Pria dan Wanita Setara itu Bukan Berarti Harus Sama



"Pokoknya, kalau perempuan sudah haid itu wajib turun ke dapur. Harus bisa masak, beres-beres. Meskipun ada yang kerja di rumah, kami nggak boleh dibantuin. Kalau sampai ketahuan kami dibantuin, yang dimarahin orang yang kerja di rumah. Bukan kami. Jadi mereka hanya merhatiin aja." 

Saya menyimak cerita Mbak Retno dengan saksama. Perempuan berdarah Jawa yang membesar di Jakarta ini dibesarkan dengan unggah ungguh kebudayaan Jawa yang kental di rumahnya. Di mana anak perempuan wajib mengetahui dan mengenal pekerjaan rumah tangga dan segala isinya, sementara saudara lelakinya tidak mengalami hal yang sama.

"Saya anak kedua, tapi menjadi anak perempuan paling besar di dalam keluarga. Jadilah banyak beban pekerjaan rumah tangga yang dijatuhkan ke saya, sementara hal itu tidak terjadi dengan saudara-saudara lelaki."

Usianya memasuki 50 tahun. Tapi cerita masa kecilnya tak lekang oleh waktu. Bagimana ia dibesarkan dalam budaya patriarki yang mengungkungnya. Mbak Retno beruntung, karena sejak kecil ia selalu tak menerima perbedaan-perbedaan yang diberlakukan di dalam keluarganya. Baginya, pria dan wanita itu sama dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Tak ada pembedaan jenis pekerjaan di mana perempuan harus mencuci piring, sementara yang lelaki tidak. Ya, bagi sebagian besar orang yang ada di Indonesia, selama ini menganggap kalau pekerjaan-pekerjaan domestik hanya layak dikerjakan oleh kaum perempuan saja. Sementara yang pria hanya melakukan kerja berat, tabu dalam hal air mata, pun menjadi asing ketika seorang pria meluahkan perasaannya (curhat kehidupan).

Konon, Mbak Retno sendiri ketika masih sekolah kerap pulang malam karena aktif mengikuti kegiatan di sekolahnya. Padahal, di rumahnya dilakukan jam malam bagi anak perempuan. Tapi tidak dengan anak lelaki. Saat Mbak Retno pulang malam, ia tak harus merasa bersalah karena tidak ada kesalahan yang dilakukan.

Bagaimana dengan saya?

Saya di masa kecil juga dibesarkan di lingkungan Jawa, di mana sebagian besar pekerjaan domestik rumah tangga wajib dikerjakan oleh anak perempuan. Sementara sepupu-sepupu saya yang pria tak pernah diberikan kewajiban yang sama. Tapi, ketika mengambil kayu ataupun merumput, terkadang saya masih juga diajak bersama. Berbeda dengan Mbak Retno yang bisa memberontak sejak kecilnya, tentu tidak dengan saya. Saya menganggap bahwa itu adalah sebuah kewajaran secara turun temurun.

Beranjak remaja, ketika saya mulai mengenal pergaulan yang luas juga dari buku-buku yang dibaca mulai mengenal tentang kesamaan pria dan wanita dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Tak semestinya pria itu tak pandai memegang sapu, pun bukan hal yang haram ketika seorang pria harus mencuci piring. Sekali waktu pernah ketemu teman cowok, waktu kami ngobrol dan membahas tentang cuci piring ia begitu mengharamkan untuk melakukannya. Menurutnya, di kampungnya tak ada pria yang melakukan pekerjaan serupa. Kami 


Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P