Mengurangi Gas Emisi Dimulai dari Diri Sendiri



"Bumi ini bukan warisan. Tapi adalah amanah Allah dan kita diwajibkan untuk menjaga amanah ini dengan baik. Itu yang pertama. Terus yang kedua, bahwa bumi ini sementara. Kita hidup di dunia ini sementara, tidak akan selamanya. Dan kemudian harus ingat, bahwa setelah kita ini ada generasi manusia yang lain. Oleh karena itu, bumi yang diamanahkan oleh Allah ini bukan untuk kita. Tetapi, harus kita wariskan kembali kepada generasi selanjutnya. Jangan sampai, kita meninggalkan kerusakan. Meninggalkan bumi yang tidak layak huni lagi oleh umat manusia bahkan makhluk-makhluk yang lain. Yang ketiga, Islam sangat menganjurkan, bagaimana kita hidup ramah dengan lingkungan."

Baris-baris kalimat di atas, disampaikan oleh Pak Marzuki Wahid. Rektor Studi Islam Fahmina (ISIF) dan pengurus Lembaga Perguruan Tinggi Nahdatul Ulama). Dalam podcast Ramadan Vibes Season 2 KBR didukung oleh Greenpeace Indonesia.

Menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan, saya langung melihat ke dalam diri, sudah sejauh mana saya sebagai umat manusia, beragama Islam pula menjaga bumi dengan baik? Beliaupun menambahkan, menurutnya ada sebuah hadis Nabi di mana manusia itu bersekutu dengan tiga hal; "Pertama dengan rumput, yang kedua dengan air, dan yang ketiga dengan api." Tiga hal tersebut, merupakan kebutuhan primer dari umat manusia yang tidak bisa dilepaskan.

Sederhananya, dalam kehidupan sehari-hari ada hal-hal kecil dan sederhana yang bisa kita buat. Misalnya, menggunakan public transport ketika pergi ke mana-mana, berjalan kaki (jika memungkinkan)  ketika menuju public transport dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Dalam podcast tersebut, ada tiga narasumber. Dua di antaranya selain Pak Marzuki Wahid adalah Mbak Rizkiana Sidqiyatul Hamdani (Peneliti Urban Greenpeace Indonesia) dan Mas Fahmi Saimima (Ketua Umum Bike to Work)

Ketiganya, berbicara dari latar belakang yang berbeda. Kenapa saya membidik Pak Marzuki Wahid sebagai pembuka? Karena ternyata dalam agama Islam sendiri, Allah sudah mewanti-wanti bahwa bumi dans egala isi ini titipan. Bukan warisan yang dengan mudah kita keruk habis-habisan. Pun ada dalam Alquran, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." QS Ar-Rum ayat 41.

Dalam world inequality report 2021, kualitas udara di Indonesia ada di peringkat ke 17. Negara dengan kualitas udara khususnya partikel PM2.5 terburuk di dunia. Menurut Mbak Rizkiana, menanggapi pencemaran udara terburuk di Indonesia ini ada banyak faktor. Indonesia ini negara yang luas, pencemarannya pun beragam. Setiap wilayah, memiliki pencemarannya sendiri. Yang didominasi hutan, isunya ialah pembakaran hutan dan segala macam. Sedangkan pada podcast tersebut, Mbak Rizkiana berbicara dalam konteks urban, yang pencemaran udaranya di kota. 

Kenapa kita harus aware dengan perbedaan ini? Karena menurut beliau kalau kita nggak aware, nanti obrolannya jadi jaka sembung, alias nggak nyambung. Hehehehe. Sebab nanti dampaknya akan tidak nyambung ke penanganan, juga ke bentuk aksinya. 

Apa itu PM25? PM25 ialah singkatan dari Particulate Meter, atau bagian dari pencemar udara. 25 adalah ukurannya. Jadi, 25 itu 2,5 micrometer. Kecil banget, kan? Milimeter saja sudah keceil, ini micro. Jadi, kalau mau bayangin itu, satu helai rambut dan PM25 itu adalah 3% persen dari kecilnya satu helai rambut. Aduh! Ini pas nonton dan dengerin podcast otak awak tak sampai ngebayanginnya :(

Menurut Mbak Rizkiana, dari hasil inventarisasi emisi udara di perkotaan itu 47-52% berasal dari kanlpot kendaraan. Itu kenapa dalam podcastnya, ia menekankan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke public transport dan perbanyak jalan kaki. Tapi, bukan berarti harus menambah infrastruktur secara terus menerus. Meski memerlukan faktor lain untuk bisa menikmati kemudahan jalan kaki. Paling tidak, aman menurut beliau. Dan Ramadan ini menurut Mbak Rizkiana menjadi momen refleksi, sejauh mana kita bisa terlibat dalam Pengurangan emisi ini.

Mas Fahmi, sebagai ketua umum Bike to Work Indonesia bilang kalau beliau tidak anti kendaraan. Menurutnya, ini adalah proses bijak dalam menggunakan transportasi. Karena mereka tetap berprinsip, dalam visi mereka ingin memberikan kualitas hidup yang layak bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, tak semestinya kita harus senantiasa bersepeda atau berjalan kaki. Menurut Mas Fahmi, ada hal yang lebih besar lagi, misalnya, menggunakan transportasi umum. Dan dari tempat transportasi umum itu bisa terintegrasi sepeda atau akses jalan kaki dengan baik itu pun sangat bermanfaat. Sampai sekarang, Mas Fahmi masih menggunakan kendaraan pribadi untuk ke tempat kerja, karena mobilitas di kerjaannya tinggi.

Prinsip bike to work menurut Mas Fahmi, ingin berupaya membuat kualitas hidup yang lebih baik dengan sepeda.

Dari tiga percakapan narasumber di atas yang disampaikan melalui podcast KBR, saling kait mengait. Pak Marzuki dari sisi agama, Mbak Rizkiana dan Mas Fahmi dari perilaku hidup sehari-hari. Cocok. Lengkap. Hanya kitanya mau berubah atau enggak, minimal dari hal kecil dulu. Ke warung yang tak begitu jauh, nggak usah naik motor. Kalau masih bisa dijangkau jalan kaki, ya jalan. Eiya, sekarang saya sudah selalu jalan kalau mau ke stasiun. Jarak, 1, 8KM. Sejak pandemi, semua terasa dekat saat jalan kaki. Itu, kalau niat tentu saja. Meski mirisnya, jalanan kita itu tak ramah untuk pejalan kaki. Di mana-mana... Di Jakarta, di puast-pusat kota mendingan. Tapi, coba kalau ke pinggiran :(


Kategori:

Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P