Catatan Anazkia

Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan

  • beranda
  • Kisah
    • Serial
    • Cerpen
    • Celoteh
    • Reportase
    • Perjalanan
      • Gaya Travel
      • Trip Gratisan
      • Piknik Buku
  • Pojok Anaz
  • Murai
  • Sosok
  • komunitas
    • Volunteer
    • KBO
    • Semestarian
    • Blogger Hibah Buku

Mengambil sebuah keputusan adakalanya harus di siapi dengan mental akibat dari keputusan yang kita ambil. Hari ahad kemarin, betul-betul kelabu buatku. Aku mengambil keputusan untuk tidak jadi menghadiri pesta buku. Berat rasanya, kesempatan itu sudah ku tunggu beberapa waktu lamanya. Mau tidak mau, aku harus memaksa diri untuk tidak pergi. Mengibur diri, lagipun beli buku belum tentu di baca. Dan juga pendingnya Klub buku, membuatku biasa-biasa saja menyikapinya. Toh, kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pertemuan yang sudah di atur pun sulit untuk di tunaikan. Masih sedikit terkilan... 

Waktu SD, aku goblog (kasar banget ya...???):D itulah kesimpulanku. Masih ada beberapa moment yang aku ingat, tatkala kebodohanku mulai menampakan diri. Entah di sadari atau tidak tapi, aku memang bodoh ketika itu ;D Gambar nyuri dari om Google
Masih tentang kebodohanku, saat aku kelas 6 SD ada beberapa tugas yang melibatkan aku sebagai ketua atau aku sebagai wakil dari sekolah. Ketika Pramuka, aku pernah menjadi ketua regunya. Malangnya, pengetahuanku yang sangat terbatas sama sekali tidak menolong para anggota yang memang sama2 tidak mengetahui seluk beluk Pramuka. Entah di mana silapnya, akukah atau pembinanya ketika itu. Selama berlatih, aku dan kawan-kawan hanya di ajari tali temali, baris beraris, membuat tenda, sandi morse dan beberapa lainnya. Tanpa di ajari asal muasal pramuka. Tiba hari H, ketika aku dan anggota memulai perburuan mencari jejak di setiap pos maka kebodohanku betul-betul menjelma ketika itu. Tatkala tiba di sebuah pos yang menanyakan tentang pengetahuan umum, aku sungguh terkejut luar biasa saat mendapatkan soal, "Siapakah bapak Pramuka?" Aku tegang, jantungku berdebar, masa yang di berikan semakin menipis. Aku tanya kepada setiap anggota, tiada yang mengetahuinya. Sementara di hujung sana, pembina ku memandang dengan biasa saja. Otakku semakin tumpul. Tanpa berfikir panjang akhirnya, aku dan teman-teman mengambil sebuah jawaban yang begitu besar salahnya dan begitu memalukan ketika di ingatinya. Aku tulis jawabannya, "Soeharto." Baru aku tahu setelah beberapa tahun kemudiannya, saat aku di sekolah menegha pertama bahwa, bapakPramuka sedunia adalah Robert Boden Powell namanya. Nyata, tak semua ilmu kita dapat pada masanya. Tak hanya itu, ketika aku di amanahkan sekolah untuk mengikuti lomba dengan kedua temanku dan aku mewakili bidang studi Matematika. Sungguh kebodohan luar biasa saat itu. Soalan yang ku hadapi, rasanya begitu sulit. Otakku benar-benar beku ketika itu, aku mati kutu! Sadar tak sadar, aku baru sadar beberapa soalanku dulu ada yang masih ku ingat tentang akar kuadrat dan aku, mengetahui tentangnya juga setelah aku di sekolah menengah pertama. Kini, aku berfikir adakah sistem yang salah dalam pendidikan. Atau aku yang salah dalam mendapatkan didikan...??? Tak heran, saat aku Aliyah kelas 2, sewaktu belajar matematika di catur wulan ke tiga guruku mengajari matematika tapi, otakku diam begitu saja. Tak ayal sang Guru yang lumayan killer itu berujar, "masa soal kayak gini gak bisa ngerjain...??? ini, awalnya sudah betul tapi, giliran yang terakhir kenapa gak bisa? Ini, anak SD pun tahu." Aku menjawab dalam hati, "Bu, waktu SD saya goblog." nyengir kuda dalam hati... Menunggu hari Guru, khan ku kenang beberapa Guru yang telah mengajariku Alif, Ba, Ta dan juga tulis baca
Ada hobi baru, aku sekarang gi suka berburu berita dan khabar dari istana. Aku agak miris setiap membaca berita-berita ini. Ketika banyak orang bercerita dan mengeluarkan pendapat, aku terkadang hanya bisa mengeleus dada dan bertanya-tanya. Kenapa untuk berita yang belum tentu kebenarannya ada saja yang menghujat? tak sedikit, yang di hujat pun menghujat balik Astagfirullah...
Gambar di ambil dari blog Tak banyak komentarku, hanya mampu melihat dan menyaksikan, semoga kebenaran itu akan wujud. Aku sering melihat up date berita ini di malaysiakini.com banyak cerita di sini, versi Malaysia juga di detik.com Versi Indonesia tentu saja. Juga beberapa blog di Malaysia yang memuat gambar-gambar Manohara dan sang suami anak diraja yang kelihatan biasa-biasa saja, kelihatan bahagia dan manohara terlihat menikmati hari-harinya sebagai kerabat diraja, meskipun ibunya manohara ngeles ini hanya rekayasa belaka ah, semuanya hanya semu, biarlah waktu yang menjawabnya. Aku berharap cerita ini tidak memperburuk hubungan dua-dua negara. Seribu tanya bergelayut tentang cerita-cerita sebelumnya. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan jalan untuk semuanya baik Ibunya Mohara, pihak istana juga Malasysia dan Indonesia. Insya Allah... Di tangan Allah lah semua rahasia juga Manohara dan suaminya.
"Ana, kamu kesini." Tiba-tiba guru kelas memanggilku. Suasana riuh rendah lapangan tidak mengurangi intonasi tinggi suaranya. "Yah Pak." Aku mendekat "Kamu, jadi komandan upacara." Gubrak!. Asli, terkejut abis. Mau menolak sudah di tunjuk, mau menunjuk orang lain tidak mungkin. Akhirnya, dengan sangat terpaksa aku menjadi komandan upacara. Terkedek-kedek aku berjalan, dengan baju kebaya hasil pinjaman, sendalpun dapat meminjam(untung aja waktu itu belum kenal sendalnya om Santri :D) aku menjadi komandan upacara untuk hari itu.
Peristiwa itu bertahun dahulu sudah berlalu ketika aku duduk di bangku kelas enam SD. Dan itulah kali pertama sekolahku mengadakan Kartinian. Hari itu, petugas upacara semuanya perempuan. dari para Danton, pembaca Pancasila, pembaca UUD, pengibar bendera, dirigen, pembaca doa dan pemimpin upacara. Sejak hari itu juga, aku tidak pernah berfikir mengapa harus di peringati hari Kartini. yang aku tahu, Kartini lahir pada 21 April 1879 dan beliau rajin menulis surat untuk sahabat-sahabatnya. Selain itu, aku mengetahui karyanya "Habis Gelap, Terbitlah Terang" yang sampai saat ini aku belum membacanya. bahkan, tak pernah melihat bukunya (sepertinya, harus di buru :) Pada akhirnya, aku terfikir juga. Mengapa hanya hari Kartini yang di peringati di Indonesia?. Bukankah, masih banyak pejuang-pejuang wanita lain di Indonesia? Yang tak kalah hebatnya, yang tak kalah luar biasa dalam cita-citanya. Mengingati pertanyaanku, jadi teringat kata-kata mbak Helvy Tiana Rosa di UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia) dulu. Konon, terkenalnya Kartini karena rajinnya beliau menulis dan membaca. Perburuanku, membawaku ke rumah mbah Google dan sang isteri Eyang puteri Wiki Beruntung ketika mereka melayaniku dengan baik, di suguhinya aku segudang cerita dan berita tentang RA, Kartini. Juga di layaninya aku dengan slide-slide gambar beliau. Seorang Kartini, yang rajin membaca dan menulis surat untuk kawan-kawannya. Seorang yang masih muda belia tapi, hebat dengan pemikiran-pemikirannya. Nyata sekali, bahwa Kartini sangat inspiratif untuk seorang wanita pada masanya khusunya untuk perempuan jawa. Berbagai buku di bacanya kalau mau tahu, baca disini yah... Ini membuktikan, berbagai pemikirannya adalah hasil dari buku yang di bacanya :) Selama ini yang di dengungkan dan di uar-uar khan (eh ko keselip bahasa melayu, artinya, kurang lebih sama :D) hanya emansipasi yang di perjuangkan olehnya. Adakalanya, emansipasi yang di laungkan, tidak senada dengan emansipasi RA. Kartini bahkan, tak sedikit yang bersifat genderitas (eh, artinya apa tuh yah...???) yah, persamaan derajat lelaki dan wanita. Padahal, hasil dari pemikiran-pemikirannya berdirinya beberapa sekolah-sekolah wanita oleh yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, dan kemudian Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Tak usah berkata emansipasi kalau jiwa sendiri saja tak mampu untuk di kritisi (ini khusus untuk diriku sendiri). Pada hakikatnya, ketika berkata emansipasi sudahkah diri ini menjadi wanita yang sejati seperti Kartini...??? Adakalanya, emansipasi yang di perjuangkan sekarang lebih bersifat betul-betul persamaan gender. Menjadi wanita tomboy , maskulin atau bahkan benar-benar berubah menjadi lelaki, naudzubillah... Menjadi wanita, tentu saja tidak hanya menuntut untuk sebuah emansipasi (dari tadi, eman-eman mulu ) tetapi juga menuntut wanita untuk menjadi perempuan kritis, feminin (bersifat keibuan, dan wanita sejati) sok wanita banget. Mempelajari seluk beluk Kartini, membawa hikmah tersendiri buatku. Sebuah pingitan yang di lakukan untuknya, tidak menghalang beliau untuk terus belajar dan belajar. Sehinggakan menimbulkan ide-ide cemerlang yang bermunculan. Menjadi wanita kreatif juga inspiratif. Ketika aku dulu menjadi komandan upacara hari Kartini, mungkin aku tak pernah memahami sejauh ini arti perjuangannya. Rasanya, tak perlu lagi berkebaya di hari Kartini tapi, merubah minda (ops, muncul lagi Melayunya) merubah mind set kita, tentang apa sebenarnya pemikiran Kartini. Kembali kepada diriku yang hanya seorang pembantu, tak menghalang langkah-langkah ini untuk menari dia atas bumi Allah yang sangat luasnya mencari ilmu, belajar, membaca juga menulis tarian kehidupan yang ku jalani. Ilmu tak terbatas kepada siapa saja, karena menuntut ilmu, wajib hukumnya kepada lelaki dan wanita (begitulah bunyi sebuah hadis shahih Bukhari). Kartini, hari ini, Kau buka mataku dengan pengajaranmu. Kini, aku tak perlu lagi bertanya, mengapa harus Kartini yang di peringati...???
Setangkai bunga, sekuntum kasih, beribu bahagia berjuta terimakasih kepada teman-teman semua yang telah memberikan award. Semoga, dengan award ini membuatku semakin rajin menulis, menulis dan menulis yang lebih ada makna. Sebelumnya, aku mohon maaf jikalau award yang di berikan aku ambil tidak pada yang semestinya (nah lho..., ko serius gini..???) Ada beberapa yang memberikan syarat tapi...
Karena keterbatasan pemahaman bahasa (kagak tahu bahasa inggris eui, just litle-litle) dan lagi, aku bingung mo meneruskan awardnya ke siapa. Kalau gak di ambil sama yang bersangkutan khan kayaknya kesannya gimana githu...???. Meskipun aku terkadang sering garuk-garuk kepala ketika memikirkan dari mana asal muasal datangnya award. Meskipun aku tergolong lama dalam dunia bloger tapi, aku termasuk langka dalam dunia bloger (ko bisa seh...???) Aku mengenalnya sejak tahun 2007 lagi. Berpandukan seorang sahabat, akhirnya, di buatkanlah aku sebuah blog. Dan award inilah sebagai kado-kado balasan untuk sebuah persahabatan untuk yang telah menghadiahkan aku blog juga kepada sahabat-sahabat semua yang telah memberikannya untukku. Terimakasih banyak to Advintro Maaf banget, telat ambil awardnya dan maaf lagi, aku gak mau nerusin lagi...:) inilah awardnya, dapet dua sekaligus eui... :) Ada lagi, award dari Ikhsan Maaf, awardnya sama, faboulous jadi aku umumin juga bahwa ini award dari juga. Dan beribu-ribu maaf ketika aku tak mampu mengestafetkannya ke 10 orang. Setelah Ikhsan, adalagi award dari black_id yang baik hati, yang mau memberikan award ini buatku. Tentunya, aku tidak seperti yang di tulisnya. Pahlawan yang indah pada nama tapi, tidak pada kenyataannya :) btw, award pertamanya, sama seperti award yang aku terima. Inilah award yang berikan olehnya.
Award yang indah, semoga setelah ini, aku semakin rajin ngeblog.
Dan award seterusnya, dari Wafi Lagi-lagi, aku harus meminta maaf karena tidak mengikuti segala peraturannya. Ini di karenakan birokrasi internal (maksudnya apa yah...???) hehehe.. yah keterbatasan aku yang tidak bisa memberikan sogokan, eh maksunya tidak ada kelebihan berbicara english :D. Sepertinya, aku bukan bloger yang baik. Inilah award yang di berikan Wafi Tapi, terimakasih untuk semua teman dan sahabat yang telah memberikan award. Semoga ukhuwah tetap terjalin di dunia maya. Insya Allah... Dan spesial award ku berikan untuk sahabat sebagai kado motivasi menjelang ujian. Inilah hasil gurat-gurat tanganmu di di dunia maya, ku hadiahkan untukmu (cie... sok begete githu)
Inilah wajah sebuah negeri Negeri kelahiranku, negeri tercinta Negeri Indonesia Yang tiap harinya ada kelaparan Yang tiap harinya ada kemiskinan Yang tiap harinya ada penganiayaan Yang tiap harinya ada pembunuhan Bahkan, Yang tiap harinya ada korupsi Yang tiap harinya penipuan terjadi di seluruh pelosok negeri Dari tukang kuli, sampai orang yang berdasi Di manakah keberkahan sebuah negeri...???
Awal mendapatkan kartu nama ini, aku sempat juga membuat puisi. Entahlah… Ko rasanya lucu dan cukup menyakitkan saat aku mendapatkannya. Bahkan, saat pertama kali aku mengenal dengan orang ini. Namanya cukup singkat, “Enjen” hanya lima huruf khas nama Sunda. Bekerja di Syarikat Rent car, tour and travel di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Berawal dari kepulanganku ke Indonesia setelah merantau di Negeri orang. Sebelum pulang, sebetulnya aku sudah cukup khawatir dan takut mengenai pemerasan di Bandara Soekarno-Hatta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Dalam ketakutan dan kekhawatiran, akhirnya di beli juga tiket pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Berawal dari kepulanganku ke Indonesia setelah merantau di Negeri orang. Sebelum pulang, sebetulnya aku sudah cukup khawatir dan takut mengenai pemerasan di Bandara Soekarno-Hatta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dalam ketakutan dan kekhawatiran, akhirnya di beli juga tiket pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Pun ketika aku bertanya kepada orang-orang yang telah pulang melewatinya. Mereka banyak yang mengaku kecewa dengan birokrasi yang ada di sana. Dalam kebimbangan dan keragu-raguan akhirnya aku pulang juga ke Negeri kelahiran Indonesia. Negeri yang selama dua tahun aku tidak menjenguknya, Negri yang selama aku merantau hanya aku dengar ceritanya. Berbagai nasihat dan petua sudah aku daptkan, termasuk nasihat dari seorang isteri pekerja ekspatriat. Akhirnya, selamatlah aku mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Masih dalam ketakutan, jantung berdetak melebihi biasanya. Aku berusaha serileks mungkin. Dengan gaya baju yang seolah-olah seperti pelajar, siap dengan tas yang melilit di pundak tidak menggambarkan TKW kebanyakan. Nyatanya, aku tetaplah Pahlawan Devisa yang pintu laluannya sudah di sediakan. Terpampang tulisan besar setelah keluar dari pintu imigrasi, “SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA.” Sedikit bangga dengan tulisan itu meskipun dalam hati kadang lucu juga, Pahlawan Devisa tak ubahnya seperti Pahlawan Tanda Jasa. Mereka jarang atau bahkan tidaak begitu di hiraukan. Semuanya berjalan lancar, passport sudah di periksa. Aku berjalan ke arah kanan untuk menuju pintu 3 khusus untuk tenaga kerja yang baru pulang. Kemudia di hantar dengan Bis menuju ke daerah dan kota asal masing-masing. Disinilah semuanya bermula, katanya, sewaktu mendaftar bayar tergantung kepada daerah mana mereka akan tuju. Yang lebih menyedihkan ternyata, setelah mereka sampai di tempat tujuan sopir travel meminta lagi bayaran lebih. Ini tidak hanya menimpa para pekerja rumah tangga, para pekerja Pabrik pun mengalaminya. Dan lagi, para pekerja tidak boleh di jemput oleh keluarganya Dan malangnya, kaka ipar aku sudah menunggu di luar. Dalam berpikir, ada seorang petugas yang mendekati aku dan mengajaknya berbincang. Petugas ini pake seragam dan aku yakin, dia memang pekerja di Bandara Soekarno-Hatta dan bukan oknum yang seperti aku gambarkan. Dari bebeapa dialog, aku ambil kesimpulan memang keluarga tidak boleh menjemput. Tapi anehnya, dia memanggil seorang lagi yang gayanya kaya Pak Polisi tapi berpakaian biasa. Di kenalkannyalah aku dengannya. Ngobrol sebentar, terus orang itu meminta nomor hp kakaku. Kalau aku rasa, ini adalah sebuah sindiket, terorganisir dan banyak orang di dalamnya. Terbukti, sudah ada orang lain yang menghubungi kakaku. Aku pun dah syak, kalau mereka akan meminta uang kepada kakaku. Lama aku menunggu terkadang, suaraku agak meninggi ketika bercakap dengan orang oknum tadi. Yang lebih lucu, ketika dia bilang “Mbak ini cerewet amat, tujuan kita mau menyelamatkan mbak.” Aku pun dengan ketus menukas, “Mau menyelamatkan atau menghanyutkan mas…?” Mendengar kata-kataku oknum itu sepertinya terkejut dan aku yakin dia marah. Aku sich, cuek aja. Lama menunggu, akhirnya tibalah aku keluar dari Bandara tanpa melewati pintu 3. Tapi melewati pintu 2 seperti penumpang yang lainnya bukan melewati pintu para TKI dan ini aku harus bayar mahal. Sebelum beredar, oknum tadi mengingatkan, supaya aku jalan lurus saja dan oknum tadi berada jauh di depanku. Aku semakin syak, ini pasti lewat gak bener bertambahlah kekhawatiran aku. Sebelum beredar dari situ, seorang berseragam biru mencegat oknum tadi, membisikan sesuatu. Terjadi negosiasi akhrinya, oknum tadi mengeluarkan dompetnya dan selembar uang di hulurka kepada orang berseragam biru. Aku berjalan dengan perasaan takut dan was-was. Oknum tadi berjalan jauh di depan. Tiba-tiba seorang berseragam biru mencegatku. Wah tambah deg-degan aku. Dari jauh, oknum tadi memberi isyarat kepada orang berseragam biru. Kemudian, dibiarkannya aku berlalu tanpa sembarang pertanyaan dan pemeriksaan. Sebelum keluar dari situ, ada dua orang yang menjemput ku untuk membawaku ke atas. Dan di depan lift kakaku sudah menunggu. Di bawanya aku terburu-buru. Sebelum menaiki taksi, terjadi lagi adegan salaman yang meberi arti, aku rasa mereka memberikan uang. AKu lihat tukang sapu di Bandara, sepertinya dia sudah faham dengan apa yang berlaku. Naiklah aku bersama dengan kakaku ke taksi. Sebauh taksi Bandara, cantik mobilnya APV. Tidak lama kemudian taksi pun jalan, di sebelah sopir duduk seorang lagi yang aku tidak kenal. Setelah lama berjalan, nyatanya kita hanya di ajak keliling Bandara. Kemudian balik lagi ke tempat semula. Ah, sungguh ironis! Ternyata mereka bekerja sama untuk mengaut uang para TKI yang baru pulang. Kita saling bertekak, aku marah. Yang herannya, kaka ipar aku nih nyantai aja. Dia nih emang low profile abis. Kalau mau keluar dari Bandara ini, kita harus bayar Rp.250.000. Waduh, pelik bin ajaib asli mahal banget fakir aku. Aku tanya ke kakaku, berapa tadi dia kasih uang ke oknum tadi. Nyatanya, sudah Rp.700.000 dia berikan kepada oknum tadi. Aku semakin kesal. Untuk meluahkan kekesalan aku, aku pun bertepuk tangan dan berkata, “Horeee….. Aku kena tipu…” Tak ayal, mereka semakin marah agaknya. Dari pada ribut, akhirnya aku putusin, “dah Pak, anterin kita ke Kalideres.” Akhirnya berjalanlah taksi menuju ke Kalideres. Orang yang duduk di sebelah sopir tadi turun. Masih dengan nada suara yang tinggi dan aku rasa dia marah, Pak sopir bercerita kalau dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu bawa saja. Dalam hati, “gue kaga percaya tuh…” Tapi, aku menenangkan diri, mencoba bersabar, siapa tahu dari sini aku bisa korek, kemana aja duit aku tadi…??? Lama kelamaan, Pak sopir itu bersikap biasa. Aku dan kakaku pun ngobrol seperti biasa. Tidak adalagi nada marah dan kecewa. Akhirnya, aku mempunyai celah untuk bertanya tentang cerita di Bandara. “Pak, aku ikhlasin gak yah uang aku yang tadi?” “Yah, saya mah gak tahu. Itu mah tergantung eneng.” “Uang yang tadi itu, kemana aja yah pak…???” “Yah buat mereka-mereka lah neng. Kalau di ikutkan, tiap orang gak dapet banyak. Karena di bagi banyak orang.” Wah, satu ilmu nih, dalam hati aku. Ternyata ini kerja orang-orang yang gak bertanggung jawab. Memeras duit orang, tanpa memeras keringfat sendiri. Hanya memeras otak, gimana caranya nipu orang. Walah… Moga aja yang mereka makan mendapat keberkahan dari Allah. “Neng, kalau TKI pulang memang gak bisa di jemput. Meskipun eneng punya kenalan orang dalam aturannya tetap begitu. Sejak keputusan Presidan melarang anggota keluarga menjemput TKI.” Pak Sopir berusaha menjelaskan. “Tadi neng di minta berapa?” “Tujuh ratus ribu Pak…” “Itu di kira murah neng, kadang ada lebih mahal.” Ujarnya. Aih, kasihan amat yah nasib Pahlawan Devisa nih… Mobil terus berjalan menerobos kesesakan lalu lintas. Meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta yang mengoreskan sedikit luka di hati kecilku. Ah, kenapa setelah di Negeri sendiri aku justeru harus di tipu?. Kenapa di saat memasuki Negara sendiri aku harus mengeluarkan beribu-ribu. Duhai Allah, inilah wajah bangsaku…??? Di mana wajah dan gambaran sebuah negeri yang loh jinawi..??? di mana cerita nenek moyang kita yang sopan antun dan menghargai…??? Negeriku sudah berwarna-warni. Dicampuri tidak hanya oleh asap polutan dan kekotoran tapi di warnai juga oleh sifat dan kekotoran manusianya. Wahai Allah… adakah keberkahan di Negeri ini…??? Berbagai soalan bermunculan di benakku. Pak Sopir masih bercerita, katanya pernah juga ada TKW dari Lampung yang menangis sampai terguling-guling di Bandara. Entahlah… aku pun heran dengan para oknum. Mungkin, mereka menyangka para TKW yang baru pulang itu banyak uangnya. Hakikatnya, tidak seperti itu. Ada yang pulang dengan hanya membawa uang beberapa juta saja. Uang mereka sudah di kirimkan tiap bulannya. Di tengah-tengah perjalanan Pak Sopir menghulurkan kartu namanya. Aku terima aja. Aku simpan, siapa tahu aku ke Bandara lagi. Kalideres semakin dekat, kami pun semakin akrab dengan Pak Sopir. Tapi, kami meminta di turunkan di Kebon Nanas. Sampailah kami di Kebon nanas. Pak Sopir menepikan mobilnya. Aku memberikan sekeping coklat Cadbury kepada kakaku, untuk Pak Sopir. Kakaku menghulurkannya ke depan. Pak Sopir begitu berterimakasih. Sementara kakaku turun mencari bis, Aku menunggu di dalam mobil. Selesai parkir Pak Sopir berucap, “Neng, jangan nyangka Bapak nipu yah. Bapak juga nyari uang untuk keluarga. Bapak mah kerja aja. Gak tahu apa.” Ujarnya. Aku tidak menyangka Pak Sopir akan berkata demikian. “Iya pak, saya faham.” Sedih dan terharu mendengar kata-katanya. Kalaulah birokrasi di Negara kita berjalan dengan sempurna, tentunya tidak adalagi keragu-raguan dalam bekerja. Aku rasa, Pak Sopir mungkin tidak enak hati dengan apa yang berlaku. Dan aku yakin, dia orang yang baik. Bis jurusan Merak sudah datang. Aku pun turun dari mobil tak lupa ucapan maaf dan terimakasih aku ucapkan kepada Pak Sopir. Kakaku bersalam dengan Pak Sopir. Kami pun menaiki Bis jurusan Merak. Teringat kata pakar motivasi favoritku, “orang jahat, tidak akan berbuat jahat kepada orang jahat, tentunya dia akan mencari orang baik sebagai korbannya.” Alhamdulilah, Terimakasih Ya Allah… Engkau telah selamatkan aku. Sesungguhnya, dari Engkaulah datangnya semua kebaikan. Dan segala keburukan itu datangnya dari aku, manusia yang lemah.
Selalunya, aku mendapat julukan sensitif, tukang ngambek atau paling banter, sentimentil... Sungguh kasihan diriku. tapi, apa jadinya ketika aku di katakan orang yang selalu protes dan berfikir, agak "kekirian" nah lho... bingung aku, sungguh aku bingung... Dan juga di katakan, seperti para TKW Hongkong (Waduh... tambah pusing aku mikirnya) Tapi, apa iya harus di fikir...???
Sejatinya, dalam teori motivasi ada dua bentuk teori (katanya HM. Tuah, pakar motivasi) teori motivasi primer dan motivasi sekunder (halah, ko malah ngomongin ekonomi seh...?? tersier nya ada gak...?? :D) kembali ke topik. Sebetulnya, kalimat yang di katakan bahwa aku tukang protes dan berfikir "kiri" (meskipun sebenernya aku tidak tahu apa yang di maksud "kiri" yang sebenarnya). Kalimat-kalimat tadi bisa di jadikan penyemangat atau lebih tepatnya motivasi sekunder. Ia datang bukan dalam bentuk dukungan langsung tapi, ia memberi makna pada setiap kalimatnya. Haruskah aku terpuruk dengan kata-kata itu atau, aku bangun tegak berdiri menjadi diri sendiri. Berfikir tentang "kiri yang di maksud, aku betul-betul bingung. Setahuku, dalam tulisan-tulisan ku aku tak banyak protes atau pemberontakan (ko kayaknya serius banget yah...?? :) peace atuh...) Dalam beberapa kali posting tulisan, hanya ada beberapa yang aku berusaha mempertahankan hak-hak ku sebagai pembantu rumah tangga. Itupun tak banyak. Itu, just tulisan. yang lain, gak ada dan aku, tidak pernah mengikuti demo!. hehehe... Tapi, kata-kata itu bener-bener jadi spirit buatku. Alhamdulilah masih ada yang mengingatkan... Kalau tentang TKW Hongkong, aku di samakan ama mereka. Yah jelas jauh beda. Khan aku dah bilang di atas mereka more segalanya, more expert, more educated n more advance. Kalau aku mengenali mereka, memang banyak. Pertama sekali, aku tahu tentang mbak Susan mantan ketua FLP Hongkong yang pertam (2004) dialah motivator sekunder aku (aku gak pernah ketemu soalnya), di lanjutkan dengan perkenalan-perkenalan berikutnya, Mell saliha dari sebuah milis, Nia kenal di Friendster, Indri, Aini, Mbak Ida, mba Rie Rie dan mungkin ada beberapa lagi yang tak ku sebut. Mereka semua, adalah motivator-motivator ku. Hikmah di sebalik silaturrahmi. Bersyukur, karena-Nyalah pertemuan ini ada. Semoga selalu saling bisa mnegingatkan dan nasihat menasihati dalam kebaikan, Insya Allah...Allahumma Amin..
Inilah pesta yang di tunggu-tunggu, sebuah pesta buku. Kalau tidak ada aral melintang, inilah kali ke empat aku mengikutinya. Terbayang berbagai slide-slide memoar ku ketika awal-awal aku dulu sampai di Malaysia. Pesta buku, ku datangi setelah aku baru masuk empat bulan berada di negeri jiran ini. Langkah-langkah kecil ini akan kembali ke sana, menyusuri lorong-lorong PWTC, mencari dan meneliti helaian demi helaian buku yang tersusun rapi. Juga sesekali mengira dan membelek dompet, "cukupkah uangku...???" :)
Beberapa kenangan lucu di pesta buku masih ku simpan. Tahun pertama, aku pergi dengan anak majikanku, dengan harap-harap cemas, tangan tak terlepas, juga duit yang ngepas (maklum, masih baru jadi, belum dapet gaji) beruntung ketika menantu majikanku memberikan aku uang. Aku yang masih baru, tanpa fikir panjang, langsung menghabiskan uang tiu untuk belanja. Peristiwa lucu di pesta buku saat itu, aku di tawarin suruh nulis novel untuk DBP (Katanya, aku ada bakat) Gubrak...!!! aku nyengir kuda aja :D sambil ngeloyor pergi. Tahun ke dua, lumayan banyak aku membeli buku. Sayangnya, aku menghabiskan banyak uang hanya di satu penerbit, ALAF 21. Hasilnya, aku ngiler2 saat melihat gerai-gerai lainnya. Tahun ke tiga, inilah kali pertama aku membeli buku betul-betul lupa lautan dan daratan :). Kantongku langsung kering. Ah, tak mengapa, mungkin ia akan berguna kelak... Sangat sulit mengatasi hobi membeli buku. padahal, aku jarang sekali membacanya. Tak sedikit juga buku yang aku beli di tahun-tahun sebelumnya masih tersusun indah tak tersentuh sesiapa :(. Helah ku berkata, kalau pembelian buku juga bisa sebagai amal jariyah kelak, semoga bisa di pertanggungjawabkan. Aku jadi teringat teguran majikan ku ketika pesta buku tahun pertama dulu. Setelah membongkar plastik buku yang aku bawa, majikanku berujar, "Awak, beli buku banyak-banyak nanti, pulang nak bawa buku je ke...???!." nadanya kesal. Aku yakin, dia marah dengan aku. Tapi, lama kelamaan dia mahfum dengan hobiku. Tak mengapa ketika aku pulang ke Indonesia hanya membawa lembar-lembar dan tumpukan buku. Mungkin, ia lebih baik ketika aku harus pulang hanya membawa helaian-helaian cerita dan berita tentang duka dan air mata nasib para tenaga kerja wanita yang tak terbela atau lebih buruknya, pulang hanya membawa nama. Naudzubillah...
TPS 11, sunyi...
Kalau banyak yang sedang menghitung hasil suara pemilu kemarin, apasalahnya, kita hitung juga surat suara yang tidak terpakai, surat suara yang di buang begitu saja, surat suara yang hanya di silang depannya tanpa di buka. Agaknya, mungkinkah ada hitungan akurat untuk itu...??? yah, kalau aku sih, sekedar melihat dari beberapa TPS saja, yang ada di depan mata. Begitu banyak pembaziran yang terbuang, duit yang melayang begitu saja berjuta-juta. Padahal, sepertinya negeri kita sedang terlunta dengan kemiskinan yang nyata. Meskipun dapat di manupulasikan.
Ngecek di DPT, ada gak namanya di situ...???
Saat memantau sebuah TPS (11) di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, aku cukup terkejut dengan pemilih yang mendatangi TPS-TPS. Sangat sedikit, jauh melebihi dari yang terdaftar. Di buku pendaftaran, tercatat 2000 suara terdaftar di TPS 11. Menyaksikan berjalannya waktu, setelah pembukaan satu jam lambat dari yang di jadwalkan, satu demi satu pengundi mulai berdatangan. Sangat di sayangkan ketika ramai orang yang kembali ke rumah setelah jauh-jauh datang dari berbagai daerah. Ada kesalah informasi, banyak yang mengundi pos tapi, tidak ada pemberitahuan sebeleumnya. Atau mengundi di TPS lain tapi, datangnya ke SIK. Tak sedikit juga yang marah-marah atau mengeluarkan sumpah serapah. Sungguh memprihatinkan... Melihat para pekerja KPPLN kasihan juga, ada yang melampiaskan amarahnya di depan mereka. Ada seorang bapak-bapak, dengan nafas turun naik menahan marah dan kelelahan ngantri di DPT ternyata, namanya tiada di sana. Bapak itu mengeluh, mengepalkan tangan dan pelan bergumam, "Kalau gini, ngapain saya jauh-jauh datang?. Buat apa milih...???" Aku tersenyum melihatnya, tak mampu berkata apa-apa. Sabar pak, ini sebuah proses dalam hati aku berujar. Tak sedikit juga yang sabar dengan segala peraturannya...
Yang sabar pun ada...
Hari beranjak siang tapi para pengundi tak juga bertamabh. Kertas suara pun tak beranjak berkurang. Aku mengeluh menyaksikan ini. Berepa juta di habiskan untuk membuat surat suara. Tapi, ia terlonggok begitu saja. Berapa juta biaya pengiriman untuk keluar negeri tapi, ia tak berguna. Semoga pemilu tahun depan tidak ada insiden yang sama...
Surat suara yang tak terpakai, banyak banget....
Sekedar mencongkak dan mengira-ngira surat suara yang tak berguna. Aku bertanya kepada petugas, berapa jumlah yang terdaftar dalam TPS 11. Rupa-rupanya sampai 2000 orang. Jumlah yang sangat besar... Mencorat-coret di kertas dengan harga satu kertas surat suara sekitar Rp. 2000 berapa agaknya kerugian negara...??? Sampai sore, para pengundi masih sepi. Sampai TPS di tutup jam empat waktu Malaysia, suara yang masuk, hanya 109 dari 2000 suara terdaftar. Masya Allah... begitu banyak yang terbuang. 1891 surat kalau di kalikan dengan harga Rp.2000/lembar berapa agaknya...@2000x1891= Rp. 3.782.000. Itu baru satu TPS. Innalillah... betul-betul sebuag pembaziran (Aku tidak tahu pasti harga kertas surat suara. Ada yang tahu...???) Aku mulai keliling mengunjungi TPS-TPS lain. Hasilnya tetap sama, hampir 2000 yang terdaftar tapi hanya beberapa suara saja yang mampu masuk ke kotak pengundian. Aku kembali mengeluh... TPS yang aku duduki ternyata, merupakan terbanyak suaranya. TPS 10, 83 orang, dan TPS-TPS lainnya tidak jauh beda. Berapa juta terbuang percuma hanya untuk kertas suara?
Belum buat ini lagi, begitu sayang ketika banyak yang terbuang Ini gimana....???? Aku berharap, pemilihan presiden nanti, tidak ada lagi insiden seperti ini...
Lagi bingung binti keder menghitung suara undi pemilu kemarin. Padahal, cuma satu TPS. Coba kalau banyak...??? huhuhu... gak kuku aku... :D. Kalau bolak-balik catetan, dari awal mulai sampai berakhir tidak begitu banyak pemilih yang menyalurkan aspirasinya. Fatwan haram untuk golput, sepertinya membuat mereka tetap bergeming dengan pendirian masing-masing. Atau entah warga sendiri yang tak terdaftar
Ada sebuah kisah, kisah yang cukup lucu dan melucukan :D. Sewaktu my best prend memperkenalkan aku dengan best prendnya lagi, prendnya ini gak tahu kalau aku nih cewek :D maka, di panggilah aku dengan sebutan "Bang" :)) oalah... mo marah yah gak bisa, wong dia gak ngelihat aku. Yah, aku cueks aza... Tapi, esok-esoknya, best prend aku pun sering ngeledekin aku dengan panggilan mas Anaz (huh, asli ngebetein) But Peace prend... Cerita punya cerita, setelah pemilu sudah menjelang tiba bertanyalah aku pada sang murobi, tentang pendataanku di pemilu sudah terdaftar apa belum...??? Murobiku menganjurkan aku untuk membuka situs KBRI. Maka, berburulah aku ke situs KBRI. Mencari dan meneliti satu namaku dan nomr passportku. Alih-alih berburu, ku temukan juga nomor passport dan namaku. Tapi,...
Sepertinya ada yang pelik, ada yang aneh... nama ku betul, nomor passport juga betul tapi... pas ke jenis kelamin...??? Ko bisa sih..??? mosok..?? tertulis laki-laki!!! Gubrak... Gedebuk.. Prang...aneh... aneh... Ko bisa, ko bisa... Aku cengar cengir sendiri (ko bisa yah...?? nanya lagi) Lebih aneh lagi, ketika beberapa hari yang lalu surat dari PPLN datang ko nama, nomor passport dan identitas lainnya betul. Waduh2... (ko bisa yah...??? nanya lagi...???) Sepertinya, ini sebuah keanehan...??? Tapi, apakah bisa di siasat...??? Kalau aku baca di butir-butir peraturan KPU sepertinya...??? (waduh, kebanyakan nih...) bingung.. Tapi, yang lebih aneh, ko masih ada yang kampanye lewat sms yah...?? Apa ini bisa di jadikan bukti juga...?? rakor kemarin, pemantau pemilu harus jeli dan teliti. Tapi, aku ko jadi merinding sendiri. Sepertinya, aku tidak begitu jeli. Dan tidak berani.
Heran, entah dari mana asalnya cerita award di blog. Aku keder juga (maklum, baru di dunia bloging :D). Waktu baru tahu tentang award, aku mikir, "mereka, dapet dari mana yah...???". Semakin aku berburu blog, ko sepertinya semakin banyak yang dapet (aku mikir lagi, ko aku gak pernah dapet yah...???) Kesian deh gue...:D. Tanpa di duga-duga, tanpa di sangka-sangka setelah kasus pencurian sendal berhasil dua hari yang lalu, kemudian, hari ini aku malah dapet award dari sang pemilik sendal jepit (aneh... aneh...) Inilah dunia bloging, adakalanya, keakraban dan kedekatan tercipta dengan sendirinya. Meskipun tanpa bicara dan tatap muka. Sepertinya, bait-bait cerita sudah menjalin ukhuwah dengan sendirinya (kuasamu ya Allah, yang menggerakan hati manusia)
Terimakasih pada yang telah memberikan award. Ada makna tersendiri di balik kepingan gambar award. Secawan minuman, satu buah buku dan dua keping pena. Pena yang mengingatkan ku pada dunia kepenulisan, pena yang mekasa aku untuk mewujudkan keinginan juga pena yang memacu aku untuk selalu menulis, menulis dan menulis di tengah rasa kemalasan. Pe-ernya, fiuh, ada-ada aja, dari dulu, ane kagak suka ngerjain pe-er biasanya, suka nyontek kanan kiri. Tapi di sini, kepada siapa mau mencontek...??? maksain diri aja untuk conteng kana kiri :D. Apa tadi soalnya...??? (ngabur, buka blog yang ngasih pr). Alhamdulilah... ketemu. "Apa sih enaknya ngeblog...???". Wah, bisa beragam jawaban nih. Buat aku sih, enaknya ngeblog... 1. Melatih aku menulis 2. Biar bisa belajar nulis 3. Memaksa diri biar tetep nulis (eh, ko itu2 juga sih...) 4. Nambah-nambah wawasan 5. Biar bisa tetep belajar 6. Pembantu, kudu punya ilmu jadi, ngapain harus malu. Teruslah ngeblog dan berburu... 7. Itu aja dulu... :) Award dan pe-er ini akan aku estafetkan dan ku berikan kepada temen-temansku yang baik-baik dan super baik buatku. Buat Mas Nopy di Surabaya, Syafwan di Kalimantan, Dillah di Kalimantan dan Arwani di...??? (dirimu di mana yah...?? di dunia mayakah...???)
Sore tadi, di selingi lebat dan derasnya air hujan yang mencurah-curah ke bumi dengan sangat terpaksa dan atas sebuah ide aku mencuri foto sendal jepit sang santri. Ide itu muncul, semenjak tengah hari lagi. Niatnya, ingin di pasang di face book. Biar keren, biar lucu, juga biar seru. (Aneh, wong nyuri ko yak foto sendal jepit) :)) Setelah di teliti lebih jelas, aku terdekeh-dekeh di sela-sela hujan dan petir ribut melanda (Alhamdulilah ada di kamar jadi, gak basah kuyup). sendal jepit itu, mereknya swallow warna biru, siap dengan gembok dan rantai terlilit (idene, luar biasa kreatif) Tapi, sepertinya, yang nyuri lebih kreatif lagi (menutup mulut, menahan gelak). Setelah proses pencurian berhasil, cepat-cepat ku upload dalam face book. Melirik jam, aku mengeluh. Waktu cepatnya bergulir. Janji sore ini, harus di penuhi. Aku mengeluh dalam hati, kalaulah aku tidak menrima tawarannya... Tentunya, aku tidak di landa perasaan serba tak kena. Hujan pun masih mencurah dengan lebatnya. Aku kembali menimbang-nimbang sama ada pergi, atau tidak...???
Berdasarkan sebaris janji bermateraikan satelit. Akhirnya, aku memaksa diri untuk datang menepati janji. Meskipun dengan ragu-ragu, meskipun dengan benak bertanya beribu, "Mampukah aku untuk ini semua?." Jam lima yang di tetapkan, aku baru saja beranjak dari rumah. Rinai hujan masih terasa, basah bumi menggenag di semua tempat yang ku lewati. Beruntung, ketika Ina, dengan baik hatinya mau mengantarku ke stasiun Putra (makasih banyak Na... :)) Alhamdulilah, aku tidak kehujanan... Jam lima enam belas menit, aku baru naik Kereta api. Resah, gelisah melanda. Sungguh aku canggung dan ragu untuk menemuinya. Sungguh aku merasa tidak pantas untuk berada di lingkunannya. Arrggghhh... Rasanya, aku ingin kembali ke rumah, mengeram diri dalam kamar, berburu blog, atau sekedar menulis bait-bait cerita yang terkadang tak bernyawa. Mengusir galau, ku buka tasku menarik novel "Hafalan Shalat Delisa" belum beberapa paragraf aku baca, derai-derai air mata mulai menggenang, ku tahan tak ku biarkan dia mengalir. Buru-buru aku mengusap mata. Malu, takut terlihat orang. Aku pun merogoh saku tas menarik hp, mengirim pesan, kalau aku lambat datang karena turun hujan (sebuah alasan yang klise padahal, kalau bisa aku ingin berkata, "Aku tidak mau datang ke pertemuan itu.") Tapi, ia hanya ada di ujung lidah sana tidak terucap juga tidak tertulis dalam ruang-ruang hp yang masih bersisa. Cuaca betul-betul gelap dan mendung menggayut langit Kuala Lumpur. Penumpangpun tidak begitu ramai mendekati stasiun wangsa Maju, sepertinya, orang-orang lebih suka mengurung dirinya dalam rumah. Aku kembali bertanya dalam hati, "Kenapa aku menyanggupi tawaran itu? sebuah tawaran yang aku pun tak tahu...???" Kereta api semakin mendekati KL Central. Aku pasrah aja, Bissmillah ku ucap perlahan, pasrah, tawakal sama Allah. Mungkin, aku bisa belajar banyak dari sini, aku menghibur diri. Sampai saja di KL Central, aku terus melilau ke sekeliling , mencari food court. Sepertinya, pernah nampak hanya saja aku tak pernah singgah. Cepat-cepat ku gapai hp dalam tas. Ku tekan nama yang ku hafal di luar kepala. "Assalamu'alaikum. Pak, food court itu di mana yah?." Tanpa titik, tanpa koma dan tanpa jeda aku mempercepat pembicaraan. "Di lantai tiga. Naik aja." Jawab talian di hujung sana. "Ok, makasih." cepat-cepat aku menutup hp dan cepat-cepat juga aku berjalan ke tangga menaiki lantai tiga. Sampai saja di depan Food Court, aku sungguh terkejut. Aku mengurungkan niat untuk masuk. Di meja paling depan, dekat pintu utama beberapa lelaki yang aku yakin akan ku temui melingkar rapi di sebuah meja panjang. Lemes dan tidak bertenaga aku saat itu. Aku ingin pulang, cepat-cepat pulang. rasanya, aku memang tidak pantas berada di sini. Tapi, bukankah hujan lebat sudah ku redah...??? untuk apa aku jauh-jauh datang berontak hatiku berbisik. Ku ambil lagi hp, ku sms nomor pak Ikbal, pura-pura bertanya, di kusri mana beliau duduk?. Sms di balas, cukup singkat, "Masuk saja." Dengan hati yang berdebar, tenaga yang hampir hilang akhirnya, ku beranikan diri untuk menemui mereka (ternyata, ada perempuannya juga). Alhamdulilah, mereka menerima ku dengan baik. Sepertinya, Pak Ikbal sudah memberikan prolog tentang diriku kepada teman-temannya. Kecanggungan itu tersingkir, keraguan itu terusir. Nyatanya, bathinku tetap gemuruh. Aku betul-betul merasa tidak pantas berada di sana. Kalaulah aku boleh membenamkan diri ke lapisan bumi, mungkin aku akan lakukannya. Di situ aku tidak mengenali sesiapa, wajah pak ikbal yang baru pertama ku temu setelah perkenalan melalui sms dan imel. Tapi, di situ ada wajah yang ku kenal, bang Irvan ketua Persatuan pelajar malaysia di Indonesia. Ya Allah, kenapa aku berada di tempat ini...??? Aku kembali mengeluh. Sodoran kertas tentang komisi KPU dan segelas teh O ais tak juga menyejukan hati dan perasaanku. Terketar-ketar aku menerima copian komisi KPU. Sungguh tugas yang berat buatku. Aku di tawarkan untuk menjadi pemantau pemilu. Ah, rasanya, aku tidak sanggup untuk melakukannya... ya Allah, mudahkanlah ia bagi hamba... Teringat hasil curian fotoku sore tadi. Kalau di ibaratkan posisiku, ibarat sendal jepit yang di rantai dan gembok keadaanku. Aku bukan siapa-siapa hanya pekerja buruh migran, terasa beban ketika di tugaskan. (Apa hubungannya yah ama sendal jepit...???) aku ko jadi mikir, kualat kali yah nyuri2 sendal santri...???
Berawal dari sebuah milis, di ikuti dengan keprihatinan, di niatkan untuk semakin banyak menambah wawasan akhirnya, aku terbersit juga ingin mendirikan KBA. Maunya, mengikuti groupnya mbak Sita cs tapi, apakan daya beliau-beliau nun jauh di Jakarta sana. Akhirnya, dengan sedikit keberanian dan meminta pertolongan mbak Sita untuk woro-woro di milis terbukalah peluang untuk mendirikan Klub Buku Asma Nadia wilayah Kuala Lumpur. Aku yang semakin prihatin melihat koleksi buku semakin berkurang betul-betul menggebu untuk membuat Klub Buku. Tapi, angan ku tidak semudah kenyataan. tatkala keinginan sudah tercanang rupanya halangan pun menghadang. Aku bingung, kepada siapa aku membuat penawaran. Memikir memeras otak, akhirnya dan alhamdulilah ku dapatkan ide untuk menggaet temen-temen Kilang Sungai way. Dengan sedikit sosialisasi dan perkenalan akhirnya, kesempatan untuk menjelaskan apa dan bagaimana KBA terlaksana juga. Meskipun ia jauh di ujung sana, meskipun harus berjam-jam ketika menanti bis. Sabtu, 21 Februari aku bertemu muka dengan para calon-calon anggota KBA :)
KBA di bentuk, buku di tentukan. Awalnya, kita akan membaca Jilbab Traveler. Tapi, sayang sekali ketika buku yang ku pesan tak juga ada jalan untuk sampai di Kuala Lumpur. Pak Asep yang pulang ke Jakarta pun ada sedikit halangan untuk kembali cepat-cepat ke KL. Bingung, buntu juga menghantui fikiran. Sepertinya, kalau tidak ada langkah yang di ambil, ia akan menjadi sia-sia belaka. Karena jarak yang cukup jauh dengan teman-teman dan hanya komunikas sms yang aku lakukan waktu berjalan begitu saja tanpa menentukan langkah apa-apa. Kesimpulannya saat 22 Maret aku kembali mengunjungi teman-teman di Sungai way. Keputusan itu di buat, rencana pun tersusun. Awalnya, kita memilih novel Syahadat Cinta untuk KBA pertama. Tapi, sayang sekali ketika buku yang di cari tiada di tokonya. Teman-teman merubah pilihan, kepada sebuah buku motivasi "Ku Jemput Jodohku", karya Fadlan Al-ikhwani penerbit Pro-U Media. Buku yang sangat sederhana bentuknya tapi, begitu banyak manfaatnya. Bukan buku sastra seperti biasanya tapi, ia sebuah motivasi luar biasa. Insya Allah... KBA pertama, akan di adakan kembali pada tanggal 10 April 2009 bertempat di Gombak. Semoga ia menjadi tirai untuk membuka semangat dan kreativitas untuk menuju spiritualitas. Ya Allah, semoga ini dalam Ridho-Mu juga untuk menuju keikhlasan-Mu.
Suatu ketika, saat aku sedang ngobrol di dunia maya dengan seorang editor partime di sebuah penerbitan beliau menganggapku, kalau aku orang yang berbakat menulis. Aku bingung mendengar kalimat dan kata-katanya. Aku berfikir dan memikir, betulkah aku berbakat...??? Pada hakikatnya, aku memang suka menulis dan pernah memiliki keinginan untuk jadi penulis. Tapi, nyatanya, sampai saat ini tak satupun karya yang betul-betul aku buat. (Fiuhhh...) Mendengar perkataan bapak tadi, aku merenungkan kata-katanya. Betulkan menulis membutuhkan bakat...??? Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Bakat memang perlu dalam menulis tapi, ia tak begitu penting untuk bekal sebagai seorang penulis. Minat dan usahalah yang menjadi penting dan sangat di butuhkan. Kepada pak Purwadi Sadim, terimakasih atas kalimat-kalimatnya. Mungkin, aku memang memiliki bakat hanya saja, ia harus di asah betul-betul. Satu lagi yang ku ingat pesan bapak, Insya Allah akan senantiasa berburu karya sastra dan karya-karya penulis lainnya. Untuk aku belajar, mempelajari juga mempraktekan. Insya Allah... Semangatttt...!!!
Mengikuti jejak bang Fy dan mbak Imul, akhirnya, aku mengirimkan karya ke situs eramuslim. Alhamdulilah, tulisan yang ku kirim tadi malam pagi ini sudah ku baca. Aku tak begitu gembira karena, tulisan itu sudah terperap lama. Tapi, tulisan itu dapat memacu semngatku untuk terus menulis dan menulis lagi. Tidak mau merungut karena tiada bayaran tapi, aku akan merunut dengan mengikuti karya-karya lainnya, Insya Allah... Wajah sebuah Negeri, ku kirim dalam oase iman. Semoga info yang ku bawakan bermanfaat dan tidak menambah momok wajah bangsa :). Untuk mbak Imul, terimakasih banyak atas infonya juga dukungannya. Ayo wujudkan mimpi kita untuk menulis sebuah buku. Rasanya, saya sudah punya ide yang jitu mbak...:)
Kali ini, aku mo buat copasan, kayaknya keren deh isunya. tapi, menurutku, gak blackberry aja yang bikain penyakit, laptop juga tuh... :) ini dapet copas, dari milis, asli, gak kreatif banget ;D Ngga tau bener apa nggak? *Perubahan Gaya Hidup Karena Blackberry* Ini ada info dari teman saya, yang mengambil dari survey (beneran) yang dilakukan di negera-negara yang sedang dilanda demam Blackberry. Katanya, ada perubahan gaya hidup dan kebiasaan dari para pengguna Blackberry. Yaitu : 1. Jadi rela disuruh antri. Semakin panjang antrian, semakin tenang, tidak menunjukkan gejala kekesalan sama sekali. 2. Yang tadinya ngedumel saat macet, sekarang tenaaaaang aja. 3. Jadi berharap kena lampu merah. Kalau lampu berubah hijau, malahan kesel dan tetap nekad jawabin email/chatting.
4. Jadi sering diklaksonin orang lain, sampai sudah ada yang jual bumper sticker dengan tulisan "Harap bersabar.... .Blackberry user inside..." 5. Lebih senang disupirin daripada nyetir sendiri. Bahkan rela naik busway ketimbang harus nyupir sendiri. 6. Jadi jarang marah, tapi sering dimarahin orang.... karena diajak ngomong nggak nyambung... 7. Jadi sering lupa mencet tombol lift. Harusnya naik malah turun, dan sering kebablasan.. . 8. Kalau lagi ngantri dengan nomor... suka lupa sama antriannya. Ketika sadar sudah kelewat...dengan tenang ambil nomor antrian lagi... 9. Langganan koran dan majalah... masih tertumpuk rapi, tak terbaca 10. Kalau jalan sering kejedug... karena mata tertuju ke layar BB. 11.. Jadi suka senyum-senyum sendiri... 12. Kalau di tempat umum suka panik cari stop kontak...karena batere sudah sekarat...
Nama saya Arwa, umur saya 6 tahun. Saya sekolah di iman readers. saya tinggal di gombak. saya anak ke dua dari 3 adik beradik. saya punya adik sepupu, arif dan nabila. abang saya namanya amir. ini tulisan arwa yang pertama.
.
Aku gi sedih Kenapa? Aku salah faham dengan sahabat-sahabatku Terus? Yah sekarang dah genjatan senjata sih Aku sudah mengibarkan bendera putih Tinggal tunggu keputusan Aku gi duka Kenapa? Aku merasa bukan sahabat yang baik Ko bisa? Karena sahabat ku berkata, Aku selalu merasa di butuhkan Dan aku katanya tidak membutuhkannya Terus? Yah aku menyangkal kalimatnya Aku sudah bicara, bukan itu maksudku Aku hanya manusia biasa Aku gi lara Kenapa? Aku sedang berusaha menjadi sahabat Yang baik tapi... Bagaimana caranya? kalau sudah tidak ada yang mempercayaiku? Mengapa ku tak bertanya pada sahabatmu? Aku malu Kenapa harus malu? Aku merasa mereka sudah tidak membutuhanku Itulah kelemahanmu Selalu berburuk sangka Bukan itu, Lalu? Maukah mereka menerimaku? Kenapa kau tidak kembali menanyakannya? Aku masih malu Itu seburuk-buruk kelemahanmu Kau malu tidak pada tempatnya Baiklah... Aku akan mengunjungi sahabatku Aku akan membawa sejambak cerita Aku akan mengambil sekuntum tulisan Untuk ku jadikan buah tangan Ku persembahkan sebagai kado persahabatan
Rasanya, hampir semua dari kita, pernah melakukan kesalahan. Baik yang di sengaja, tidak di sengaja dan bahkan, kadang di sengaja-sengaja tidak. Dalam kehidupan, kita pun tak lepas dari namanya pertemuan, perkenalan, pertemanan juga persahabatan. Yang terakhir, mungkin sulit untuk di dapatkan tetapi, begitu mudah untuk di ucapkan. Mencari sahabat, tidak semudah menemukan kata-katanya. Pun untuk menjadi sahabat, tidak gampang untuk melaksanakannya. tatkala sudah menemukan sahabat, mampukah kita juga menjadi sahabat untuknya?. Pertanyaan itu, saat ini selalu menggayut fikiranku. Aku sedang di liputi rasa bersalah, aku bukan sahabat yang baik. Aku seorang yang menggunakan egios di tangga utama dan tidak memperdulikan sekitarnya. Kembali aku di rudung duka, memikir juga aku manusia biasa. yang memiliki sensitiviti juga tak sedikit rasa senrimentil yang cukup tinggi. Teguran sahabatku, menjadi cambuk dan pelitaku saat ini. Cambuk yang mampu memukul segala keegoan dan kesombongan diri. Pelita yang mampu memberikan penerangan pada perbaikan diri. Aku sama sekali tidak berfikir kalau aku selalu di butuhkan dan tidak membutuhkan para sahabatku. Kalau itu persepsi sahabatku, aku mohon maaf yang sedalam-dalamnya.
Aku tahu ketika semuanya dalam proses pencarian jati diri, termasuk diri ku sendiri. Tapi, tahukah sahabat, diam mu terkadang membuat ku sedih. Teguranku yang tak berbalas membuatku berfikir berbagai-bagai, juga segala ocehanku yang tidak di hiraukan membuatku menyimpan butir-butir duka yang tersimpan. Dan aku tak sadar ketika ia membeku di hujung sudut hatiku. Aku tidak tahu ketika hati ini serasa tawar saja, tanpa rasa juga tiada deria. Aku juga kerap bertanya, kemanakah semua rasa persahabatan, di manakah jiwa saling membutuhkan...??? Aku kembali mencari dan menggalinya. Aku tidak menyalahkan sesiapa dalam hal ini. Kalau kau berkata aku seperti anak kecil, mungkin aku akan menjawab, sekarang jiwaku lebih kerdil dari anak kecil. Sering aku merasa seperti orang baru dalam kehidupan sahabat ku (mungkin itu perasaan saja). Tapi, aku banyak mengambil hikmah dari kejadian ini. Ada ketikanya saat aku melakukan kesalahan itu proses untuk aku belajar arti sebuah kebaikan. Buat yang telah menegurku, terimakasih ku ucapkan. Semoga tali silaturrahmi ini kekal juga dalam Ridhonya... Ku menghulur tangan, memohon kemaafan juga tali persahabatan. Saat ini, mencoba menyendiri, menyepi untuk perbaikan diri. Insya Allah... Ya Allah, ketika semua kehendak-Mu kau tetapkan, maka izinkanlah hamba untuk menerimanya dengan ikhlas.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Teman-teman

Sering Dibaca

  • Minyak Gamat Bukan Hanya untuk Obat Luka
  • Kemerdekaan Bagi OYPMK Bagaimana?
  • Bagaimana Cara Membuat KTKLN?
  • Orenji, Salah Satu Restoran Jepang di Cilegon
  • Resep Sambal Terong Dicabein

Harta Karun

  • ►  2022 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (41)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2017 (21)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (63)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (23)
    • ►  Januari (13)
  • ►  2015 (137)
    • ►  Desember (25)
    • ►  November (20)
    • ►  Oktober (34)
    • ►  September (19)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (9)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2014 (52)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (4)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (74)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2011 (87)
    • ►  Desember (10)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (18)
    • ►  September (13)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2010 (141)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (17)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (17)
    • ►  Februari (18)
    • ►  Januari (23)
  • ▼  2009 (124)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (17)
    • ►  Juni (14)
    • ►  Mei (16)
    • ▼  April (20)
      • Minggu Kelabu, Berhadiah Buku
      • Waktu SD, Aku O'on
      • Tatkala Rakyat Jelata Bercerita
      • Mengapa Harus Kartini...???
      • Menuai Award, Untuk Kado Persahabatan
      • Wajah Sebuah Negeri
      • Aku Dan Potret TKW Hongkong
      • Pesta Buku
      • Yuk Ngitung Surat Suara...???
      • Menghitung Suara
      • Intai, Intai Pemilu
      • Award, Oh Award
      • Buruh Sendal Jepit Migran (kuwalat)
      • Kronologi Pembentukan KBA
      • Menulis, Bakat Atau Minat...???
      • Tatkala Tulisan Ku di Muat di Media Internet
      • Perubahan Gaya Hidup Karena Blackberry
      • Tulisan Arwa
      • Kado Persahabatan
      • Sahabatkah Aku...???
    • ►  Maret (12)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (105)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (16)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (22)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2007 (30)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (2)

Kategori

Ads Blogger Hibah Buku Celoteh Cerpen Featured GayaTravel KBO komunitas Murai Perjalanan Piknik Buku Pojok Anaz Reportase resep reveiw Semestarian Serial Sosok Teman TKW TripGratisan Volunteer

Catatan Anazkia By OddThemes | Turatea.com