Karantina Mandiri Setelah dari Luar Kota



Awal Maret 2020, menjadi sejarah panjang bagi masyarakat Indonesia. Tak terkecuali saya. Diumumkannya dua suspek covid-19 yang berasal dari Depok ini seolah menjadi cerita pembuka tentang keadaan yang tak baik-baik saja yang entah kapan berakhirnya. Bulan Maret, saya berada di Cikampek. Ya, sejak Januari 2020, saya tinggal di Cikampek untuk bekerja juga belajar membuat berbagai macam jenis kue. Pasca diumumkannya dua suspek di Depok, saya sempat ke Jakarta sekali. Setelah itu, saya betul-betul berdiam diri di Cikampek.

Lalu lalang berita dengan berbagai macam cerita mulai muncul di linikala. Semua berkejar-kejaran menjadi yang utama. Media sosial dipenuhi dengan segala unggahan tentang corona. Sesekali, timbul rasa takut. Tapi acap kali saya tepis. Teringat tulisan dari ketua RT perumahan Studio Alam Indah (SAI) Depok (di mana suspek pertama tinggal) bagaimana tulisan-tulisan netizen yang lalu lalang mengganggu kondisi psikologis mereka, bagaimana media mengeksploitasi warga sekitar di sekitar perumahan, baik yang datang langsung mau pun yang ditulis di laman berita.

Hari berlalu. Satu demi satu kabar orang yang terkena covid semakin banyak. Bahkan, korban yang meninggal pun jumlahnya melesat melebihi Malaysia yang sebelumnya mereka terkena lebih dahulu. Kondisi psikis mulai berubah. Saya menghindari membaca berita mengenai covid, kesibukan membuat segala macam kue membuat saya sedikit "lupa" jika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Selama di Cikampek, saya nggak pernah kemana-mana. Paling hanya ke warung sesekali untuk membeli bahan pokok. Itu pun dengan wanti-wanti diri selalu jaga jarak, cuci tangan dan menjaga kebersihan badan. Saat itu, kebiasaan menggunakan masker belum begitu didengungkan. Masker, hanya untuk orang yang sakit. Begitu menurut mentri kesehatan juga WHO.

Waktu berjalan dengan cepat, sangat cepat. 2020 betul-betul menjadi cerita yang akan selalu diingat. Saya mulai khawatir tidak akan bisa pulang ke Citayam mau pun ke Serang. Saya sama sekai tak berani menaiki kendaraan umum. Membayangkan perjalanan dengan naik kereta api dari Cikampek, lalu commuterline menuju Citayam membuat saya begitu seram. Tiba-tiba semua menjadi "musuh", semua dicurigai bahkan badan sendiri.

menjelang akhir Maret, Kakak meminta saya pulang. Dia khawatir nanti saya terjebak di Cikampek nggak bisa ke mana-mana. Mulanya saya menolak, tak apa sampai pandemi berakhir saya nggak pulang ke Serang. Tapi kakak bersikeras, dan bilang kalau dia yang akan menjemput. Akhirnya, saya mengiyakan tawaran Kakak.

Sebulan yang lalu, Kakak menjemput saya ke Cikampek. Perjalanan Serang-Cikampek yang biasanya lima jam-an, hanya ditempuh dua jam lebih. Melewati Jakarta, jalanan lengang. Ada yang berembun ketika melewati jalan-jalan yang biasanya sesak oleh kendaraan kali itu begitu sepi. Sedih... Saya terdiam sepanjang jalan, merapal doa semoga pandemi lekas berlalu. 

Karena ada keperluan, kami singgah di Cilegon. Ternyata, Cilegon masih ramai. Orang lalu lalang tanpa menggunakan masker. Melihat itu semua, saya setres. Tapi di satu sisi saya juga memahami bahwa masih banyak orang yang keluar memang untuk mencari kebutuhan hidup. Semoga yang keluar itu memang berkepentingan untuk keluar, bukan sekadar untuk nongkrong nggak ada keperluan. 

Apa yang dilakukan setelah saya berada di rumah?

1. Karantina Mandiri

Tahu diri karena dari luar kota dan melewati Jakarta meski nggak turun kendaraan, saya melakukan isolasi mandiri dengan tidak keluar rumah dan membatasi interaksi dengan keluarga. Meski saya sehat, tapi kekhawatiran menjadi carier itu membayangi diri. Sebelumnya, saya kerap mencari referensi bacaan mengenai apa dan bagaimana kalau orang dari lain kota.

Owh ya, di Halodoc, ternyata bisa test virus corona secara online. Pertanyaannya simpel-simpel  aja, seperti yang kita tahu selama ini. Kalau penasaran, bisa download aplikasinya ^_^



tes ini bisa dilakukan di aplikasi halodoc


2. Belajar Membuat Kue

Demi mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari di Cikampek, selama karantina diri saya mulai belajar membuat beberapa kue. Dari donat, bolu, brownies dan roti goreng. Itu aja, sih yang baru dipraktekin. Tentunya, dengan menggunakan alat yang ada. Karena di rumah pastinya berbeda peralatan dengan yang ada di Cikampek  hehehehe...

Asli, buatan sendiri pake tangan (helegh, sombong) hehehehe


3. Senantiasa berpikir Positif

Ya, di masa pandemi seperti ini, pikiran-pikiran buruk apa berkelebat. tak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga kehidupan sosial secara umum. Tak jarang, kepala ini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, 'kalau sudah nggak ada uang beredar nanti gimana? Saya sebentar lagi gimana, trus orang-orang yang lain, yang keadaannya jauh lebih susah dari saya gimana?". Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap menghantui. Jalan satu-satunya adalah selalu berpikir positif dan menggantungkan sepenuhnya ketentuan dengan Allah. Dalam keadaan seperti ini, kadang saya sadar sesadar-sadarnya jika saya adalah manusia yang lemah. Ikhtiar, tawakal adalah jalan terbaik saat ini. Pun saling memberikan doa dan kekuatan satu sama lain.

4. Berbagi untuk Menempa Diri

Inilah keadaan di mana kekurangan saya hari ini, saya usahakan masih bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan sebelumnya. Berbagi nasi dengan uang seadanya, lalu ada donasi dari teman lainnya. Sedangkan donasi sembako, saya hanya sebagai penyalur saja. Karena donaturnya adalah Mbak Melanie Subono. 


Kalau biasanya berbagi nasi makannya beli, kemarin masak sendiri


Bagikan:

2 komentar

  1. semoga cepat berakhir ya , sudah bosan di rumah aja ..

    BalasHapus
  2. Test online covid itu menarik, coba ah :)
    Sehat selalu kanaz :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P