Terima Kasih, Donatur....

Meski riweh, lihat ini seneng aja bawanyaanya ^_^ (foto milik Mas Sato Raji)


Minggu, 30 Desember 2018 bersama dengan teman-teman dari Cilegon dan Jakarta, kami menuju Kampung Sukajadi, Desa Pagedongan, Carita. Dari Cilegon, ada Swa, Udin, Diaz, Kak Dita, Cholis, Adi, Pretty dan saya. Sementara dari Jakarta, ada Mbak Wawa, Mas Satto dan Rizki. Dari beberapa hari sebelumnya, kami memang sudah berwacana hendak ke Carita, mengajak bermain bersama anak-anak. Tsunami yang menerjang Selat SUnda pada 22 Desember 2018 menimbulkan trauma tersendiri di kalangan anak-anak. Menurut Kang Evan, warga Kampung Pagedongan yang kami datangi sejak dua hari pasca tsunami begitu menginginkan "hiburan" untuk adik-adik. 

"Anak-anak di sini itu ketakutan, Teh. Malah ada yang dengar suara motor aja takut"

Sabtu, 29 Desember 2018 saya bersama Diaz ikut Kak Magda bersama dengan rekan-rekan Tupperware ke Carita dan Labuan membawa logistik. Kami juga kembali menyambangi desa Pagedongan untuk mengantar logistik dan bertemu dengan Kang Evan. Lagi-lagi, menurut Kang Evan, desa Pagedongan kembali membutuhkan kelompok untuk mengajak main anak-anak.

"Kalau logistik, mah, alhamdulillah sudah aman. Kalau bisa, mah untuk anak-anak. Hanya sekali paska tsunami anak-anak main dengan tentara. Kalau bisa, mah, ke sini lagi main sama anak-anak, ya, Teh."

Menjelang pulang, saya, Diaz dan Kak Magda mewacanakan esoknya kembali berkunjung ke Pagedongan. Di grup, Diaz juga menyampaikan kepada kawan-kawan supaya sore jam 5 diminta berkumpul di tupperware. Saya juga menghubungi Mbak Wawa, yang sebelumnya membuka donasi untuk Selat Sunda. Di chat, Mbak Wawa mengabarkan kalau akan turut serta beserta Mas Sato dan Rizki.

Packing snack


Sampai di Cilegon, kami langsung berkumpul di Tupperware. Teman-teman yang lain juga mulai berdatangan. Kadita, Isna, Udin, Adi, Pretty, Eha, Regi, Cholis, Fatma (yang cuma sebentar doang), Swa, Diaz dan tak lupa Kak Magda. Menjelang maghrib, saya, Isna dan Udin menuju Cilegon menggunakan mobil Kak Magda. Beberapa kebutuhan sebelumnya sudah dilist. Isna, menghitungnya jauh lebih cepat dibanding saya (yang hanya intel celeron dan cepat panas ini) Tapi sayangnya, belanja di tempat grosiran itu barang yang kami list sebagian tak ada. Akhirnya kami beli yang ada. Setelah salat maghrib di masjid Agung, kami kembali ke Tupperware.

Ketika mengemas snck dan susu, ada beberapa barang yang kurang. Akhirnya, saya dan Isna ke pasar. Dan, pas di pasar itulah kami menemukan biskuit yang sebelumnya kami cari. Akhirnya kami menambahkan beli biskuit yang memang sebelumnya ada dalam list. Kembali ke Tupperware? Hoyah mereka kesel semua ke saya sama Isna. Pesan mereka, "Jangan nyuruh Kanaz ke warung lagi!" Hahahahahaha.... Soale mereka kudu bongkar lagi barang-barang yang sudah dipacking dan sudah masuk kardus. Mafakan kami :D

Alhamdulillah, 130 paket selesai dibungkus. Lalu, apa yang akan terjadi esok hari?

Berkumpul di Rumah Kak Magda

Paginya, kami berkumpul di rumah Kak Magda. Mbak Wawa, Mas Satto dan Rizki sampai di rumah Kak Magda jam 10 lebih. Kami ke terminal dulu, mengantar Kak Magda yang akan ke Bandung. Dari situ langsung menuju depan Indomaret dekat terminal, lalu kami beriringan menuju Carita melewati jalanan Lingkar Selatan. Hujan deras mengiringi perjalanan kami. Saya satu mobil dengan Adi dan istrinya Pretty, mobil paling depan. Di tengah, kawan-kawan dari Jakarta, paling belakang Udin and the gank. Sampai di Anyer, cuaca cerah. Kami pun sempat singgah membeli makan untuk bekal. Sepanjang jalan, keadaan masih lengang. Tempat-tempat wisata yang selalunya ramai sunyi tak berpenghuni.

Sesekali, Adi melambatkan kendaraan untuk memotret keadaan. Ini, bagi Adi adalah perjalanan pertama melihat lokasi langsung paska tsunami. 

Sampai di Masjid Al Khussaini sudah memasuki waktu dhuhur. Masing-masing dari kami menuju masjid untuk salat. Setelah itu, menuju rumah Kang Evan. Kang Evan terlihat sangat sibuk. Donatur membawa berbagai macam donasi dari berbagai tempat. Ini tentunya sangat jauh berbeda ketika di hari pertama. di masjid ini pada Senin 24 Desember, lengang dari para donatur. Ketika Kang Evan ke rumah, ia mengatur kami untuk main bersama anak-anak di mana. Bahkan, ia sudah meminta izin tetangganya untuk menggunakan halaman rumahnya sebagai tempat bermain. Kami semua sepakat.


Negosiasi, minta dicepetin :D

Kami kembali beriringan ke depan. Niatnya, kami makan dulu baru bermain. Sekalian ambil makan, juga membawa snack sebagai hadiah setelah main. Tapi, ternyata kenyataan yang ditemui berbeda. Tiba-tiba, melalui pengeras suara masjid diumumkan kalau ada bantuan untuk anak-anak. Aduh! Matilah kami. Jika diumumkan di masjid, berapa banyak yang akan kumpul, sementara persediaan kami terbatas hanya 130 pack. Kami membuat 130 bungkus atas rekomendasi Kang Evan anak-anak di sekitarnya berjumlah lebih kurang 100 anak.

Kami langsung pucat semua. Orang tua berbondong-bondong datang membawa serta anaknya. Mulai menyemut, bergerombol. Semua rencana pudar sudah. Niat bermain hancur sudah. Akhirnya, kami menghadapi kenyataan pahit. Bermain seadanya, lalu segera membagikan snack yang kurang :((

Kami tidak sepenuhnya menyalahkan warga. Riuhnya donatur yang datang, membuat informasi yang datang menjadi bias. Kegiatan kami percepat, dengan segala perasaan yang tak enak. Alhamdulillah, dengan segala kekurangan kami kembali berkumpul di rumahnya Kang Evan. Di rumah hanya ada bapak dan saudara lelakinya. Ibu, istri dan anaknya sedang berada di Jakarta. Sementara Kang Evan sendiri masih sibuk dengan urusan donasi dari mana-mana. Terima kasih banyak, Kang Evan dan donatur.





Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P