Minggu lalu, saya kembali mengunjungi Bekasi. Tidak seperti biasanya, perjalanan kali itu lebih lama. Kalau biasanya hanya dua jam, ini hampir empat jam perjalanan dari Ciputat menuju Bekasi belum sampai juga. Rabu, 22 Januari kami berlima dari kantor mengunjungi Desa Lenggah Sari Kampung Cabang 2, Cabang Bungin untuk menyalurkan bantuan dari donatur yang diamanahkan ke kantor kami. Entah itu masuk ke Bekasi mana, saya juga kurang paham. Saya kira, itu sudah masuk daerah luar Bekasi. Ternyata, setelah bertanya-tanya itu masih di Bekasi.
Setelah nyasar juga ke daerah yang lumayan jauh, alhamdulilah kami sampai juga di daerah yang kering tanpa ada genangan air. Sampai di situ, kami disambut warga. Ada yang baru turun dari perahu, ada juga yang sudah menunggu di situ.
"Kampungnya di sana, Neng. Tuh, dari sini kelihatan." ujar seorang bapak-bapak yang baru turun dari perahu kecil sambil menunjukan sebuah tempat yang tak terlihat oleh saya karena tak memakai kaca mata. Saya tertegun memperhatikan sekitar. Sejauh mata memandang, hanya bentangan air yang terlihat. Saya mengira, ini sebuah lautan atau paling tidak sebuah danau.
"Ini sawah, Mbak Anaz" Rika, salah seorang teman menjawab pertanyaan saya.
Tak menunggu lama, barang-barang segera dipindahkan dari mobil ke perahu kecil. Warga menyarankan supaya tidak terlalu banyak orang di dalam kapal. Barang-barang yang dimasukan pun tidak begitu banyak. Jadilah kami yang lima orang dan setumpuk barang-barang diangkut beberapa kali menggunakan perahu kecil.
Naik saja ke perahu, jantung saya berdetak lebih kencang. Iya, saya deg-degan. Padahal sudah terbiasa menaiki perahu kecil di Pulau Tegal. Ah, tapi ini bukan Pulau Tegal, ini bukan di laut lepas. Perahu kecil berjalan perlahan, dua orang warga mendorong sampai ke tengah, sampai ke tengah mereka naik ke perahu dan menghidupkan mesin. Laju perahu semakin kencang, tempias air berwarna coklat mengenai kamera juga masuk ke dalam perahu. Dua warga yang mengantar kami tak segan bercerita tanpa kami minta.
"Di bawah ini sawah, Neng. Kerugian bukan lagi ratusan juta. Tapi milyaran." kata bapak yang duduknya lebih dekat dengan saya.
"Padinya udah tinggi, Pak?"
"Baru disemai, Neng."
Saya dan Rika saling pandang. Seluas-luas tempat yang kami lihat adalah hamparan air berwarna coklat. Sama sekali tak terbayang kalau di bawah air ini adalah sawah. Dan masih menurut bapak yang mengantar kami, dari ujung ke ujung yang terlihat itu semuanya sawah.
Dan sampailah kami di perkampungan, kampung yang penuh dengan air dan mari kita lihat gambar-gambar saja...
Perahu yang baru sampai
Warga bergotong royong meletakan barang bawaan kami
Ini bukan lautan :(



Ini di Bekasi ya, Bekasi yang hanya selemparan batu dari Jakarta. Tapi.... Ah, entahlah angkat bahu saya melihatnya :(


Anak-anak itutak mengenal duka




