hubungi @HibahBuku atau bisa whatsapp langsung ke 0859 4544 7914 :)

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Kemerdekaan Bagi OYPMK Bagaimana?
  • Bagaimana Cara Membuat KTKLN?
  • Orenji, Salah Satu Restoran Jepang di Cilegon
  • Resep Sambal Terong Dicabein

Harta Karun

  • ►  2022 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ▼  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ▼  Januari (2)
      • Bekasi itu Hanya Selemparan Batu Dari Jakarta
      • Seratus Empat Puluh Karakter
  • ►  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (23)
  • ►  2009 (124)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (16)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com