Nulis Apa Hari Ini?

Mau nulis apa? Entahlah... Banyak banget yang pengen ditulis, banyak banget yang pengen diceritakan. Ini masuk bulan ke empat masa pandemi, dan tepat setahun saya nggak bekerja tetap setelah tahun lalu saya resign. Berderet cerita bisa ditulis kalau mau. Jatuh bangun menyemangati diri demi melihat usia yang mulai terkikis waktu. Entah satu hari, setahun, dua tahun atau berapa lagi nafas saya masih bisa menyatu dengan raga.

Pagi ini, bangun seperti biasa. Eh, nggak biasa juga karena agak siangan bangunnya setelah sebelumnya beberapa kali bangun tapi merem lagi. Kebetulan, memang lagi nggak salat. 

Dulu, saya sempat membuat kliping dengan tulisan, "Bacalah sebelum amalanmu yang ditulis dibacakan, dan tulislah sebelum amalanmu yang dibaca dituliskan." Eh, ini lupa-lupa ingat. Sepertinya quote ini dari Kang Abik. Kalimat tepatnya sudah lupa. Tulisan yang saya tempel di dinding itu jadi penyemangat kalau saya lagi malas baca dan nulis. Iya, saya pernah serajin itu.

Sudah tepat seminggu ini seorang teman yang baik hati memberikan pekerjaan ke saya. Di saat saya kelimpungan mencari pekerjaan kesana kemari, bahkan banyak ngikutin group lowongan kerja ART di mana-mana. Jangan ketawa... Saya memang kadang masih insecure dalam hal mencari pekerjaan. Saya selalu tak yakin dengan kemampuan diri bahwa saya bisa melakukan lebih baik dari apa yang saya kira. Dari sejak lebaran, saya sudah banyak menghubungi calon-calon majikan. Ketika mengenalkan diri, tentu saja saya tak menggunakan nama Anazkia. 

Dalam keadaan mendesak seperti ini saya harus bisa segera mengambil keputusan. Saya nggak tahu pandemi ini kapan akan berhenti. Saya harus realistis, ada cicilan rumah yang harus dibayar. Jadi, saya harus bekerja apa saja. Eh, buat yang anti riba nggak usah ceramahin, ya... Hehehehe. 

Kamis lalu, saat seorang teman mengirim direct messege di twitter meminta bantuan, saya sempat curiga. Jangan-jangan akunnya diambil alih orang. Ternyata, teman tersebut meminta bantuan saya untuk menerjemahkan sebuah tele drama ke dalam bahasa Malaysia. Lalu saya? Saya kayak ditampar-tampar. Antara malu, sedih dan terharu. Teringat deretan-deretan chat saya kepada banyak orang yang menanyakan pekerjaan. Tapi Allah memberi saya pekerjaan dari tempat yang sungguh tak dijangkakan. Aduhai, Allah, ampuni saya. 

Owh ya, orang-orang yang saya whatsapp menanyakan pekerjaan semuanya ada di Jakarta. Sementara saya belum berani ke Jakarta.


Ini hanya satu dari sekian banyak chat yang saya kirim ke orang-orang yang butuh ART 

Bagikan:

1 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P