Disabilitas dan OPYMK Memiliki Hak yang Sama Mengenai Kesehatan Seksual



"Membicarakan tentang aspek seksualitas, hak kesehatan seksual dan reproduksi merupakan hak bagi setiap orang tak terkecuali disabilitas, dan OPYMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta). Hak tersebut sudah diatur dalam undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Meski kesehatan seksual dan reproduksi belum dapat porsi besar untuk dipahami oleh teman-teman disabilitas dan OPMYK, masih ada gap bahwa orang tua tidak mengajarkan kepada remaja disabilitas tentang kesehatan seksual dan reproduksi dengan benar. Karena dianggap remaja disabilitas tidak butuh pengetahuan seksual dan bagi OPYMK dianggap tidak bisa menikah dan terpenuhi hak reproduksinya sehingga mereka tidak cukup paham serta pemberian layanan yang belum menjangkau."

Menyimak sesaat kalimat pembuka Mas Rizal Wijaya, host di talkshow online KBR mengenai "Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas" membuat pikiran saya jauh ke masa lalu selama mengikuti talkshow tersebut.

Dulu, di kampung saya ada seorang hamba Allah yang sedikit mengalami keterbelakangan mental. Dia cenderung terasing dari kawan-kawan normal lainnya. Saya tak pernah melihatnya ke bangku sekolah, atau mengaji petang bersama kami. Tapi, dia juga akhirnya menikah dengan lelaki berkebutuhan khusus. Saya lupa anaknya berapa, saya pun tak mengikuti perkembangannya lagi ketika sudah merantau ke kota. Terakhir, kabar yang saya dengar anak dia yang pertama kerja di kota tak jauh dari Desa. Tapi, pulangnya dia tidak sendiri. Karena ada anak kecil yang menemaninya. 

Ya, dia pulang membawa anak. Tak perlu diceritakan kronologinya bagaimana, tapi terkadang di kampung-kampung yang jauh dari akses pendidikan memadai, orang-orang dengan disabilitas ini lebih tidak diperhatikan. Baik oleh lingkungan sekitar, maupun dinas kesehatan terkait.

Dari talkshow yang dibuat oleh KBR, saya baru tahu kalau puskesmas menyediakan pelayanan-pelayan untuk remaja yang baru mengenal atau akan datang bulan baik yang normal, maupun disabilitas. Apa saja yang perlu diketahui untuk remaja disabilitas dan OPYMK ini? Menyimak paparan dari tiga narasumber dengan latar belakang yang lebih kurang sama, tapi beda generasi ini sangat menarik. Ada Kak Nona Ruhel Yabloy, Project officer HKSR, NLR Indonesia. Mbak Westiani Agustin Founder Biyung Indonesia juga Adik Wihelmina Ice, Remaja Champion Program HKSR.


Menurut Kak Nona, selama ini kita berbicara mengenai hak kesehatan seksual dan reproduksi itu selalu menjadi hal tabu. Tabu untuk dibicarakan. Karena sebagian besar beranggapan "Dia akan tahu dengan sendirinya seiring berkembangnya usia. Padahal, menurut Kak Nona kita harus mempersiapkan anak dan remaja apalagi, khusus dengan remaja disabilitas. Bahwa mereka juga punya hak, karena mereka ada hak untuk melihat dan mengetahui apa yang terjadi. Misalnya, menstruasi. Terkadang, itu tidak disampaikan kepada anak perempuan. Atau, mimpi basah lebih sering tidak dijelaskan. Sehingga anak-anak dengan disabilittas dan OPYMK itu menjadi korban kekerasan, menjadi korban pelecehan, karena itu saling berkaitan.

Langsung makdeg, inget kasus hamba Allah di kampung saya. Sudah lebih dari 20 tahun, tapi sampai hari ini tak jarang ada keterbatasan informasi mengenai akses kesehatan seksual dan reproduksi. Tambah Kak Nona, informasi memang banyak, tapi, yang betul itu sedikit dibandingkan yang tak betulnya. Selain dari orang tua, sekolah juga salah satu tempat untuk pengenalan dan pembelajaran mengenai hak kesehatan seksual.

Apa saja hak kesehatan seksual dan reproduksi yang perlu diketahui oleh remaja disabilitas dan OPYMK?

Pubertas. Bagaimana anak mau berbicara atau menjaga dirinya dia dari kekerasan seksual dan pelecehan. Terkadang, kita melihat bahwa pelecehan seksual itu terjadi, anak takut untuk berbicara. Takut untuk melaporkan. Jadi, orang dewasa mau mengajarkan bagaimana dia berani bersuara ketika dia menjadi korban. Seterusnya, adalah relationship. Karena anak disabiltas sekalipun bisa menjalin hubungan. (contohnya, kasus di atas yang saya tulis).

Mbak Westiani, dari Biyung Foundation menjelaskan mengenai apa iti Biyung Foundation dan pola kerja mereka. Biyung Foundation adalah sebuah aktivitas dan usaha sosial yang bergerak di lingkup isu perempuan dan lingkungan. Lahir di Jogja, sejak tahun 2018. Misi mereka, untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan pelestarian bumi.


 




Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P