Siapakah Gadis dari Desa Jurangmangu Itu?

Foto ini saya ambil dari webnya jurangmangudesa.id.  



Hari masih gelap saat aku dan Simbok keluar rumah. Tanah dan rumput teki yang kami injak basah oleh embun. Ayam berkokok sahut menyahut, langit di sebelah timur agak memerah.

Aku dan Simbok bukan satu-satunya orang yang menyusuri jalanan pagi ini. Di depan kami, di belakang, juga disamping, perempuan-perempuan menggendong tenggok menuju Pasar Ngranget. Kami semua seperti kerbau yang dihela dipagi buta, menuju sumber kehidupan.

Narasi di atas adalah sebuah tulisan dari Okky Madasari dalam novelnya, Entrok. Setting tersebut tentu saja di sebuah kampung yang jauh dari keramaian pada masanya.

Kalau membaca cerita-cerita fiksi dengan latar belakang kampung yang tak ada penerangan listrik, ke pasar jalan kaki dan seumpamanya saya acap dibuai kenangan ketika kecil.

Dulu, waktu masih Sekolah Dasar (SD) di awal tahun 90-an saya pernah mengalami hal serupa.  Jalan kaki ke sekolah. Nggak begitu jauh memang, tapi untuk saat ini jaraknya lumayan bisa mengeluarkan keringat kalau ditempuh. Dalam dua kilo meter sepertinya. Saat itu warga yang memiliki kendaraan juga masih sedikit. Kalau hari pasaran Selasa dan Jumat, jalanan akan lebih ramai. Berbarengan dengan warga yang pergi ke pasar. Saat itu, masih ada warga yang masih membawa tenggok (bakul) ke pasar. Selain tenggok, warga juga membawa tas tenteng sendiri. Ada juga yang membawa hasil bumi. Dari cabai, jagung, kopi, cengkih, pisang, nangka atau tergantung musimnya. Seorang bapak yang memikul kayu bakar pun saya masih mengingatnya.

Selain keriuhan yang saya temui di atas, ada satu sosok yang tiba-tiba saya ingat ketika membaca novelnya Okky Madasari. Seorang gadis berseragam SMA mengusik hati kecil saya. Gadis itu, kabarnya berasal dari desa Jurangmangu. Mengingat jarak, Jurangmangu cukup jauh dari kampung saya. Ia betul-betul berada di kaki gunung Slamet. Gadis berseragam SMA tersebut postur tubuhnya tinggi, rambutnya ikal dan langkah kakinya panjang-panjang. Bagi saya saat itu, gambaran menjadi dewasa adalah gadis tersebut. Tasnya selempang, roknya di bawah lutut, kaos kaki putihnya sampai ke betis. Betul-betul idola dalam hati kecil saya.

Saat itu, saya hanya menganguminya. Tapi sekarang ketika mengingatnya saya lebih takjub lagi. Kira-kira dia jam berapa dari rumahnya ketika jam enam atau setengah tujuh pagi dia sudah berada di desa Karangsari? Tergambar juga dia melewati jalanan yang gelap karena saat itu belum ada listrik. Kabarnya, gadis tersebut sekolah di SMA Negeri Satu Pemalang. Entah betul, entah tidak. Karena kami memang tak pernah ada komunikasi sama sekali.

Dulu, di kampung halaman orang yang sekolah sampai ke jenjang SMA itu bisa dihitung dengan jari. Mas Slamet, Mbak Arum dan Mas Edi (ada yang di blok wetan, tapi saya lupa namanya). Dan gadis dari desa Jurangmangu itu menjadi tambahan. Meski dia bukan dari desa saya.

Jadi kepikiran gadis itu. Sekarang apa kabar? Kalau ketemu, pengen denger ceritanya selama perjalanan menuju sekolah. Dan kenangan apa yang paling diingatnya. Kabupaten dari desa saya, tentunya masih jauh. Satu kali naik angkot, dan berpindah lagi naik bis. 

Selain gadis tersebut, adajuga satu pria. Tapi saya tak mengingat jelas. Kalau tak salah ingat, pria tersebut mengenakans eragam putih biru. Bukan putih abu-abu. Tapi mereka kerap jalan beriringan.

Dulu, gambaran dewasa bagi saya adalah gadis tersebut. Ternyata kenyataan yang saya temui ketika sudah besar berbeda. Saya tak tumbuh meninggi seperti gadis itu. Postur tubuh saya juga tak jauh berubah semenjak saya merantau dari desa. Tapi, persoalan-persoalan hidup yang saya temui jauh lebih besar dari badan saya. Ahahahaha. Ah! Tapi tak mengapa jika saya masih disapa segala persoalan. Bermakna, saya masih hidup dan menjadi manusia. Kalau hidup saya dikelilingi wijen, tentu saja saya adalah onde-onde. Bukan lagi manusia. Halagh!

Bagikan:

6 komentar

  1. ya ampun mba, aku kira tadi tuh jurangmangu yang deket stasiun jurangmangu tangerang hahhaa. Ternyata cerita novelnya Okky Maddasari yaa. btw, kita kayanya perlu toss virtual deh, badanku juga tak meninggi setelah masuk sekolah menengah atas kayanya hahahha, tapiiii tantangan hiduppnya lumayaan banget yaa sistt hahhaha

    BalasHapus
  2. baca judulnya membuatku ragu baca isinya, khawatir horor. hahaha ...
    eh bapakku dulu ya jalan kaki ke sekolah melewati jalan berliku nan jauh. Berangkatnya abis salat subuh dalam keadaan gelap, belum ada listrik. Salut dengan para pelajar yang semangat menuntut ilmu walau sekolahnya jauuuuh. Yang di kota begini udah gampang ada ojek, harus semangat juga yah.

    BalasHapus
  3. Membaca kata "Jurangmangu" mengingatkan akan nama stasiun kereta. Namum, juga ternyata nama desa ya. Saya saat SD sempat satu tahun sekolah di kota kecil, berjalan kaki beberapa kilo. Belum ada transportasi umum. Hal yang menjadi kenangan tersendiri.

    BalasHapus
  4. Hehehe mba Anaz bisa endingnya. Tapi itu luar biasa ya peejuanganya mau sekolah. Untungnya gak ada orang jahat seperti sekarang. Ampun deh kalau nonton berita krimanal .

    BalasHapus
  5. Semoga bisa bertemu lagi dengan gadis yang dimaksud ya kak, hehe. Serta memang benar, bahwa persoalan yang kita hadapi malah sebenarnya lebih besar dari tubuh kita sendiri hehe. Tapi penyelesaian nya jauh lebih luas dari badan kita

    BalasHapus
  6. Hihi kalo diselimuti gula jadi putri salju ya Nas, kalo dikelilingin meises jadiii donat ala Nanas!

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P