Generasi Milenial itu, Yah, Hasil Generasi Kita



"Apa permasalahan utama dari para orang tua yang sering ditemui mengenai gadget, misalnya ada anak yang tidak mau makan kalau tidak mau ditemani gadget. Ayo, silakan yang mempunyai masalah mungkin bisa dibahas di sini. Nanti kita bicarakan sama-sama". Mbak Lizy Santosa membuka diskusi parenting dengan semangat diskusi. Seorang ibu mengacungkan tangannya dan langsung memberikan beberapa list mengenai kebiasaan anaknya mengenai gadget: 

Anak2 tidak punya kontrol 
Semaunya
Kalau belajar membaca buku berbentuk fisik malas, maunya instan
Nggak suka ekspreimen
Ngeyel

"Ayo siapa lagi?"

"Motorik halusnya kurang (tulisan tangannya jelek)." Tambah seorang ibu lagi dari barisan belakang.

Menarik sekali melihat openingnya Mbak Elizabeth Santosa (Mbak Lizy). Diskusi parenting dengan tema "Gadget 101 For Kids" beliau merupakan Psikolog buku (Raising Children in Era Digital) juga Komisioner Komnas Perlindungan Anak Indonesia. Pada paparan-paparan selanjutnya, Mbak Lizzy memberikan penjelasan yang bagi saya mencerahkan. Bagaimana tidak, selama ini saya kerap membaca artikel mengenai parenting tentang gadget ini dengan data informasi yang bagi saya menjadi menakutkan. Sementara Mbak Lizy, menyampaikannya dengan rasional. Menghadapai dengan kesiapan, bukan ketakutan-ketakutan.

Mbak Elizabeth Santosa yang semangat banget kasih materi


Oke, kembali ke pembukaan di atas tentang masalah klasik orang tua menghadapi anak dengan gadget, Mbak Lizy tentu saja memberikan contoh, tips juga cara bagaimana mengenalkan gadget kepada anak. 

Dari kasus contoh di atas, Mbak Lizy kemudian melanjutkan diskusi. Menurutnya, orang tua menganggap bahwa anak zaman sekarang itu nyusahin, menyebalkan, susah diatur dan suka melawan. Padahal menurut Mbak Lizy, semua generasi adalah sama saja. Sama buruknya. Mengapa ia berpendapat demikian? Karena orang tua kita melihat kita di zamannya pun sama buruknya. Pun sama menurutnya dengan zaman di mana orang tua kita kecil, kakek nenek kita pasti menganggap bahwa orang tua kita tak jauh lebih baik dari zamannya. Begitulah, terus menerus.

“Itulah kenapa kita selalu melihat bahwa generasi kita adalah generasi yang negatif. Dikarenakan kita selalu menggunakan kacamata sendiri.”

Sampai di sini, sebetulnya saya langsung ketawa dalam hati mendengar Mbak Lizy menyampaikan materinya. Ada benarnya, bagaimana generasi angkatan 80-90 menganggap bahwa mereka (mereka di sini itu termasuk generasi saya tentu saja) adalah generasi paling bahagia, sementara generasi sekarang adalah generasi yang paling tidak bahagia.

Menurut Mbak Lizy, generasi net itu cederung  sukses, praktis dan cepat, kritis, kebebasan juga percaya diri. 



Pandangan orang tua yang menganggap anak sekarang itu serba instan, mudah menyerah, bekerja mau gaji yang tinggi, lekas berhenti kerja ketika dia ditegur oleh atasannya merupakan generasi keturunan dari kita. Ya, bagi Mbak Lizy generasi sekarang dibentuk oleh diri kita, orang-orang yang dulu pernah melewati kanak-kanak dan sekarang menjadi orang tua, maka lahirlah generasi Y alias generasi milenial, alias generasi sekarang.   

Mengenalkan Gadget Sejak Dini

Dari hal di atas, mari beranjak sejenak tentang pengenalan gadget kepada anak. Karena, mau tidak mau, suka atau tidak suka anak-anak kita tak mungkin tidak dikenalkan dengan gadget. Karena kini, di zamannya mereka gadget adalah bagian dari dunianya.

Saat Mbak Lizy menanyakan sejak usia berapa pengenalan gadget kepada anak, jawaban beragam didapatkan dari audience. Ada yang bilang usia 13 tahun, 5 tahun atau 3 tahun. Bagi Mbak Lizy, pengenalan gadget kepada anak adalah sedini mungkin. Ini demi menghindari keterkejutan budaya kepada anak ketika ia tak pernah melihat gadget.

“Bayangkan, anak Anda berusia lima tahun. Tak pernah dikenalkan dengan gadget, kemudian ketika di TK ia mengenal gadget dari kawan-kawannya. Lantas apa yang terjadi?”. Tanyanya dalam sebuah analogi. Bagi Mbak Lizy, pengenalan sedini mungkin gadget kepada anak adalah untuk mencegah apa yang perlu diketahui dan tidak perlu diketahui oleh anak. 

Di baliks egala dampah negatif internet, masih ada dampak positifnya


Orang tua dan keluarga menjadi faktor penentu utama anak dalam menggunakan gadget. Jangan asal larang anak bermain gadget tanpa dialihkan ke yang lain. Penentuan waktu di hari libur untuk bermain gadget juga bukan sepenuhnya menggunakan gadget. Tapi hanya di jam-jam tertentu saja.

Melihat paparan dan mendengar ulasan yang disampaikan Mbak Lizy, bagi saya ini agak berat. Saya belum punya anak, tapi melihat keponakan kadang gemes juga. Informasi ini bisa dishare ke kakak juga teman-teman saya nantinya.

Selain Mbak Lizy, Pak Tony Mampuk GM Corporate Affairs Giant juga memberikan pendapatnya mengenai perkembangan digital dan gadget ini. "Perkembangan tekhnologi yang sangat dinamis membuat para orang tua harus pintar dan cermat dalam mengawasi penggunaan gadget kepada anak. Karena di era digital saat ini tidak mungkin menghindari anak dari gadget, karena dengan menggunakan gadget yang tepat dapat berperan positif dalam tumbuh kembang anak. untuk itulah, Giant sebagai retail yang peduli terhadap perkembangan anak, mengadakan talkshow ini agar orang tua dapat berdiskusi dan mendapatkan langsung penjelasan dari ahlinya.

Pak Tony Mampuk GM Corporate Affairs Giant

Pengumuman Lomba gambar Giant Faunatic

Sebelumnya, Giant mengadakan lomba menggambar. Dengan tema Faunatic, lomba ini diikuti oleh 48 Sekolah Dasar (SD) se-Jabodetabek dengan diikuti oleh 311 siswa dan siswa. Total pemenang adalah 10 anak. Hasil dari karya mereka nantinya akan didesain untuk tas, yang nantinya akan dijual di seluruh Giant di Indonesia. 

Lomba menggambar ini tentu saja menjadi salah satu media peralihan konsentrasi anak dari gadget. Karena, setelah sepuluh nama pemenang diumumkan, pemenang utamanya itu Hapsari Nisrina Adi Rizky, anak dari ibu-ibu yang pertama kali mengeluhkan tentang kecanduan gadget anaknya. Wah, ternyata, anaknya sangat cerdas! Tabik, Dik !


Hapsari Nisrina Adi Rizky juara satu faunatic

Para pemenang lomba faunatic


Barengan teman-teman blogger

Kategori:

Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P