Selamat Hari Dongeng Nasional


Dari group Ayo Dongeng Indonesia (Ayodi)


Pagi ini membuka group whatsapp Ayo Dongeng Indonesia. Lalu menemukan chat dari Kak Aio seperti ini. Chat terkirim tepat di jam 01.59 WIB. 

Malam ini hingga pagi tidak bisa tidur. Masih bangun dengan banyak hal terpikirkan dan mengingatkan akan banyak kenangan dan perasaan.

Hari ini sudah 28 November, hari yang menjadi biasa dengan rutinitas dan jadwal yang harus dilakukan tentunya. Buat banyak orang.

Buat gw, beda. Hari ini di mulai dengan tidak bisa tidur.

Entah kenapa lalu teringat dengan sosok laki-laki tua yang suka cerita, suka kasih nasihat, seneng ngajak minum wine, suka nyanyi lagu-lagu Belanda, dan sudah mengajarkan banyak hal. Dulu ketemu sudah lama sekali, sempat beberapa tahun tak bertemu namun kemudian jumpa kembali hingga akhir.

Pak Raden.

Pertama kali Ayodi berdiri, eh tepatnya didirikan ^_^ (sumber foto dari Kak Aio di group Ayodi)


Sempat bilang, "Kalau kamu bikin acara dongeng, saya pokoknya mau datang!". Ternyata itu ditepati kapanpun ada acara dongeng, sesederhana apapun. Termasuk 3 Desember 2011, ketika Ayo Dongeng Indonesia dilahirkan dan bikin perayaan ulang tahun kejutan buat beliau di 28 November 2011 yang adalah beberapa hari sebelumnya.

Sekarang 28 November 2017. Terima kasih Guruku. Eyang. Bapak. Teman. Selamat ulang tahun.

Manusia hanya akan meninggalkan cerita, dan ceritamu adalah cerita yang baik.

Lalu tetap, masih tidak bisa tidur.

Agak lama mencerna kalimat Kak Aio. Lalu saya baru ingat jika hari ini, tanggal 28 November 2017 adalah Hari Dongeng Nasional. Mengingat proses menuju penetapan hari dan tanggal ini sebagai hari dongeng, tentunya ini tak lepas dari kegigihan Kak Aio dan kawan-kawan pegiat dongeng pada tahun 2015 lalu. Semoga semakin banyak orang tua, guru, pegiat literasi atau siapa pun yang terlibat dan melibatkan dalam dunia dongeng ini. Bukan sekadar seremonial belaka, tapi menerapkan di kehidupan sehari-harinya.

Awal mula perjuangan teman-teman dalam deklarasi menuju hari dongeng nasional (sumber foto facebook Kak Fadila)


Jadi ingat ketika kecil dulu, saya dibesarkan oleh dongeng-dongeng zaman dahulu kala oleh tetangga. Ya, dulu, yang sering mendongengi saya adalah tetangga. Hampir setiap kali menginap di rumahnya saya selalu didongengi. Dari Timun Mas, Bawang Merah Bawah Putih, Buto Ijo dan sebagainya. Dongeng-dongeng itu terekam dalam kepala.

Kembali kepada pembuka chat pagi tadi di group Ayodi, kalimat Kak Aio tentunya tak lepas dari seorang bapak dongeng Indonesia, Pak Raden. Beliaulah yang giat sekali mendongeng sejak dulunya. Certa Unyil yang menghiasi layar kaca di tahun 90-an tentunya tak lepas dari beliau.

Dua tahun lalu, saya pernah menuliskan tentang beliu di blog ini juga. Berikut penggalan tulisan tentang beliau, 

Pak Raden dengan kumis baplangnya, Pak Raden dengan gelegar tawanya hilang dari benak kepala saya. Yang tertanam di benak saya saat itu adalah sosok yang sangat idealis dari Pak Raden. Pak Raden, setelah mendongeng kisah sepasang suami istri, lalu beliau bercerita kalau pernah diminta salah satu stasiun televisi untuk mendongeng dengan tokoh nabi-nabi pada bulan Ramadhan. Tapi Pak Raden menolak tawaran tersebut. "Saya tidak mau mengajarkan kebaikan kepada anak-anak dari salah satu sisi agama. Karena buat saya kebaikan itu universal." kalau saya tidak salah ingat, Pak Raden mengatakan demikian.

Saya tercengang. Menyadari dan melihat di sekeliling rumah Pak Raden yang tidak ada barang-barang mewah menyadarkan saya kalau beliau tidak memiliki barang berharga di rumahnya. Saya juga ingat ketika beliau diekspose oleh beberapa media ketika isu hak cipta si Unyil beliau tidak mendapatkan royalti. Artinya, Pak Raden hidup dalam kekurangan. Tapi, lihatlah.... beliau menolak sebuah tawaran dari salah satu stasiun TV yang saya yakin bakalan membayar beliau, tapi beliau menolaknya dengan alasan tidak mau mengajarkan kebaikan dari salah satu sisi agama saja.

Pak Raden begitu mahal, beliau tidak mau menggadaikan sebuah kebaikan dengan nilai-nilai uang. Di zaman sekarang ini, berapa banyakkah seniman yang seperti Pak Raden? Kemarin, ketika saya menceritakan hal ini kepada beberapa teman, salah seorang teman berujar, "Itulah seniman sejati. Dia tidak akan menggadaikan apa pun demi uang." Ah! betapa hebatnya Pak Raden. Semoga Allah melapangkan kuburnya, menjadikan kebaikannya di dunia sebagai bekal di akhirat. Aamiin....

Terima kasih banyak, Pak Raden. Semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa bersamamu.

Tulisan tentang Pak Raden lainnya di blog ini juga

Sumber foto facebook Kak Budi

Sumber foto group ayodi, dari temannya Kak Didik

Sumber foto, ucapan si biru buat Ayodi kirimannya Kak Budi

Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P