Sulitnya Memahami Bahasa Indonesia dan Malaysia



Sulit? Sulit gimana? 

Dulu, waktu pertama kali datang ke Malaysia satu hal yang membuat saya penasaran adalah perihal bahasa. Dalam kultur sejarah, kita tentunya sama-sama menggunakan bahasa  yang sama. Melayu. Tapi nyatanya, bahasa melayu yang saya temui amat sangat jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. 

Bertemu dengan banyak orang Malaysia membuka wawasan saya kalau sebenarnya muasal bahasa Melayu itu dari Riau. Pertama kali dengar ini kaget. Entah pengetahuan saya yang sempit, atau wawasan saya yang tak luas, tapi saya tahu sejarah ini yah pas ngobrol sama orang KBRI, orang Malaysia dan kang Isjet dari Kompasiana. Waktu itu penasaran. Saya sempat baca artikel entah di mana yang sayangnya saya lupa, dalam perjalanannya ada banyak perkembangan dari bahasa Melayu. Di mana bahasa Indonesia sendiri paling banyak mengalami perubahan dari bahasa Melayu asli.

Kalau melihat orang Brunei, Malaysia dan Singapura ngomong Melayu itu masih ada persamaannya. Nah, coba lihat kalau bahasa Indonesia. Jauh banget eui!
Kembali menilik tentang muasal bahasa melayu, kalau lihat di wikipedia, saya menemukan catatan ini, 


Tanah Asal-Usul Penutur Bahasa Melayu

Catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatra, di wilayah yang sekarang dianggap sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Istilah "Melayu" sendiri berasal dari Kerajaan Minanga (Malayu) yang bertempat di Kabupaten Kampar, Riau.

Sejarahnya juga bukan hanya empat negara saja yang menggunakan bahasa melayu. Karena ada Thailand Selatan, Filipina, Myanmar dan sebagainya. Kalau bahas dan belajar lagi rupanya banyak banget ini jenis-jenis bahasa melayu. Ini mau bahas kesulitan saya aja yang kadang dibuat bingung dengan bahasa Indonesia dan Malaysia. Eh, dulu ngomong-ngomong waktu saya kecil kalau bilang bahasa Indonesia itu melayu. 

"Eh, si Fulan itu ngomongnya cara melayu, ya."

"Si Fulanah bisa ngomong cara melayu, ya."

Kalimat-kalimat tersebut biasanya dilontarkan untuk orang-orang yang baru pulang dari Jakarta. 

Pertama kali tinggal di Malaysia saya puyeng lihat dan dengar orang bacain berita. Jenayah, disabitkan, terbabit, rasuah dan sebagainya terdengar sangat awam di telinga. Demi mengobati rasa penasaran akhirnya saya mulai mencari referensi bacaan buat memperkaya kosa kata.

Membaca Majalah Remaja

Ada beberapa majalah yang saya baca. Pertama tentu saja majalah remaja. Penasaran baca majalah ini soale biar tahu gimana bahasa rojak (bahasa gaul) yang dipakai oleh para remaja Malaysia. Ada juga majalah Wanita. Majalah ini terkenal banget di sana. Ada juga majalah lainnya yang saya lupa apa namanya. Yang paling saya ingat ada satu majalah. Namanya majalah I. Isinya keren banget. Informatif dan kaya akan isi pengetahuan umum dan agama. Saya kenal majalah ini dari Bang Hasif, sampai kemudian saya berlanganan sendiri. Ada juga majalah Dewan Bahasa dan Pustaka. Isinya tentu saja perkembangan dunia sastra Malaysia. Di Indonesia, kayak majalah Horisonlah. Tahun 2006, dunia digital belum begitu riuh. Jadi penjualan majalah masih bagus.

Baca Surat Kabar

Abah, kalau beli surat kabar itu sehari bisa tiga jenis. Harian Metro, Berita Harian dan Utusan Malaysia. Nggak cuma Abah, anak-anaknya juga rajin beli surat kabar. Nah, kalau baca surat kabar ini demi mengikuti perkembangan politik dan berita-berita terbaru di sana waktu itu. Balik lagi, ya... Tahun 2006-2012 dunia digital belum seperti sekarang ini.

Baca Buku-buku Melayu

Bersyukurnya, waktu pertama kali saya datang ke rumah Ibu tidurnya itu di ruangan buku. Kayaknya itu ruangan udah lama nggak dipakai. Saya pernah sampai digigit tikus  bahahaha... Ini dulu pernah ditulis di blog. Tapi lupa entah di mana -_-. Besoknya langsung ke dokter :D.

Baca Novel Romantis

Helegh, kayaknya ini genre novel-novel Malaysia kebanyakan romatis. Ini sebenernya punya anak-anak Ibu. Jadi saya numpang baca aja. Awal baca novel itu sebenernya saya banyak nggak paham bahasanya. Ada kalimat degil, comel, alang-alang, kantoi dan banyak lagi. Meski nggak paham, saya paksain baca aja. Dan novel-novel ini pula yang sering dibaca waktu saya baru datang setelah majalah remaja. Apa dengan membaca novel dan majalah remaja saya paham bahasa Melayu? Tentu saja tidak, Maemunah... Biasanya usai baca buku malam-malam, esoknya akan ada banyak pertanyaan kayak gini.

"Ibu, alang-alang itu apa?" Saya kan pas baca ngebayanginnya tumbuhan, rumput liar yang bisa buat foto-foto. Hahahaha...

"Alang alang, dah basah mandi sekali." Aik... Macam pelik aja bunyi.

"Maksudnya gimana?"

"Yah awak tu, kalau dah basah. Baik mandi sekali. Tak paham?" Oik. Saya diam. Mikir lama. Tapi nggak paham juga. 

"Alang-alang itu kalau bahasa Indonesia terlanjur. Macam kamu, semisal udah basah bajunya. Udah mandi aja sekalian." Amboi... Nasib baik ada Kak Ani. Orang Medan yang udah lama tinggal di Malaysia. Pahamlah saya. 

Atau lain hari, saya tanya soalan lain pula dengan Ibu.

"Ibu, degil itu apa?"

"Macam awaklah." Eh, ini bunyi macam lain aja. Di kepala saya degil itu artinya genit. Masa iya saya genit.

Cari punya cari tahu, degil itu artinya keras kepala, susah diatur. Kalau genit pula, di Malaysia gedik. Alahai...

Apakah dengan membaca bahasa malaysia dan lama tinggal di sana sudah cukup untuk memahami bahasa Melayu Malaysia? Ah! Tentu saja belum. Sungguh masih jauh panggang dari api. Lah piye, ini kerjaanku kalau pas ada translete narasi ke bahasa Melayu ternyata saya masih gagap -_-

Bagikan:

6 komentar

  1. Amboyyyy wkwkwk... nek aku menganggap bahasa melayu itu lembut banget haha. Degil ku kukira kumus kumus dekil wkwkwkkw. eh nek bahaa jawa Degil iku sikil tapi kasar wkwkwkw.. auh ah :))

    BalasHapus
  2. Tetanggaku mempunyai suami orang Malaysia. Meski seolah mirip dengan B Indonesia, nyatanya tidak mudah juga memahami berkomunikasi orang berbahasa Malaysia. Tapi berkomunikasi dengan dua bahasa yang berbeda itu asyik banget. Seperti main game :-D

    BalasHapus
  3. hahaha aku malah kadang ketawa kalau liat orang malay cakap
    soalnya banyak kalimat yang umum di mereka tapi kalau di bahasa indonesia jadinya aneh

    kayak pusing yang artinya putar kok ya bisa gitu putar itu pusing

    tapi emang mbak sebenarnya akarnya serumpun
    dan kalau mau jujur bahasa indonesia itu adalah bahasa melayu dialek riau tapi ya karena ada unsur politis jadinya bahasa indonesia. lebih proud aja gitu.

    aku yang sekarang belajar itu bahasa tagalog
    banyak kata yang nyaris sama bahasa indonesia tapi tata bahasanya beda jauh

    BalasHapus
  4. Ada buku saya yang diterjemah ke bahasa Melayu dan terbit di Malaysia. Setelah terbit saya merasa asing dengan tulisan saya sendiri, hehe...

    BalasHapus
  5. Assaalamualaikum..sillaturahmi Blogwalking

    saya suka bahasa melayu karena menurut saya unik, indah jika dijadikan syair. Mungkin kebiasaan nonton movie lama produksi Malaysia, atau film Indonesia era tahun 40-50'an.

    Saya pertama tertarik dengan grammar bahasa Melayu, ketika membaca karya-karya sastra lama, yah seangkatan Balai Pustaka ataupun Pujangga baru.

    Keep posting dan sila mampir ke blog saya.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P