Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung


Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung waktu pertama kali ke sini

Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung berada di Kelurahan Bagendung, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon. Penasaran dengan TPSA ketika mewacanakan kegiatan pembuatan ecobricks. Berusaha membuat perumusan sadar lingkungan, di mana point utamanya kenapa kita melakukan hal tersebut? Sabtu14 Juli 2019 bersama dengan Eha dan suami, Cholis, Swa, Nayla keponakan juga Heri adik yang  baik hati mau mengantar ke Bagendung.

Ini sebelum kejadian kebakaran


Karena hari Minggu, di lokasi tak ada petugas. Hanya ada beberapa pemulung yang masih sibuk mencari barang bekas layak pakai untuk dijual. Kami pun tak berbincang dengan mereka. Ke TPSA hanya sebentar, hanya memotret, lalu pulang. Lagi pun hari sudah petang.



Beberapa hari kemudian, tepatnya di Rabu 17 Juli 2019 saya dan Haqi kembali berkunjung ke TPSA. Ini mungkin bagian dari rezeki, tepat ketika kami sampai di sana seorang petugas hendak meninggalkan lokasi TPSA. Lantas saat melihat kami dia menghentikan mobilnya, keluar dari mobil lantas mengajak kami ke ruangannya. Dari ruangannya, ia menceritakan serba sedikit tentang seluk beluk TPSA Bagendung. Pak Dedy, pejabat yang baru dipindah tugaskan di TPSA Bagendung beberapa bulan ini.

Dengan Haqi, saya diajak mengelilingi TPSA sampai ke tempat paling bawah, yang jumlah sampahnya masih sedikit. Ketika baru memasuki TPSA, kita akan disajikan hamparan tanah luas yang sudah ditutup dengan terpal. Konon, itu adalah timbunan sampah yang sudah berpuluh tahun. Sebelah kiri hamparan terpal yang dipisahkan oleh jalan, timbunan sampah menyebar tak beraturan. Para pemulung hilir mudik mengangkut barang-barang yang mungkin masih layak digunakan.

Ini nggak tahu fungsinya apa


"Kanananz, foto, gih." Kata Haqi melihat lalu lalang pemulung. Ya, di situ kalau mau motret human interest banyak. Tapi, tentu saja saya menolak. Bagaimana pun tak berani jika memotret mereka yang sedang bekerja hanya menggunakan handphone. Sungkan. Melewati turunan yang curam, sebelah kanan ada beberapa bangunan seperti kolam ikan. Saya nggak tahu apa fungsinya dan tidak bisa bertanya karena tidak ada petugasnya. Owh ya, waktu itu sudah mendekati pukul empat da suasana TPSA bagian bawah sangat lengang. Hanya beberapa ekor anjing liar yang mengikuti saya dan Haqi.



Semakin ke bawah, beberapa bangkai mobil kebersihan tersadai di pinggir jalan. Entah apa kerusakannya, sepertinya sudah lama tidak digunakan. Puas mengelilingi tempat sampah kami beranjak meninggalkan TPSA. Sabtu, 2 Agustus 2019 TPSA Bagendung terbakar. 40 ribu lebih kubik sampah terbakar di lahan seluas 2000 meter persegi dari total 5,4 hektare luas TPSA. Dan, sampai hari ini asap masih mengepul di area kebakaran. Bahkan, dikabarkan warga mengungsi.

Kenapa kami ke TPSA? Ngapain susah-susah ke sana? Saya dan beberapa teman berniat membuat workshop ecobricks. Trus apa hubungannya? Dengan melihat fakta TPSA di negara kita yang sebagian besar menggunakan sistem pembuangan sampah sanitary landfill di mana sistem pengelolaan (pemusnahan)  sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya dan kemudian menimbunnya dengan tanah. Sebagian besar negara ini menggunakan cara tersebut, karena cara ini paling murah. Tentu saja, dengan berbagai dampak risiko lainnya. Dengan melihat kenyataan yang ada, diharapkan nantinya kami bisa bertanggung jawab dengan sampah sendiri. Kini, bukan lagi buang sampah pada tempatnya, tapi kelola sampahmu sendiri. 




Kategori:

Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P