LRT, Perubahan Peradaban Baru dalam Bertransportasi



Sekali waktu ketika saya sedang berjalan di trotoar di daerah Jakarta Selatan, saya berpikir tentang satu hal, "jangan-jangan, Jakarta ini dulunya dibuat asal jadi." Pikiran berkelebat setiap kali saya melewati trotoar yang kotor karena airnya merembas ke jalan. Pun tak muat lagi untuk pejalan karena dipenuhi pedagang, baik kaki lima mau pun toko-toko yang meringsek mengambil jatah semakin dekat ke jalan raya. Itu di pinggir jalan. 

Di lain hari, ketika saya sedang berada di stasiun Tanah Abang, saya memerhatikan kepadatan penumpang yang lalu lalang. Batin saya, pada zamannya ketika stasiun itu dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia-Belanda yang Staatsspoorwegen Westerlijnen barangkali tak pernah terpikir jika stasiun Tanah Abang 120 tahun kemudian akan dipenuhi oleh ratusan ribu manusia setiap harinya.  

Pun saya pernah bertanya dalam hati, ketika di Jakarta tidak ada kereta api menuju bandara seperti di Malaysia. Ya, saya memang pernah membandingkan Indonesia dengan Malaysia untuk urusan transportasi. Tujuh tahun tinggal di Malaysia, cukup buat saya untuk menikmati segala kemudahan transportasi di sana. Bagaimana tidak, di Kuala Lumpur itu dipenuhi dengan berbagai sarana transportasi, Bis Rapid KL, Light Rail Transit (LRT), Commuterline, Exspress Rail Link (ERL) kereta khusus bandara dan Monorail (saat saya di Malaysia, belum ada MRT). Hampir semua transportasi tersebut terintegrasi satu sama lain di pusat-pusat kota. Masjid Jamek, Putra World Trade Center (PWTC), Terminal Bandar Tasik Selatan dan tak lupa Kuala Lumpur City Center (KLCC) sebagai salah satu pusat kota di jantung ibu kota Malaysia tersebut.

Pikiran dan pertanyaan-pertanyaan itu berkelindan beberapa tahun silam. Sebelum MRT dibuat, sebelum LRT mulai dibangun. "Kapan agaknya Jakarta memiliki kemudahan transportasi serupa?"

Bertahun kemudian, pertanyaan-pertanyaan itu mulai terjawab. Akhirnya, Jakarta memiliki akses kereta ke bandara. Jakarta memiliki MRT, Jakarta punya LRT dan tak lupa, commuterline yang pelayanan dan aksesnya semakin baik karena ia ada lebih dahulu dibanding dengan alat transportasi sebelumnya. Siapa pun pemimpinnya, siapa pun orangnya, tabik untuk mereka para pemangku kebijakan yang telah berani mengambil keputusan untuk membangun kereta bandara, MRT dan LRT.

Jumat, 27 April 2019, bersama dengan teman-teman blogger darikomunitas @taudariblogger dan komunitas pecinta kereta api, saya dikasih kesempatan untuk mencoba LRT yang sebentar lagi akan beroperasi. Sebelum percobaan menaiki LRT, tentunya ada sesi ramah tamah dengan pihak LRT juga pihak Trans Jakarta yang nantinya akan berintegrasi. LRT, tahun lalu ketika ada Asian Games sudah pernah dioeprasikan, tapi dengan sarana dan prasarana yang masih kurang.

Bertempat di Depo LRT Kelapa Gading, kami disambut ramah oleh panitia yang sudah menunggu kami sejak pagi. 

Direktur Utama PT LRT Jakarta Allan Tandiono memberikan sambutan pertama pada kehadiran kami. Ia mengharapkan, dengan hadirnya blogger pada percobaan LRT tersebut bisa dijadikan sebagai penyampai informasi di media digital, baik blog mau pun media sosial mengenai LRT. 

"Kita ingin memperkenalkan bapak/ibu semua dengan trasnportasi baru yaitu LRT tidak cuma moda transportasinya, tapi kita juga ingin mengenalkan salah satu mekanisme transportasi yang ada di Jakarta. di mana nantinya kita akan terintergarsi dengan transportasi lainnya yaitu Transjakarta." Ujar Direktur Utama PT LRT Jakarta. 

Menurutnya, jika sebuah transportasi baru dibangun tanpa memerhatikan integrasi maka tidak banyak manfaatnya jika tidak digabungkan dengan transportasi yang sudah ada. Kemacetan Jakarta tidak dapat diatasi jika satu sama lain tidak saling bekerja sama. Nantinya, pada setiap stasiun yang berdekatan dengan LRT, akan dilakukan integrasi. Untuk pembayaran, masih belum disepakati apakah hanya cukup sekali menggunakan kartu untuk transjakarta dan LRT atau akan dilakukan secara terpisah.

Allan Tandiono sangat berharap, jika nantinya setiap warga Jakarta yang hendak menggunakan transportasi  umum sangat mudah. Di mana Transjakarta bekerja sama dengan JakLingko, pengguna angkot yang bisa langsung ke halte busway terdekat. Integrasi ini diharapkan bisa menjadi salah satu penyelesaian kemacetan di Jakarta. LRT, 100% murni milik pemprov DKI Jakarta tidak ada intervensi dari mana pun. Dibangun di atas tanah seluas 13 hektar. Allan berharap, pada fase selanjutnya bangunan bisa lebih diperpanjang menjadi 40-110 KM ke Jakarta. Sehingga transportasi semakin mudah. Kenapa dibangun di kawasan Kelapa Gading? Karena di tempat itulah yang masih tersisa tanah luas. 

Penyampaian selanjutnya adalah Aditia Kesuma Negara, General Manager Operation & Sevices. Ia memaparkan tentang muasal pembangunan MRT dimana sepenuhnya diserahkan kepada JakPro. Apa itu JakPro? Jakpro, atau Jakarta Propertindo awalnya dari Pluit, Jakarta Utara. Perusahaan properti dan infrastruktur milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini awalnya merupakan sebuah Badan Pengelola Lingkungan (BPL) yang didirikan pada 1960 dengan tanggung jawab mengelola kawasan Pluit. Nah, melalui Jakpro inilah LRT dibuat. 99% sahamnya milik Pemprov. 

Jakpro sendiri memiliki banyak anak perusahaan. Seperti, PT. Jakarta Konsultindo, PT Jakarta Utilitas Propertind, PT Jakarta Infrastruktur Propertindo dan PT Pulomas Jaya. Proses perjalanan pembangunan LRT dijelaskan oleh Aditia Kesuma. Kami juga ditunjukan gambar bagaimana sebelum dan sesudah pembangunan LRT itu dibuat. Dari April 2017 yang masih disajikan lahan dan galian, lalu beranjak ke Desember 2017 di mana bangunan sudah mulai dibuat. Setahun kemudian, di bulan April 2018 trem LRT sudah mulai kelihatan, dilanjut pada Agustus 2018 trem mulai kelihatan bisa digunakan. Jika saya tidak salah ingat, LRT Jakarta sedianya akan digunakan oleh atlet Asian Games tahun lalu. Dan, pada gambar terakhir disajikan gambar trem terbaru, Januari 2019.

Selain itu juga ditunjukan gambar sebelum dan sesudah stasiun LRT Kelapa Gading yang nantinya akan dibuat kantor besar LRT.

Bagaimana mengenai kesiapan operasional komersial LRT Jakarta? Sampai saat ini, menurutnya 96% LRT Jakarta sudah bisa digunakan. Baik secara umum, kesiapan adminstrasi dan uji operasi terbatas. Untuk konstruksi sendiri kesiapannya masih 95%. 

Di sela-sela obrolan saat kami menaiki LRT, saya menanyakan kenapa LRT Indonesia menggunakan masinis, sedang di Malaysia tidak? Menurutnya, ada 4 grade dalam sistem pengoperasian LRT yang disebut GOA (Singkatan GOA saya lupa hiks) dan di Indonesia menggunakan sistem GOA 3 di mana masih menggunakan masinis.  

Penyampai terakhir adalah Syarif dari PT Transjakarta. Transjakarta adalah salah satu moda transportasi modern di Jakarta yang sudah beroperasi selama 15 tahun. Pada masanya, pengadaan Transjakarta ini ditentang oleh banyak orang. Tapi dengan semakin banyak perubahan, kini Transjakarta menjadi salah satu moda transportasi yang layak diacungi jempol. Syarif mengharapkan dengan lamanya operasional Transjakarta di ibu kota diharapkan menjadi salah satu penghubung dengan moda transportasi lainnya.

Di tahun 2030, diharapkan warga Jabodetabek menggunakan transportasi umum. Ada Commuter, transjakarta, MRT dan yang sekarang adalah LRT. Dari setiap transportasi yang ada, pemerintah menargetkan masing- masing moda dengan angka yang berbeda. Commuterline, target penumpang Jabodetabek setiap harinya 1.100.000/hari, LRT Jabodetabek 300.000/hari, Transjakarta 670.000/hari, MRT Jakarta 135.000/hari. Untuk MRT sendiri ketika sudah beroperasi melampaui target, hampir 260.000/hari. LRT Jakarta target 60.000 penumpang per hari.

Begitulah, segala macam pikiran yang berkelindan di kepala mengenai transportasi di Jakarta bertahun lalu akhirnya menjadi nyata. Tentunya, bukan karena saya. Tapi karena Indonesia memiliki anak-anak bangsa yang tidak main-main kualitasnya. LRT, dalam struktur pengurusnya hampir 75-80% diisi oleh kaum muda. Mereka anak-anak muda yang memiliki integritas tinggi menjadi tonggak perubahan, bahwa mengubah kota Jakarta bukan hanya sekadar berkomentar saja. Tapi dengan kerja nyata.

LRT Jakarta sebentar lagi akan beroperasi dan bisa dinikmati oleh warga Jakarta. Ada enam stasiun terdiri dari Stasiun Equastrian, Stasiun Pulomas, Stasiun Boulvard Selatan, Stasiun Pegangsaan Dua, Stasiun Boulvard Utara dan Stasiun Velodrome Rawamangun. Setiap stasiun, petugas dengan ramah akan menyambut kita. Jika tak tahu dan kurang paham kita bisa bertanya dengan mereka. 

Ya, harapan saya ke depan LRT  menjadi salah satu moda transportasi yang bisa dipercaya oleh warga Jakarta dan bisa mengurai kemacetan Ibu Kota. Berapa tarifnya? Konon, untuk jarak yang ada sepanjang 5,8 KM, LRT akan dipathok harga Rp. 5000. Terima kasih, Pemprov Jakarta.

Kategori:

Bagikan:

2 komentar

  1. Mungkin ya, Kanaz, Jakarta dulu dibikin gitu aja ya sudah jadi kota belum memikirkan tata kota hahahaha *dikeplak*. Selamat buat warga Jakarta sebentar lagi menikmati LRT dengan tarif yang super terjangkau. Kalau Kanaz ke Ende, pasti yang terlintas di benaknya: ini sistem aliran air (got)-nya gimana sik!? :P

    BalasHapus
  2. Wah, jadi LRT sudah dibuka untuk umum? Duh, jadi pengen coba. MRT saya sudah coba mbak, enak banget ternyata hehe

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P