Setiap Tulisan, Akan Menemukan Takdirnya Sendiri



Setiap tulisan, akan menemukan takdirnya sendiri. Kalimat tersebut dulu sering diucapkan berkali-kali oleh Mas Rob Januar ketika saya masih bekerja di Tempo. Ya, kami kerapkali membahas berbagai topik saat masih bekerja satu kantor. Dan bulan Februari lalu, saya menemukan fakta sendiri mengenai kalimat tersebut. 

Pertengahan bulan Februari, ada seorang agency yang menghubungi saya via dm di instagram. Katanya, ingin mewawancarai untuk salah satu brand air mineral. Alasan saya yang dipilih, katanya karena pencapaian yang sudah diraih. Agak lama saya membaca pesan tersebut. Lalu tak lama kemudian langsung menuju akun media sosial yang dimaksud. Meneliti satu persatu konten instagram  yang diunggah, sebagian besar profile yang diangkat di media instagram milik air mineral tersebut adalah olahragawan. 

"Lho, Mbak. Itu, kan, kebanyakan olahragawan. Kalau saya nggak nyambung, dong? hehehehe"

"Sebenernya untuk tahun ini kita mau mulai campaign baru yang lebih umum, Mba. Hehehe... Jadi kita pilih tokoh inspiratif dari berbagai bidang untuk diwawancara."

Begitulah awal pertemuan perantara tulisan dengan takdirnya. Mbak Nurul, pihak agency dari Prima Water menghubungi saya. Seminggu kemudian, kami bertemu dan langsung syuting. Ada 3 kru yang datang, saya lupa namanya. Karena hari Jumat dan waktunya sangat mepet, kami nggak sempat berbincang lama. Saya lupa tanggal berapa kami syuting, tapi masih di bulan Februari.

Yang saya takjub ketika syuting adalah saat salah seorang dari kru agency itu membaca tulisan-tulisan saya yang sudah sangat lama sekali. Tulisan yang mungkin ditulis pada tahun 2008. Dengan detail, ia menanyakan proses penjemputan saya ketika di bandara KLIA. Serius, ini bikin saya takjub. Mungkin, ini caranya membangun bonding dengan saya, biar ia nggak bingung ketika mengarahkan narasi saat syuting. Video yang dibutuhkan dua menit lebih, syutingnya beberapa jam. Lumayan capek juga.

Dari rentetan di atas, sebenernya yang saya mikir bukan karena perihal syutingnya, bukan juga perihal bayarannya, tapi lebih kepada tulisan-tulisan lama saya yang dulu ditulis begitu aja tanpa tendensi akan dibaca orang dan memiliki harga, sekali waktu menemukan takdirnya sendiri. Ya, menemukan takdirnya seperti yang Mas Rob katakan bertahun lalu. Sejak kejadian tersebut, saya sering merenung lama dan panjang. Kenapa sekarang saya sulit sekali untuk menulis? Bukan, bukan hanya sekadar untuk mendapat takdir sebagai perantara mendapatkan uang, tapi lebih kepada dokumentasi perjalanan. Perjalanan sebelum keabadian. Seperti merujuk kepada tagline di blog ini, Karena hanya tulisan yang bisa saya tinggalkan....







Bagikan:

4 komentar

  1. Setuju sama kalimat itu, Kanaz, setiap tulisan akan menemukan takdirnya. Iklannya sudah saya lihat pula di IG, sudah lama. Asyik Kanaz, semangat menulis lagi yuuukkk :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua gara-gara Kak Tuteh dan Om Bisotttt Ahahahaha

      Hapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P