Belajar Mengurangi Gorengan di Bulan Ramadan

Pengennya sih ya gini ^_^. Tapi kadang kenyataannya lain :D

Gorengan.... Makanan ini bagi saya seperti candu. Betapa sulit meninggalkan makanan mewah yang murah meriah dan renyah ini. Saat dihadapkan dengan pilihan di depan mata antara gorengan dan bermacam-macam kudapan, tentu saja saya akan memilih gorengan. Pokoknya, gorengan tetep yang saya cinta! Sejak kapan mulai menyukainya, saya pun sudah lupa. Dari kecil, pokoknya sudah sering disajikan dengan berbagai macam gorengan, tempe (identik dengan mendoan), pisang goreng, tape goreng, ubi goreng, piye-piye (bakwan) dan macam-macam. 

Sebelum bulan puasa, saya bilang ke Kakak sama Nita, kalau Ramadan kali ini akan mulai mengurangi konsumsi gorengan. Kenapa memulainya harus bulan Ramadan? Kenapa bukan bulan yang lain? Itu dikarenakan ketika bulan puasa tiba jatah mengunyah gorengan saya semakin banyak! Huffftttt... Pernah, makan tahu isi sampai tujuh biji. Duh! Jadi, kebiasaan buruk saya ketika berbuka puasa adalah  minum, baik air putih mau pun teh trus makan gorengan sebanyak-banyaknya, sekenyang-kenyangnya sampai kemudian nggak makan nasi. Hahahahahaha.... Parah banget!

Apa gorengan ini hanya ada di Indonesia? Owh, ternyata tidak. Lama tinggal di Malaysia mengenalkan saya dengan berbagai macam gorengan. Tapi tetep, gorengan Indonesia jauh lebih enak (ya iyalah, kebiasaan lidah). Di Malaysia, kalau bikin bakwan isinya cuma tepung terigu, potongan bawang merah besar sama ikan bilis (ikan bilis adalah teri). Sudah, cuma itu thok. Eh, adonannya ditambahin telor. Namanya juga bukan bakwan, tapi cekodok. Ada berbagai macam cekodok, cekodok pisang, cekodok ikan bilis dan entah apalagi. Kadang, ini bisa buat becandaan,

"Makan apa?”

“Cekodok.”

“Cekodok? ada kodoknya, nggak?"

krik... krik.. krik....

Balik lagi ke gorengan, sebelum menulis ini saya mencari artikel asal muasal gorengan. Beberapa artikel saya baca, salah satunya artikel dari Tirto. Ternyata, gorengan atau tekhnik menggoreng dengan minyak banyak itu sudah ada sejak tahun 1200 SM di Mesir (dari buku A History of Food, tahun 2008) Wow! lama sekali dan sangat jauh, ya. Lalu, negara mana saja yang mengkonsumsi gorengan? Tentu saja banyak, tak hanya Indonesa dan Malaysia saja.

Jenisnya, juga bermacam-macam. Jika di Indonesia ada bakwan dan kawan-kawannya, maka di Jepang ada tempura. Yang digoreng macam-macam, bisa dari terong, ubi, pisang sampai ke udang. Di Inggris sendiri memiliki masakan “nasional”, kombo gorengan yang isinya fish and chips. Ikan dibalur adonan tepung basah, kemudian digoreng hingga kuning keemasan, lalu disajikan dengan kentang goreng. Korea, memiliki jenis lain dari gorengan. Namanya twigim. Amerika juga jangan salah, negara mereka banyak memiliki berbagai macam gorengan. Dan salah satu yang mendunia adalah KFC. WOW!

Lalu, bagaimana dengan Ramadan saya? Apa iya berhasil mengurangi konsumsi gorengan? Ya, alhamdulillah sampai hari ini belum makan gorengan yang beli di luar, sih. Lagian, puasa juga baru sehari. Di hari pertama doang :( Semoga niat mengurangi konsumsi gorengan berjalan lancar. Niat bangetnya itu, buka puasa minum air putih anget atau bisa juga teh tawar hangat trus makan kurma sama buah (kalau ada) setelah maghrib, baru makan nasi. Semoga bisa....

Semua pengetahuan mengenai gorengan saya ambil dari Tirto ^_^



Bagikan:

3 komentar

  1. Gorengan memang enak, tapi kalau saya makan gorengan yang beli di pinggir jalan, pasti kerongkongannya gatal. Jadi cuma bisa gorengan di warteg atau goreng sendiri. Paling sehat sih makan buah, tapi buah jauh lebih mahal dari gorengan.

    BalasHapus
  2. Kalo gorengan lauk makan belum bisa mengurangi kak, kalau cemilan yah sudah lama mengurangi goreng-gorengan :)

    BalasHapus
  3. Sudah hampir dua minggu puasa ini Kanaz sudah berhasil mengurangi konsumsi gorengan kah? Hahaha. Semoga.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P