Aya Canina dan Karya-karyanya

Ia Meminjam Wajah Puisi. Gambar saya ambi dari laman Medium Aya



Kau datang tatkala sinar senjaku redup
dan pamit ketika purnamaku penuh seutuhnya

Kau yang singgah tapi tak sungguh
Kau yang singgah tapi tak sungguh

Kukira kau rumah
Nyatanya kau cuma kusewa
Dari tubuh seorang perempuan
Yang memintamu untuk pulang

Penggalan lagu "Kukira Kau Rumah"

Pagi ini saya mengunjungi akun Instagramnya @Ayacanina setelah melihat kata "Amigdala" menduduki trending teratas Twitter Indonesia. Tidak, saya tidak akan membahas masalah yang sedang Aya hadapi. Tapi saya baru tahu kalau Aya, mantan vokalis Amigdala ini indah dalam menyusun kata. Selesai membaca cerita Instagramnya, saya mencari puisi-puisi lain yang dibuat oleh Aya. 

Bocah Lelaki

Telah kujumpai seorang bocah lelaki
yang meminta bintang sebagai penunjuk arah.
Bagai Nuh yang agung, ia kumpulkan
keledai-keledai muda yang kesepian.
Ia sendiri kedinginan.
Tapi seorang juru selamat mesti terus
perkasa dan berbahaya
meski harus menanggung duka
meski layang-layangnya putus
dan nyangkut di pohon mangga.

Saya membayangkan puisi di atas dideklamasikan. Di baris ke enam, tentu saya akan mendengar kalimat yang begitu panjang dibacakan tanpa jeda, sampai di akhirnya. Apalagi, kalau puisi ini dibawakan oleh Kang Peri. Aya, menyusun puisi ini dengan pembuka kalimat yang baku, tapi menutup akhirnya dengan bahasa pasar. Saya nggak pernah kebayang kalau kalimat "Nyangkut" akan indah jika dibuat puisi. Tapi, Aya, bisa melakukannya.

Saya pun sampai di laman Mediumnya Aya. Kembali membaca beberapa judul tulisannya, mencerna kalimat demi kalimat yang ditulisnya. Tetap, bagi saya tulisan Aya itu bagus. Meski itu cenderung tendensius karena gaya tulisan Aya, adalah jenis genre yang saya suka.

Tiap kali kita di kafe ini, kamu suka sekali memandangi bunga-bunga telanjang diguyur hujan dari jendela. Aku tidak memelihara bunga. Kamu juga suka mengikuti langkah pejalan kaki yang lewat di depanmu, sampai mereka hilang di ujung jalan. Aku tidak suka berjalan kaki. Scoopy-ku tidak sampai menimbulkan polusi suara dan body-nya masih bagus. Selain itu, kamu tidak suka membaca buku. Kamu bilang buku itu versi bertele-tele dari mulut orang-orang.

“Kalau aku bisa mendengarkan dengan utuh kultum lima anak muda calon sarjana di kafe ini, itu sama saja dengan kamu membaca Sapiens berhari-hari.”

Aku hanya butuh satu, kamu lima.

“Setidaknya mereka yang lebih bertanggung jawab.”

Maksudnya?

“Kalau aku salah tangkap, kesalahan ada pada penjelasan mereka. Kalau aku baca buku, kesalahannya ada pada cara membacaku.”

Bah! Konyol. Yang terakhir itu semakin membuatku tidak percaya omong kosong aku mencintaimu yang keluar dari mulut bau tembakaumu itu.



Disebabkan membaca penggalan-penggalan puisi dia yang ada di dunia maya, juga tulisannya yang ada di laman Medium, tiba-tiba saya ingin membeli buku puisinya Aya. Ia Meminjam Wajah Puisi.

Aya, masih sangat muda. Ia perempuan cerdas, tapi dalam lingkup lingkarannya, masih juga menjadi korban kekerasan oleh pacarnya sendiri. Lebih menyedihkan lagi, pacar dan lingkarannya itu adalah orang-orang yang menyuarakan dan menolak kekerasan seksual.

Semoga Aya dikuatkan. 

 

Kategori:

Bagikan:

1 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P