Mengenal JKN-KIS Sebagai Wujud Kehadiran Negara



Kamis, 7 Desember 2017 lalu saya diberi kesempatan hadir mengikuti diskusi Kupas Tuntas Layanan JKN di Kominfo. Bersama dengan narasumber di bidang ahlinya, saya sedikit melek tentang JKN dan BPJS ini. Tiga narasumber yang hadir, Pak Donald Pardede dari Staf Ahli Kementrian Kesehatan Bidang Ekonomi Kesehatan, Pak Mardiasmo wakil mentri keuangan juga Pak Fachmi Idris Direktur Utama BPJS.  

Per 1 Desember 2017, jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sudah mencecah di angka 186.602.571 jiwa. Artinya, hampir 70% penduduk Indonesia sudah memiliki kartu JKN.

Inti dari Jaminan Kesehatan adalah menuju kepada satu Universal Health Coverge (UHC), di mana hal tersebut merupakan kesetaraan. Kesetaraan setiap orang untuk mengakses pelayanan yang komperehensif. Baik promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif sehingga ketika ketika ia mengakses pelayanan kesehatan dia tidak akan mendapat kesulitan dari segi pembiayaan atau termiskinkan karena pembiayaan. “Hal ini disampaikan oleh Pak Donald Pardede pada sesi pertama. Menurut beliau UHC menjadi target utama sampai tahun 2019 kelak. Bagi beliau, dengan adanya JKN ini menjadi bagian dari hadirnya pemerintah untuk warganya. Terutama bagi warga yang kurang mampu.

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi oleh JKN, tetapi ketika melihat data sudah banyak orang yang sudah terselamatkan dan begitu banyak orang yang sudah memanfaatkan.

Pak Donald Pardede juga sekilas menveritakan bagaimana dulu banyak kejadian orang yang menderita sakit parah, lalu kemudian hartanya habis untuk biaya pengobatan. KIni, dengan adanya JKN, sebagian masyarakat kurang mampu bisa tertolong biaya pengobatannya. Karena JKN, merupakan bagian dari sistem gotong royong. Ini semacam subsidi silang, orang yang nggak sakit, ikut membantu membayar biaya pengobatan orang yang sakit dengan rutin membayar iuran tiap bulan.


Disadari atau tidak, bagi saya kehadiran JKN ini banyak membantu kalangan kurang mampu. Dulu, orang dengan ekonomi rendah ketika sakit tak berani berobat ke rumah sakit. Kini, dengan adanya JKN-KIS sebagian masyarakat kurang mampu sudah berani berobat ke rumah sakit. Kenapa sebagian? Karena masih ada 30% masyarakat Indonesia yang terdaftar di JKN-KIS. Ini sepertinya termasuk saya juga :D

Konon, dari angka yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI, pada tahun 2016 JKN-KIS telah menyelamatkan 1,16 juta orang dari kemiskinan. Tak hanya itu, JKN-KIS juga telah melindungi 14,5 juta orang miskin dari kondisi kemiskinan yang lebih parah.  

“Rumah sakit sekarang penuh, banyak yang datang. Tetapi dibalik itu kalau menggunakan persepektif yang lain bahwa mereka kini sudah berani datang ke rumah sakit. Karena dulu, sebelumnya mereka tidak pernah memiliki akses. Di sinilah peran negara hadir untuk orang miskin. “Tegas Pak Donald Pardede.

Sementara, menurut Direktur Utama BPJS Kesehatan Pak Fachmi Idris, pengeluaran masyarakat untuk iuran JKN-KIS dapat dianggap sebagai insvestasi karena JKN-KIS terbukti mampu melindungi keluarga dari kemiskinan akibat penyakit berbiaya mahal.

Pada tahun 2016 pemanfaatan program JKN-KIS mencapai 192,9 juta kunjungan/kasus, yaitu terdiri dari 134,9 juta kunjungan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Puskesmas, Dokter Praktik Perorangan, dan Klinik Pratama/Swasta) termasuk angka rujukan ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Lanjutan (FKRTL), serta 50,4 juta kunjungan Rawat Jalan Tngkat Lanjutan (Poliklinik RS) dan 7, 65 juta kasus Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RS)

“Faktanya, tak ada pelayanan publik yang bisa memuaskan 100% custumer-nya karena tingkat kepuasan setiap orang berbeda. Dari 186 juta jiwa peserta JKN-KIS, pasti ada beberapa orang yang kurang puas. Namun jangan lantas kita mengabaikan peserta yang terlayani dan sudah merasakan manfaat JKN-KIS. Perlu kita perhatikan bahwa total pemanfaatan JKN-KIS selama 3,5 tahun mencapai 522,9 juta pemanfaatan. Artinya, dalam sehari ada 415 ribu pemanfataan JKN-KIS, baik FKTP maupun di rumah sakit.” kalimat ini disampaikan oleh Direktur utama BPJS Kesehatan.

Ya, pada akhirnya pada setiap pelayanan, ketika semuanya sudah mengikuti prosedur dengan baik maka akan berjalan sebagaimana mestinya. Jika menggunakan BPJS antriannya mengular, ini karena memang sangat banyak pemilik kartu yang menggunakannya. DI mana sebagain besar orang yang dulunya tak berani ke rumah sakit meski pun dalam keadaam sakit karena tidak memiliki uang, kini sebagian besar sudah berani berobat ke rumah sakit.

Isu tentang sembilan penyakit yang tidak dicover oleh BPJS itu juga tidak benar. 

Kategori:

Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P