Betapa Inginnya Mengumrohkan Ibu Saya



Bapak, meninggal ketika saya masih duduk di bangku SMA. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Saat itu, kakak belum lama menikah. Sementara saya hidup mandiri dengan bekerja sambil sekolah. Dua adik saya, tinggal bersama orang tua. Sejak bapak meninggal, hidup ibu sedikit lintang pungkang. Sebelum itu, ibu kerap bekerja membantu bapak dengan menjadi asisten rumah tangga (ART). Pekerjaan itu dilakoni ibu tanpa mengenal lelah. 

Sejak bapak meninggal, ibu kembali menggeluti pekerjaannya sebagai ART di Jakarta. Sementara kedua adik bersama dengan kakak di Cilegon. Kalau saya, sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua. Tak lama, ibu saya kembali ke Cilegon dan berkumpul dengan adik-adik. Sementara saya, kembali merantau entah kemana-mana. Saya memang termasuk anak yang jarang berkumpul bersama keluarga. Merantau dari satu tempat ke tempat lain. Sampai terkadang lupa, cebisan-cebisan memori mengenai perjalanan ibu setelah bapak tiada.

Sepanjang menjadi orang tua tunggal, ibu tak pernah terdetik untuk kembali menikah lagi. Sebagai anak, masing-masing dari kami memberikan peluang kepada ibu jika memang masih ada jodohnya ibu dibolehkan menikah lagi. Tapi, ibu selalu menolak. Bahkan, ibu selalu bilang dengan orang yang belum begitu kenal kalau suaminya masih ada. 

Perjalanan ibu selama menjadi orang tua tunggal tentu saja tidak mudah. Dengan keterbatasan pendidikan, yang ibu saya buat untuk menopang hidup tentu saja tak jauh dari pekerjaan informal sebagai ART. Sampai suatu hari, ketika saya masih di Malaysia kakak memberi kabar kalau ibu hendak berjualan nasi uduk. 

Saya mendukung niat ibu. Dengan modal yang tak begitu banyak, ibu memulai usahanya. Mulanya, hanya menjual uduk saja. Tapi kemudian, ada banyak orang yang menitipkan dagangannya. Setelah saya pulang dan kerap melihat aktivitas ibu, saya acap dibuat terpana. Bagaimana seorang perempuan tanpa pendidikan tinggi ini memberdayakan sesama perempuan lainnya. Gimana ceritanya kalau cuma dagang uduk saja bisa memberdayakan perempuan?

Ibu saya, setiap pagi menggelar dagangannya. Jualan di kampung, tentu saja harganya murah-murah saja. Rp5000/bungkusnya. Isinya, tentu saja nasi ditambah dengan beberapa lauk seperti potongan dadar telur, oreg tempe, bihun goreng dan sambal tentu saja. Eh, kerupuk jangan lupa. Harganya iya Rp5000. Tapi, kalau ada orang beli Rp3000-Rp4000 masih dilayanin dengan lauk yang sama. Mak Ai! Murah hati betul ibu saya itu. Ibu hanya menyediakan dua jenis gorengan, bakwan dan tempe. Kata ibu, biar diisi oleh tetangga makanan lainnya.

Lah, kalau cuma jualan uduk begitu, di mana letak pemberdayaan perempuannya? Nanti dulu, sabar...

Jadi, setelah sekian lama ibu saya berjualan, mulai ada orang-orang yang menitipkan kuenya. Dari mulai risoles, donat, ketan, pisang goreng, martabak mini, bubur sumsum, buras dan macam-macam lagi. Kalau pas pulang dan ngobrol sama ibu, saya acap berbincang-bincang bagaimana para ibu di luaran sana menitipkan dagangannya.

Ada, seorang ibu yang tiap harinya menjual bubur sumsum. Jualannya tak banyak, karena memang modalnya sangat terbatas. Ibu ini, awalnya bukan orang susah. Tapi, roda ekonomi selalu berputar. Beliau pantang menyerah, dengan uang seadanya membuat bubur sumsum. Meski tak banyak, tapi dari uang berjualan itulah ia menggantungkan kehidupan sehari-harinya. Apa sampai ratusan ribu setiap harinya? Tentu saja tak sampai. Bubur yang dibuat sedikit, uang yang didapat pun tentu saja sedikit. Kadang, hanya Rp20,000 saja. Tapi, dari uang itulah ibu tersebut membeli kebutuhan hidup setiap harinya. Kadang, kalau buburnya nggak ada yang beli, sama ibu saya diborong. Trus dikirim ke kakak saya yang suka makan bubur tersebut. Tapi sekarang ibunya lagi libur, lagi di luar kota jaga cucunya.

Risoles. Seorang perempuan muda, setiap harinya membuat risoles tak lebih dari 20 biji. Ditaro di tempat ibu saya. Suaminya ada, tapi yah kerjanya gitu-gitu aja. Balik lagi, uang 20 itulah yang diputar buat kebutuhan hidup sehari-hari.

Kalau ibu penjual buras beda lagi. Jualannya lebih banyak. Yang jualan sudah sepuh. Tapi beliau gigih setiap hari menitipkan jualannya. Untuk tambah-tambah biaya hidup sehari-hari, katanya. Sekarang, ibunya lagi nggak jualan. Sejak suaminya meninggal belum lama, ibunya sering sakit-sakitan. Kabarnya, setelah idul adha ini akan berjualan lagi. Semoga segera jualan lagi. Soalnya burasnya enak.

Penjual ketan, pisang goreng dan sebagainya itu semuanya perempuan. Dulu saya abai dengan aktivitas ibu selama berjualan. Tapi melihat latar belakang siapa saja yang berjualan, saya malah kagum. Roda ekonomi sederhana digerakan dari kalangan bawah. Betapa nilai uang yang nampak tak seberapa itu mampu menghidupi perempuan-perempuan hebat tersebut. Kadang saya mikir, ibu saya ini tanpa sadar juga jadi feminis. Tapi benar-benar di akar rumput. Tanpa ilmu, tanpa teori dan tanpa pahaman-pahaman apapun. Hahahaha... lebay amat ya saya.

Itu baru yang nitip jualan. Ada lagi cerita-cerita ibu yang lain. Ibu saya ini penjual yang murah hati. Ibu selalu melebihkan orang yang beli. Misal ada yang beli gorengan lima, ditambah jadi enam. Atau kalau ada anak pondok beli, selalu ditambahin macam-macam. Malah ada satu anak yang kerap dikasih uduk setiap pagi (sekarang anaknya udah pulang). Kata ibu saya, itu cara dia "menitipkan" anak-anaknya ke alam semesta. Eh, maksudnya gimana? Saya kan jarang di rumah, selalu hidup merata-rata. Jadi, ketika ibu memberi makanan ke pembeli itu ibaratnya lagi ngasih ke saya. Lebih kurangnya begitulah.

Kalau kata kakak saya, itu cara ibu berbahagia. Jadi, biarkan saja, jangan pernah dihitung dengan matematika.

Kalau pas pulang, kadang saya suka iseng merhatiin tangan ibu kalau lagi tidur. Di usianya yang sudah memasuki 59 tahun, tangan ibu nampak mulai keriput. Sering ngerasa takut dan dibuai sayu. Takut kalau tiba-tiba ibu tiada. Takut kalau selama hidup saya, saya tak pernah sekalipun berbakti kepada ibu. Pernah, terdetik di hati kecil kalau ada rezeki, saya ingin berangkatin ibu umroh. Nggak usah saya dulu, saya harus prioritaskan ibu. Meski saya tak tahu, entah dari mana uangnya. Tapi melihat orang-orang yang naik haji katanya harus punya niat dulu, maka itulah niat yang saya tanamkan di hati kecil. Kenapa bukan niat haji sekalian? Usia ibu saya menjelang 60 tahun. Kalau daftarnya sekarang, kapan akan dapat panggilan. Meski sebetulnya, perhitungan manusia terkadang tak sama dengan ketentuan-Nya.

Semoga Allah mengijabah niat saya.


Kategori:

Bagikan:

2 komentar

  1. Aamiin. Semoga keinginan mulia mba Anaz dimudahkan dan diridhai Allah SWT...

    BalasHapus
  2. Kadang ibu2 yang anaknya jauh kalau lihat anak rantau lain yang kesusahan jadi ingat anaknya. Akhirnya dibantu, dengan harapan anaknya sendiri yang sedang merantau juga dibantu/dimudahkan orang.

    Semoga dimudahkan usahanya untuk memberangkatkan ibu umroh ya.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P