Kemerdekaan Bagi OYPMK Bagaimana?


Mimi Institute adalah sebuah lembaga yang berdiri sejak tahun 2009. Tujuan Mimi Institute ialah ingin membiasakan masyarakat berinteraksi dengan teman-teman disabilitas dengan ragam yang berbeda satu sama lain. Sehingga, masyarakat bisa secara akses dengan teman-teman disabilitas. Beberapa kegiatan Mimi Institute, konsultasi, edukasi untuk anak dan remaja berkebutuhan khusus baik disabilitas tunanetra, autis dan sebagainya. Tak hanya itu, edukasi ke masyarakat dilakukan dengan mengadakan seminar-seminar, publikasi melalui penulisan buku, modul, untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat apa itu disabilitas dan bagaimana cara berinteraksi yang akses kepada teman-teman penyandang disabilitas.

Ada banyak disabilitas dan OYPMK yang datang ke Mimi Institute untuk melakukan kaunseling untuk bagaimana mereka mengetahui kebutuhannya. Terutama pada penyadaran hak asasi mereka.

Menurut Dokter Mimi, Ketika orang tahu dia mengalami disabilitas baik karena kusta maupun bukan karena kusta sering kali yang dialami adalah kaget. Dokter Mimi, mencontohkan dirinya sendiri Ketika awal mula mengalami kebutaan. Ia terkejut, merasa tidak ada masa depan. Menurutnya, stigmasisasi pada diri sendiri otomatis akan muncul. Merasa menjadi orang yang tidak berguna, atau yang lebih fatal lagi keluarga atau masyarakat akan merasa repot oleh dirinya sendiri.

Hal ini, menurut Dokter Mimi yang akan menimbulkan hal-hal psikis kepada teman-teman disabilitas.

Saya jadi teringat seorang teman Ketika di Tempo. Suatu hari, ketika kami makan siang ada yang mendekati kami. Saya dan Mbak Martha. Teman tersebut, Namanya Cheta. Cheta sudah makan di luar, jadi tidak ikut makan Bersama kami. Itu kali pertama saya mengenal Cheta. Saya menawarkan beberapa makanan kepada Cheta, tapi dia tidak mau. Setelahnya, baru saya tahu kalua Cheta mengidap penyakit gula.

Setelahnya, saya tidak bertemu Cheta yang ternyata satu ruangan dengan saya di lantai tiga. Lebih kurang sebulan kemudian, saya bertemu Cheta. Penyakit gula yang diidapnya sudah menyerang matanya. Cheta, mengalami kebutaan. Betapa cepat waktu berlalu.

Tapi, yang bikin saya bangga, Cheta cepat bangkit dari keterpurukan. Ia masih aktif menulis. Tak hanya itu, ia juga aktif berkegiatan dalam komunitas tunanetra. Bahkan, sekarang ia sedang berada di luar negeri untuk menempuh beasiswa.

Kembali ke Dokter Mimi, ia mengalami kebutaan di usia 17 tahun. Menurutnya, Ketika pertama kali mengetahui ia mengalami kebutaan dunia runtuh untuknya. Menurut Dokter Mimi, selama ini jarang sekali ada awarnes mengenai dampak penyakit yang diderita. Misalnya, ada hal lain yang bisa dibuat Ketika mengalami kelumpuhan, atau kebutaan. Baginya, persiapan-persiapan psikis ini jauh lebih penting dibandingkan obat semata-mata.

“Misalnya, dari kursi roda kita bisa melakukan apa. Dan setelah buta, kitab isa belajar huruf braile.” Terang Dokter Mimi dalam obrolan melalui YouTube di KBR yang dilaksanakan pada 24 Agustus 2022. Menurutnya, hal tersebut yang membuatnya merasa tidak merdeka.

Mendengar cerita Dokter Mimi, juga melihat Cheta, mereka menjadi hebat dan luar biasa denga napa yang sudah digariskan oleh Allah. Semoga, ke depan di Indonesia semakin banyak dan semakin terbuka informasi mengenai akses untuk disabilitas dan OYPMK.

Selain Dokter Mimi, ada juga Mbak Marsinah Dede, selaku Orang Yang Pernah Menderita Kusta (OYPMK), aktivis wanita dan difabel. Dalam siaran langsungnya, Mbak Dede dikatakan hampir lupa sebagai penyintas OYPMK. Dalam keluarga besar Mbak Dede, ia bisa diterima dengan baik. Tak pernah dibeda-bedakan. Tapi, ketika ia terjun ke masyarakat langsung, ia mengalami perisakan. Tidak hanya oleh teman-temannya, tapi juga gurunya. Beruntung, Mbak Dede mempunyai orang tua yang baik, yang terus ke sekolah untuk menegur gurunya.

Di masyarakat kita, bahkan di tempat-tempat yang masih minim akses pendidikan, penerimaan para disabilitas dan OYPMK memang masih sangat minim. Semoga dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang 77 ini pemerintah bisa membuat regulasi yang jelas untuk para disabilitas, juga memberikan buku panduan khusus untuk masyarakat umum bagaimana menerima mereka selayaknya orang biasa. Karena memang tidak ada yang berbeda.

 

 


Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P