Vaksin, Antara Keyakinan dan Sebuah Ikhtiar



Berapa sering, kita acap mendengar mengenai pro kontra mengenai vaksin di Indonesia? Di linimasa media sosial, bahasan ini tentu saja menjadi bahan yang sambung menyambung tak berhenti. Baik yang pro, mau pun yang kontra mereka melakukan argumen dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Saya pribadi, dengan kakak acap membicarakan tentang vaksin ini. Senin, 15 April 2019, bertempat di hotel Wyndham bersama dengan Blogger Crony, saya mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan. Membicarakan imunisasi dalam rangka hari imunisasi dunia tentunya ini menjadi wawasan baru bagi saya. 

Ada tiga narasumber yang dihadirkan. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kemenkes RI drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid, Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Prof. Dr. Cissy Kartasasmita,Sp. A dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr.H.M. Asrorun Ni'am Soleh,M.A. Yang saya nantikan dari diskusi ini, tentunya dari pihak Majlis Ulama Indonesia (MUI). Bukan berarti yang lain tidak penting, tapi lebih ke pertanggungjawaban pihak MUI terhadap penggunaan vaksin yang kerap diklaim sebagai haram oleh anti vaksin. Tiga pembicara ini menjadi pelengkap satu sama lain. Ahli, pemerintah dan agama.

Prof Cissy menyampaikan informasi mengenai sejarah imunisasi dan pentingnya imunisasi bagi keluarga. Imunisasi menurutnya sangat diperlukan, tapi tak sedikit juga hambatan. Ia berharap, dengan adanya pertemuan dengan blogger, semuanya menjadi jelas. Merujuk kepada pusat badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) memulai vaksin pada tahun 1974. Saat itu WHO mengenalkan program EPI (Expanded Program on Immunizaztion) untuk menjamin bahwa semua anak mempunyai akses untuk mendapat imunisasi rutin yang direkomendasikan. 

Sementara itu, kegiatan imunisasi di Indonesia dilaksanakan sejak tahun 1956. dan di tahun 1977kegiatan imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi (PII) dalam rangka pencegahan penularan beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, tuberkulosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B. Menurut Prof Cissy, imunisasi adalah hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Ia juga sempat menanyakan kepada peserta, apakah sudah diimunisasi semua sambil tertawa. 

Beberapa penyakit yang saat ini menjadi perhatian dunia dan merupakan komitmen global yang wajib diikuti oleh semua negara adalah eradikasi polio (ERAPO), eliminasi campak dan rubela dan Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (ETMN). Sejarah program imunisasi di Indonesia selalu mengalami perubahan. Ini dikarenakan penyakit pun semakin beragam. Bisa dilihat pada bagan di bawah ini, 


Menurut Stanley Plotkis, imunisasi merupakan upaya pencegahan yang paling cost efektiv, tidak ada tandingannya kecuali air bersih. Stanley Plotkis 1995. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak antara lain, ASI ekslusif, nutrisi seimbang, penyediaan air bersih, imunisasi, sanitasi sehat dan pengasuhan optimal.

"Imunisasi adalah investasi kesehatan di masa depan." Ujar Prof Cissy. Baginya, ketika anak terlindungi imunisasi sejak kecil, lingkungannya pun akan terjaga. Kenapa imnuisasi diperlukan? Karena akan menghasilkan kekebalan (imunitas) inveksi alamiah akan menimbulkan kekebalan. Imunisasi meniru kejadian infeksi alami. Tubuh membentuk kekebalan mellaui pertahanan non spesifik dan spesifik. Bisa mencegah penyakit yang menyebabkan kematian dan kecacatan. Terakhir, adalah sebagai salah satu pemenuhan atas hak anak.

Lalu, apa dampak apabila anak tidak diimunisasi?


  • Anak tidak mempunyai kekebalan terhadap mikroorganisme ganas (patogen) 
  • Anak dapat meninggal atau cacat sebagai akibat dari menderita penyakit infeksi berat 
  • Anak akan akan menularkan penyakiy ke anak/dewasa lain
  • Penyakit tetap berada di lingkungan masyarakat


Beralih ke pembicara kedua, Dokter Vensya. Secara medis, ia banyak menyambung penjelasan dari Prof Cissy. Imunisasi menurutnya adalah bagian dari upaya pencegahan penyakit. Pencegahan spesifik, diantaranya lebih efisien dan efektif terhadap penyakit berbahaya seperti, tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak, sindrom rubella kongenital, pneumonia, (radang paru), meningitis (radang otak) dll.

Semua negara dengan gizi baik, lingkungan bersih tetap melakukan imunisasi sejak tahun 1955.

Terakhir, adalah penjelasan dari MUI. Bagi saya, ini yang menjadikan semua untuk terang benderang. Saya, yang menganut paham apa yang dilakukan oleh negara berlabel halal ada tanggung jawabnya, maka secara pribadi saya akan mengikuti keputusan ini.

Menurut Pak Ni'am, pada prinsipnya, pengobatan harus dilakukan dengan barang yang halal. Pengguaan barang halal tidak hanya pada dzatnya, melainkan juga di dalam proses produksinya. Barang yang halal jika diproduksi melalui proses produksi yang tidak benar secara fikih misalnya menggunakan bahan baku atau atau bahan penolong yang haram/najis maka hukumnya tetap haram sepanjang belum dilakukan penyucian secara syar'i. hal ini berlaku umum, baik bagi makanan, minuman maupun obat-obatan yang kepentingannya untuk dikonsumsi.

Tentang perbedaan-perbedaan vaksin, kini saya mengamini. Jika kepercayaan mereka yang anti vak, tentunya tak dapat dipaksakan. Karena mereka sendiri tentunya memiliki alasan dan pemahaman lain tentang vaksin.Karena menggunakan vaksin bagi saya, adalah sebuah ikhtiar untuk melindungi diri dari kesehatan. Wallahu'alam.

Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P