Menyalurkan Donasi dari Rumah Harapan Melanie

Isi sembako


"Halo, Kak. Masih di kantor, nggak?."

"Masih, Kanaz. Ini mau pulang."

"Ok, aku sama Adi mampir ke kantor, ya. Ini lagi ngider bernas."

Rabu, 22 April 2020 saya dan Adi berencana berbagi nasi di sepanjang jalan Cilegon. Bermodalkan uang Rp. 250.000 hasil donasi, saya inisiatif buat masak sendiri. Tentunya dibantuin kakak. Jadilah 28 bungkus nasi dengan lauk ayam goreng tepung dan tumis kacang panjang dan tempe. Sementara Adi membawa 15 bungkus nasi hasil masak sendiri juga donasi dari tetangganya. Kami membuat temu janji di masjid agung Cilegon selepas ashar. Selain dengan Adi, saya juga janjian dengan Isna. Selagi Isna belum sampai dan kami mulai ngider, tiba-tiba teringat Kak Magda dan kami berniat singgah di kantornya. Tupperware Cilegon. Sebuah markas tak resmi yang kerap kami jadikan tempat ngumpul ketika keadaan sedang baik-baik saja. 

Rp. 250.000 menghasilkan 28 bungkus nasi. Yang Adi bawa nggak sempat motret. Terima kasih, donatur...


Sampai di Tupperware, rupanya sudah ada Kak Dita. Tak lama  kemudian muncullah Ijal. Setelah Ijal menampakan diri, Isna pun sampai di depan kami. Alahai... Pertemuan yang tak direncanakan ini tiba-tiba terjadi. 

Pertemuan yang tak direncanakan


Sebelum berangkat ke Cilegon, Kak Dita mengabarkan ke saya kalau paket sembako dari Jakarta yang akan dibagikan sudah sampai. Ya, beberapa hari sebelumnya Kak Dita memberitahu kalau akan membagikan donasi sembako dari teman-teman komunitas womanmarch dengan target perempuan sebagai penyangga kebutuhan. Mumpung ketemu, mumpung sembako juga sudah sampai akhirnya kami sepakat membagikan malam itu juga ke beberapa tempat. Sembako ada di rumah Kak Magda, jadilah menjelang maghrib kami menuju rumah Kak Magda.

Nasi yang dibawa oleh saya dan Adi belum habis terbagi. Isna menambahkan beberapa bungkus tahu melet produksinya. Di rumah Kak Magda, puluhan kardus sudah berjejer rapih. Seusai solat maghrib, kami mendiskusikan kemana saja paket tersebut akan dibagikan. Tak ada yang kebetulan... Selama covid ini kami memang jarang sekali ketemu kecuali untuk urusan-urusan pekerjaan (ngambil barang dan antar barang jualan). 

Jika sebelumnya saya mengajukan tiga tempat, malam itu saya menambahkan lagi jumlah penerima donasi. Owh ya, beberapa hari yang lalu Kak Dita udah whatsapp Adi, menanyakan kebutuhan warga di dekat kampungnya. Tapi dikarenakan hapenya Adi rusak, komunikasi itu tak pernah berbalas. Jadilah malam itu Adi sibuk berkoordinasi dengan ketua RT di kampungnya. Tak lama kami duduk, Cholis datang dengan temannya. Kalau dengan Cholis, sepertinya Kak Dita sudah berkoordinasi. Kak Dita kembali memperbarui data kepada siapa saja donasi akan disalurkan. Adi sibuk bertelpon dengan pak rt, saya pun sibuk bertelpon menanyakan dan memastikan siapa saja yang layak mendapakan bantuan.

"Loh, kalau ngomongin terdampak, saya juga terdampak."

"Lah, saya juga. Nggak kerja ini."

Ngomongin layak nggak layak, kami semua jadi berkelakar. Sampai kemudian orang yang paling bisa dipercaya di antara kami nyeletuk, "Layak tak layak, dalam kondisi seperti inilah mental kita diuji." Itu merupakan sabda pandita dari Kak Magda, orang yang paling bisa dipercaya di antara kami selain percaya kepada Pemilik alam semesta.

Teringat chat sehari sebelumnya dengan Adi. Mulanya, saya mengajak Adi berbagi nasi hari Selasa. Tapi Adi bilang besok saja. Rabu, 22 April 2020 rupanya ada rezeki lain yang menemani kami. Selesai memperbarui data, kami semua bergerak mengeluarkan paket sembako, memasukannya ke dalam mobil Kak Magda dan Adi juga ke motor Cholis. Kami beranjak meninggalkan rumah Kak Magda, menuju Kebon Dalem sambil melanjutkan berbagi nasi di sepanjang jalan Cilegon.

Karena malam hari dan mendadak, ada keharuan dari wajah-wajah penerima donasi. Salah seorang penerima manfaat yang saya temui suaranya tercekat di tenggorokan, memegang tangan saya "Saya nggak tahu mau ngomong apa." Ucapnya sambil terbata-bata. Target pemberian donasi ini adalah untuk para perempuan tulang punggung keluarga yang terdampak covid. Teruntuk Kak Dita dan Kak Magda, terima kasih atas perantara kebaikannya. Donasi ini, menurut Kak Dita adalah kepanjangan tangan dari Mbak Melanie Subono (Rumah Harapan Melanie) dan Mbak Oli (mohon maaf jika salah nama). Semoga berkah untuk semuanya... Kok kardusnya Sido Muncul semua? Bisa jadi, ini adalah donasi dari CSR mereka. 

Untuk Adi, Isna dan Bella, terima kasih juga atas donasi berbagi nasinya ^_^


Semangat, Cholis!Itu rambut gondrong amat hahahaha

Kata Kak Magda berat banget. Kata aku dan isna B aja (maklum, tenaga kuli) Hahahhhahaha

Istrinya Adi, yang ninggali baby di rumah ^_^


Kategori:

Bagikan:

2 komentar

  1. Semangat terus yah kesuksesan sesorang tidak bisa diukur dengan banyak materi tapi kesuksesan dan keberhasilan ukuranya ketika kita selalu hadir di tengah tengah orang yang membutuhkan bantuan

    BalasHapus
  2. Wah, semangat manteman.
    Baca postingannya ikut terharu.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P