Membaca Komedi-komedi Abdur Rasyad di Merajut Indonesia


 

"Saya itu besar dengan Raskin, Teman-teman. Mudah-mudahan ada yang relate dengan ini, ya menonton di sini. Karena saya biasa kalau ngomong begini, ada banyak yang tak mengaku miskin. Begitu. Tidak pernah tahu raskin."

Dengan wajah sedikit senyum Bang Abdur Arsyad membawakan materi stand up comedy di salah satu YTube markeplace Indonesia. Saya menontonnya tertawa terbahak. Padahal, saya pribadi sangat emosi ketika membicarakan raskin beberapa tahun lalu. 

"Teman-teman, raskin itu beras miskin. Biasanya diperuntukkan untuk keluarga miskin, dan saya besar dengan itu. dari kecil, dari saya bisa makan nasi sampai saya tamat SMA, selalu makan raskin. Tubuh saya kalau dibelah, isinya semua kebijakan pemerintah."

Saya lagi-lagi tertawa. Bisa-bisanya dia becanda seperti itu.

"Karena menyedihkan sekali itu teman-teman. Teman-teman, kalau pernah makan raskin itu menyedihkan. Harganya memang murah, tapi kondisinya pun mengerikan."

Pernah lihat raskin? Kalau belum, yah berarti nggak relate sama Bang Abdur. Saya pribadi, sangat relate kalau ngomongin raskin. Saya dulu mikir, raskin ini bentuk penghinaan kepada rakyat miskin. Itu kenapa saya emosi kenapa harus ada raskin. Tapi, di tangan Bang Abdur, ngomongin raskin bisa jadi bahan tawa, tanpa menghilangkan esensi bahwa dia sedang mengkritik pemerintah.

Atau, dalam potongan-potongan tayangan bang Abdur Rasyad di acara stand up comedy Kompas TV, saya menemukan dialog-dialog ini.

"Di Indonesia itu, jasa pendidikan itu, tidak masuk dalam PPN, tidak kena PPN. Tapi barang pendidikan, sepatu, seragam, buku, tas, itu kena PPN. Ini sama seperti kalau tidur gratis, tapi kalau tutup mata bayar."

Satu studio, tertawa terbahak diiringi tepuk tangan. Atau, masih dalam potongan-potongan ketika ia tampil di Kompas TV di mana ia debut sebagau runner up,

"Teman-teman, Indonesia itu emmang terlalu terpusat di Jakarta. Terlalu terpusat di Jakarta. Makanya, kejahatan itu juga datang ke sini, begitu. Pencuri itu, teman-teman, di Timur itu dapat tangkap itu pasti dapat pukul sampai busuk. Sampai busuk," audiens di studio tertawa. Dengan mengenakan baju adat Betawi, bang Arsyad jelas-jelas sedang menyindir kota nomor satu di Indonesia. "pencuri di sini, itu dapat foto, dapat syuting, wawancara, masuk TV, masuk penjara fasilitas mewah."

Tepuk gemuruh kembali ia dapatkan. Dan terang-terang, ia sedang menyindir koruptor.

Kamis, 21 April 2022 saya mengikuti IG Live Bincang Mimdan #6 dengan tema, Bicara Budaya dan Kritik Sosial Lewat Komedi di Instagram @merajut_indonesia. Dengan Teh Evi sebagai hostnya, IG live ini dimulai pada pukul delapan malam. IG live bincang Mimdan malam itu diadakan oleh PANDI, pengelola nama domain Internet Indonesia. Bincang Mimdan, merupakan acara dari pandi lewat program Merajut Indonesia, Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN)

Tema yang diangkat malam itu bertujuan  sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan budaya, agar budaya Indonesia dapat bergaung di tingkat lokal, nasional maupun global. Begitupun kritik sosial, menurut teh Evi kritik sosial sebagai salah satu upaya penyaluran gagasan kebudayaan yang lebih baik.

Satu jam, sarat dengan ilmu pengetahuan. Terima kasih, teh Evi ^_^


Budaya, merupakan hasil akal dan budi manusia, yang berkembang pada sebuah masyarakat. Oleh sebab itu, budaya sangat dinamis, mengingat banyak faktor yang memengaruhinya serta dinamika yang dialami dalam perjalanan waktu. Budaya, ialah objek yang sangat dekat dengan manusia. Tetapi, berbicara soal budaya ada kalanya dianggap kuno, kompleks, berat dan membosankan. Sedangkan kritik sosial, ialah sarana mengkomunikasikan gagasan baru disamping menilai gagasan lama untuk sebuah perubahan sosial. Kritik sosial berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial, yang berarti memengaruhi budaya. Namun sayang, kritik acap kali dianggap sebagai kecaman. Padahal, bersifat membangun.

Prolog yang disampaikan teh Evi ketika live IG baru dimulai sangat panjang. Bagaimana dnegan gamblang ia menjelaskan fungsi dan kedudukan budaya pada kritik sosial. Lantas, bagaimana pandangan bang Arsyad mengenai Budaya dan Kritik Sosial melalui komedi yang kerap ia lontarkan di panggung-panggung stand up sebagais eorang komedian?

Berbeda ketika di panggung, live malam itu Bang Abdur terlihat canggung. Bukan karena ia tak memahami arah yang dibicarakan, tapi ia terlihat hati-hati ketika berbicara. Ketika di panggung sebelum tampil, Bang Abdur sudah terbiasa menyiapkan konten apa yang akan disampaikan. Sementara, live IG malam itu ia terlihat ngobrol santai.

Bagi Bang Abdur, salah satu bekal kritik sosial dalam komedinya ialah banyak membaca buku. Karena kritik sosial berhubungan langsung dengan masyarakat. Bang Abdur juga percaya, jika komedi bisa mengubah tingkah laku. Masuk akal dengan apa yang disampaikan. Saya pribadi, ketika menonton stand upnya pun acap berkerut kening dan mengamini yang disampaikan, meski dibalut gelak ketawa.

Selain rajin membaca buku, Bang Abdur menghindari topik yang ia tidak ketahui. Itu kenapa dia lebih sering membawakan materi stand up yang palingd ekat dengan dirinya. Meski, balik lagi saya hampir nggak percaya kalau keluarganya dia adalah penerima raskin. Etapi, saya nggak boleh gitu. Hiks.

Dalam percakapan menjelang akhir, Bang Abdur bilang bahwa setiap karya akan menemukan penikmatnya sendiri. Komedi, menurut dia kalau kita rasa lucu kita maunya pengen cepat-cepat cerita ke teman. Kririk sosial, ketika kita merasakan sesuatu kita ingin membicarakan dengan orang lain.


Kategori:

Bagikan:

1 komentar

  1. Yang soal PPN barang pendidikan emang bener sih. Sekolah gratis tapi seragam, buku, dll mahal.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P