Mengurangi Sampah Plastik dengan Tasini

Mengurangi sampah plastik bisa dimulai dari diri sendiri


Indonesia menjadi negara urutan nomor dua penyumbang sampah plastik di dunia. Ini seperti yang diungkapkan oleh mentri kelautan Susi Pudjiastuti tahun lalu pada kegiatan Bersih-bersih pesisir laut. Sebagian besar sampah plastik dibuang ke laut. Tentunya ini sangat membahayakan. Karena sampah plastik yang masuk ke laut dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3-5 milimeter. Nantinya sampah plastik akan dengan mudah dikonsumsi oleh hewan-hewan laut.

Menurut data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah platik yang dibuang di laut." (dikutip dari laman Kompas.com yang tayang pada 19 Agustus 2018). Jumlah ini tentunya tidak sedikit. Ada banyak fakstor kenapa Indonesia menjadi negara dengan nomor urutan kedua mengenai penyumbang sampah plastik ini. Pertama, tentu saja banyaknya jumlah penduduk. Kedua, rendahnya kesadaran warga Indonesia mengenai urusan sampah. Terutama sampah plastik.

Hari Minggu tanggal 14 Juli lalu saya dan teman-teman berkunjung ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung-Cilegon. Di TPSA itulah, seluruh sampah dari kota Cilegon dibuang. Ya, sebagian besar (atau malah semua) TPSA-TPSA yang ada di Indonesia itu menggunakan sistem landfill di mana sampah dibuang di satu tempat lalu dibiarkan begitu saja. Cara-cara seperti itu tentu saja tida efektif. Selain membutuhkan lahan yang luas, sampah akan merusak ekosistem dan lingkungan jika tidak ditangani.

Lalu, bagaimana menyikapi hal tersebut...?

Jika pemerintah belum menyediakan tempat sampah yang memadai, kalau pun tukang sampah masih belum bisa memberlakukan sampah sebagai mana mestinya dan kita juga tidak bisa melakukan hal-hal seharusnya dengan sampah, tentu saja ada hal sederhana yang bisa kita lakukan. Seumpamanya, belajar bertanggung jawab dengan sampah diri sendiri terlebih dahulu. Hal kecil dan sederhana misalnya dengan membawa tas belanjaan ketika berbelanja. Jadi tak harus menggunakan kantong plastik yang disediakan oleh toko, warung atau swalayan yang kita kunjungi.



Untuk mendukung langkah tersebut, salah satu retail besar di Indonesia, Alfamart melaunching satu produk baru dalam bentuk tas belanja. Tas belanja ini bukan sembarang tas tentu saja, karena ia bisa digunakan berkali-kali. Tasini nama produk tersebut. Tasini dibuat gantungan kunci dengan aneka rupa binatang. Ada tiga binatang yang jadi iconnya. Olivia, si gurita dengan warna pink. Shark, hiu lucu berbwarna biru dan terakhir adalah Theo penyu berwarna hijau.Dibuat karakter binatang laut menurut Roger untuk mengingatkan kita semua bahwa banyak hewan-hewan di laut yang menjadi korban dari sampah plastik.



Tasini merupakan ide inisiatif dari kepedulian tentang lingkungan hidup, Making Oceans Plastic Free (MOPF). MOPF diinisiasi oleh empat sahabat dari Indonesia dan Jerman. Mereka adalah orang-orang yang aktif berkampanye tentang kepedulian kepada lingkungan. Ide ini bermula dari kesedihan dan kekhawatiran mereka melihat banyaknya jumlah sampah plastik yang semakin meningkat setiap tahunnya mencemari laut. Pada akhirnya kampanye mereka bukan hanya sebatas peduli kepada lingkungan, tapi juga memberikan solusi dengan membuat salah satu produk tasini. Tasini dibuat dari plastik daur ulang.

Tasini diharapkan mampu mencegah penggunaan 400 kantong plastik. Ya, dengan menggunakan tasini, masyarakat jadi lebih sedikit memakai kantong plastik sekali pakai ketika belanja. Di alfamart plastik sudah berbayar, tapi dengan nominal Rp. 200 bukan tidak mungkin orang lebih banyak memilih membayar dibanding membawa kantong belanjaan sendiri (apalagi kalau lupa).

Kalau belanja di alfamart selalu ditanyain mau pake platik apa enggak. Dan inilah salah satu kampanye di alfamart


Corporat Affairs Director Alfamart, Solihin mendukung sepenuhnya peluncuran produk baru ini. Ia berharap dengan adanya Tasini bersama dengan masyarakat dapat mengurangi penggunaan sampah plastik dan sama-sama menjaga lingkungan lebih berkelanjutan.

Sementara Roger, salah satu founder Tasini bercerita di sela-sela makan siang usai acara. Tasini dibuat sebagai salah satu charity mereka untuk mencari dana dalam berkampanye tentang kepedulian lingkungan. Ia juga berpesan, untuk saat ini ketika banyak hal yang belum banyak bisa kita lakukan, mengurangi penggunaan sampah plastik adalah salah satu solusi. "Sekarang ini minimal kita mengurangi empat hal, jangan menggunakan sedotan, kurangi penggunaan plastik, kurangi penggunaan botol air mineral plus sedotannya (sedotan air mineral gelas) dan penggunaan styrofoam." Begitu katanya di akhir obrolan.

Mbak Elisa lagi belanja pake Tasini. Muatnya lumayan banyak juga ^_^


   

Kategori:

Bagikan:

1 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P