Jodoh yang Dipilih Oleh Mbak Anaz

Ngerjain Arie buat swa foto :D

Draft ini sudah ada sejak tanggal 25 September 2017 lalu. Tapi masih belum tayang juga. Eh, tapi gimana mau tayang kalau isinya aja nggak ada :D. Lalu kemarin muncul kenangan postingan Kak Magda dua tahun lalu di Pameran Kelas Inspirasi Banten. Nah, di situlah semua bermula "Jodoh pilihan Mbak Anaz'

Ceritanya, pada September lalu tepatnya pada 16 September  Arie menikah. Sebelum dia menikah, jauh-jauh hari sudah mengabarkan kepada saya tentang pernikahannya. 

9 Agustus 2017

"Mbak Anaz yang sok sibuk, sedang apa?"

"Sedang balas chatnya Arie yang juga sibuk."

"Hahahahaha... Iya, nih. Masih di kantor jam segini. Sok sibuk banget. Hahahaha. Mbak Anaz, kan, banyak acara, Arie mau minta 1 hari Mbak Anaz datang ke acara Arie. Masih jauh, sih, waktunya. Tapi biar Mbak Anaz bisa prepare."

"Tanggal berapa, Rie?."

"16 September. Pake undangan nggak, nih?"

"Terserah Arie."

Mendengar kabar Arie mau menikah, saya perolehi seminggu sebelumnya. Meski sudah tahu lebih jauh hari lagi dari Fayruz. Sebetulnya, agak sebal ketika kabar pernikahan teman dekat diketahui kabarnya dari orang lain. Bukan dari orang yang bersangkutan. Makanya saya bilang terserah. Ahahahahaaha.... Dan, meski pun Arie mengabarkan dari bulan Agustus, di tanggal 16 September sebetulnya saya sudah mendaftar Kelas Inspirasi Pemalang (KI). Bayangin, ada KI di kampung kelahiran, masak nggak datang? Giliran daerah-daerah lain didatangin. Gambling!

"Arie nikahnya sama Fatma, kan?"

"Iyah. nikahnya sama Ifat Fatmawati. Perempuan pilihan Mbak Anaz itu, loh. Hahahaha."

Saya tertawa. Teringat dengan kejadian dua tahun lalu. Di sebuah acara, beberapa hari sebelumnya Arie sudah wanti-wanti akan datang, dan mengabarkan jika akan mengenalkan dengan dua orang kawan dekatnya. Ya, Arie mengajak kawannya dalam waktu bergantian. Di hari H acara, Arie mengenalkan saya dengan temannya. Tak begitu akrab, karena ia banyak melekat dengan Arie. Hari kedua, Arie kembali mengenalkan saya dengan seorang kawan lainnya. Seorang cewek periang, tak malu bergabung dengan kami yang baru kenal. Tak juga menguntit Arie ke mana-mana.

Pertama kali ketemu dan kenal di sini, kalau nggak salah Desember 2015. Tanggalnya lupa. Kayaknya, 19 Desember :)


"Gimana, Mbak Anaz?." Tanya Arie waktu itu juga di sela-sela kesibukan bertemu dan bermain dengan kawan-kawan.



"Nggak tahu." Saya mengedikan bahu.

Mengingat Arie, dan mengingat perkanalan dengannya, saya jadi ingat pernah menuliskannya serba sedikit di instagram tahun lalu,

Arie, atau nama lengkapnya Nur Arifin ini saya kenali tahun 2013. Barengan sama Suraip, Markijal, Kak Magnet, Karump dan Kalisdong. Saat itu, kami hendak ke Pulau Tegal-Lampung. Pertama kali bertemu dan pertama kali membuat kegiatan bersama-sama.
Kalau dipikir, kenekatan kami hampir serupa kebodohan. Ah, tapi lebih tepatnya bodoh memang. Pergi ke sebuah tempat baru, bersama dengan orang-orang baru sementara kami tak mengetahui apa-apa.
Arie ini, kayak batrei energizer yang nggak mati-mati selama 24 jam. Sepanjang jalan, ia tak henti berceloteh, bercerita dan membicarakan apa saja.
Tapi, sekarang ia lebih pendiam. Itu pengakuannya. Karena menurutnya, ia sudah dewasa. Dan kini, ia acap meledek saya, "Mbak Anaz, mah, sekarang ember. Dulu pertama kali ketemu pendiam...." dan bla... Bla.. Lainnya.
Arie sekarang nggak pendiam-pendiam amat, sih. Seenggaknya, masih suka becanda, masih suka curhat dan masih bisa dijambak rambutnya.

Begitulah Arie. Ia kadang-kadang sering curhat banyak hal. Termasuk, teman-teman perempuannya. Lalu, ketika ia menanyakan perempuan manakah yang lebih cocok untuknya, saya tentu saja misuh-misuh. Jawab saya waktu itu, "Lah, Arie yang mau nikah, kenapa nanyanya sama Kanaz?." Meski begitu, tentu saja saya memberikan jawaban dari pertanyaannya. Menjawab dengan selera saya tentu saja. Hahahahaha...

Lantas, ketika ia menikah bulan September lalu, ketika di atas pelamin kami semua bersalam-salaman, ia dengan bangga mengenalkan kepada kawan-kawan lain,"Ini jodoh pilihan Mbak Anaz." Ujarnya sambil tertawa-tawa gembira. Saya, tentu saja langsung menjambak rambutnya. Ya, di atas pelaminan sekali pun, saya masih bisa menjambak rambut Arie. Maafkan Mbak Anaz, Arie ^_^

"Sekarang giliran Arie carikan jodoh buat kami, ya?." kami semua tertawa....

Btw, emang alasannya apa kenapa saya mengajukan salah seorang yang kemudian dipilih oleh Arie? Adalah! Dan yang pasti, itu sih karena Arie memang sukanya itu kali. Hahahahahaha.... Dan sudah jodohnya, tentu saja :)

Selamat menempuh hidup baru, Arie. Semoga keberkahan senantiasa membersamai. Sampai ke tua, sehingga ke surga :)


Bagikan:

2 komentar

  1. Hahahahaa. Buh lengkapnya ini curhatnyaaaa. Di beberin semua
    "Begitulah Arie. Ia kadang-kadang sering curhat banyak hal.
    Termasuk, teman-teman perempuannya."
    Hahahaaa

    BalasHapus
  2. Pilihannya tepat mbak, makanya jodoh. Hehehe

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P