Lombok Paska Gempa, Apa Kabar Tempat Wisata?

Selama bulan Juli-Agustus 2018, Lombok bertubi-tubi dilanda gempa. Kehancuran infrastruktur jangan ditanya, karena hampir 100 % fasilitas umum yang tedampak gempa mengalami rusak parah. Sekolah, rumah sakit, pasar dan bangunan-bangunan pemerintah daerah setempat. Lalu, bagaimana dengan pariwisata? Adakah terganggu karenanya? Tentu saja iya.

Dipotret dari kendaraan, dengan kecepatan sedang mendekati laju (halagh)


Awal September 2018, saya bersama dengan teman-teman dari berbagai lintas komunitas berkunjung ke Lombok untuk jadi relawan. Membawa lebih dari 10.000 kotak susu hasil donasi dari teman-teman, kami berkeliling di daerah terdampak gempa. Lombok Timur, Lombok Barat dan Lombok Utara. Sedang Lombok Tengah sendiri, relatif  lebih aman dan tidak terkena gempa. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kayangan, Lombok-Utara. Menuju ke sana, kami melewati daerah Sengigi, salah satu tempat wisata yang terkena dampak gempa parah. Sebelah kanan jalan, perkampungan banyak yang rata dengan tanah. Sedang sebelah kiri jalan, banyak sekali hotel-hotel dan penginapan yang rusak.

Selama lima hari, kami berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Lalu, di hari terakhir, Jumat dan Sabtu bersama dengan teman-teman relawan kami menyisir beberapa tempat wisata yang sunyi sepi tak berpenghuni. Ya, paska gempa banyak sekali tempat wisata yang ditutup oleh empunya. Bahkan, Senggigi yang menjadi batas penyebrangan ke Gili Trawangan masih ditutup. 

Persinggahan pertama, kami ke desa wisata Sasak Ende. Salah satu desa wisata yang masih mempertahankan budaya, termasuk lantai rumahnya yang menggunakan kotoran sapi. Konon, kotoran sapi dibuat supaya rumahnya lebih sejuk. Wisata selanjutnya, adalah ke pantai Mandalika, salah satu tempat wisata yang sudah diperbarui. Tak lupa, Tanjung Aan sebagai tujuan. Menikmati kelapa muda dan nanas, kami duduk santai menikmati indahnya pantai. Di Tanjung Aan, sedikit lumayan. Karena ada beberapa wisatawan mancanegara yang sedang berjemur dan sibuk memotret keindahan Tanjung Aan.



Persinggahan selanjutnya, di hari kedua adalah Pura Batu Bolong. Di sini, sebenernya saya nggak bisa masuk, karena sedang datang bulan. Mas Anton, Kak Ibet, Kak Tati, Om Eka dan istrinya masuk ke pantai Pura Batu Bolong. Sementara saya menunggu di warung di pinggir jalan. Tak begitu banyak kerusakan di situ, tapi pengunjung masih juga sepi. Ya, selama kami singgah di beberapa tempat wisata, pengunjungnya sebagian besar adalah relawan. 



Tak lama menunggu, Mas Anton menjemput saya. Ia meminta saya serta. Saya tentu saja menolak. Eh, rupanya di Pura Batu Bolong sebelahnya ada pantai yang tak kalah indahnya. Di situ, Mas Anton mengambil gambar menggunakan drone-nya. Almaklumlah, Mas Anton ini ketua komunitas Sky Grapher Indonesia. Keren banget, yaks!.

Sementara Mas Anton dan yang lain mengambil gambar, saya menyingkir sebentar. Melihat sekeliling. Saya memotret keadaan sekitar. Sebuah kafe, dengan berupa meja dan kursi saya temui. Tapi tak ada sau manusia pun di situ. Tapi tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara anak kecil. Ternyata, di kafe tersebut ada orang. Barangkali, pemiliknya. Saya mendekat, tersenyum kepada sang bocah. Seorang perempuan dewasa duduk di balai-balai. Saya menyapanya, dan meminta izin untuk duduk di dekatnya. Dengan ramah, ia menyambut saya.



Kami berbincang macam-macam. Saya lupa nama perempuan tersebut, ia tak sungkan menceritakan tentang dirinya. Juga, tentang kafe yang dikelolanya. Ya, kafe yang dikelolanya merupakan milik orang lain. Ia bekerja di situ. Bersama suaminya, sebelum gempa mereka bahu membahu menjaga kafe. Menurutnya, di hari libur, pantai tersebut banyak pengunjungnya. Tapi sejak gempa, pantai sunyi tak ada pengunjung. Yang saya kagum dari perempuan tersebut, ia sepertinya sudah sangat bersahabat dengan alam. terlihat, bagaimana ia menjelaskan perihal gempa, dan kepercayaannya tentang tiadanya tsunami paska gempa saat itu. Dari Pura Batu Bolong, kami menuju Senggigi.

Senggigi. Ah, ini sebenarnya bukan yang pertama datang ke Senggigi. Di awal tahun 2017, saya pernah singgah ke Senggigi bersama dengan kawan-kawan relawan sepulang dari Bima. Siang itu, kami duduk di tepi pantai, menikmati satai bulayak, dengan bumbu kacang yang tak biasa. Ya, ini satai ayam,tapi bumbunya tak biasa ditemui seperti di Jawa. Satai dinikmati dengan lontong yang dibungkus dengan daun aren. Sepoi angin membuat beberapa di antara kami terkantuk-kantuk. Bahkan, Kak Tati tak segan merebahkan badan.



Senggigi, adalah persinggahan terakhir. Siangnya, kami beranjak menuju bandara dibarengi dengan singgah di beberapa pinggiran pantai sepanjang jalan Senggigi. Menurut Pedro, seorang teman yang bekerja di bagian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Lotim, ada tiga hal yang sedang gencar dilakukan oleh pemda Lombok untuk kembali meningkatkan perekonomian. Pertama, pasar, kedua pariwisata dan ketiga adalah pengembangan UKM. 

Pariwisata Lombok, semoga lekas pulih, lekas bangkit. Awal November lalu, ketika kembali ke Lombok perubahan-perubahan mulai terlihat. Beberapa tempat yang kami singgahi sudah mulai ramai wisatawan. Meski tidak sepenuhnya banyak. 

Ini baru cerita pantai-pantainya. Cerita desa adat dan gunung-gunungnya belum ditulis. Lombok, selalu ngangenin

Owh ya, waktu bulan September ke Lombok, tiket saya dibelikan oleh Kak Tati. Pembelian tiket ini dengan sedikit drama tentu saja. Ceritanya, saya  meminta tolong Kak Tati untuk membelikan tiket terlebih dahulu, nanti uangnya akan saya ganti (waktu mau pergi belum punya uang). Tapi, namanya rezeki, ternyata ketika saya mengajukan izin ke kantor untuk bolos selama satu minggu, tiket saya malah ditanggung kantor. Kan, rezeki banget. Kak tati, pesan tiket di pegipegi. Buat Kak Tati, beli tiket melalui pegipegi sepertinya menjadi langganan. Soale, di perjalanan selanjutnya, dia juga beli tiket melalui pegi-pegi ^_^


Bagikan:

2 komentar

  1. sukaaa dengan pantai..semoga wisata Lombok makin membaik

    BalasHapus
  2. mudah-mudaha pariwisata Lombok segera bangkit.
    kerja berat, karena Lombok sudah sempat menjadi salah satu destinasi unggulan Indonesia dan mulai hampir mendekati Bali.

    apalagi wisata sangat berpengaruh pada hajat hidup orang banyak...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P