Mengenal Literasi Keuangan di Mandiri Edukasi 2017



Jika menilik KBBI V di android dan mencari makna dari kata literasi, akan ditemukan beberapa sub pengertian dari literasi itu sendiri. Pertama, pengertian literasi adalah kemampuan tentang menulis dan membaca. Sedang yang kedua, pengertian literasi adalah pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu:- komputer. Salah satu sub pengertian literasi adalah merujuk kepada literasi keuangan, di mana pengertiannya merupakan kemampuan untuk memahami pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sumber daya keuangan.

Bertempat di Panggung Nusantara, Hall C-ICE BSD, Minggu 22 Oktober 2017 saya mendapatkan kesempatan mencuri ilmu dari beberapa narasumber yang berpengalaman mengenai keuangan ini. Ivy Batuta, Ahmad Gozali dan Moulie menjadi narasumber dalam perbincangan mengenai literasi keuangan tersebut. Dengan latar belakang berbeda, tentunya menjadi pelengkap cerita masing-masing narasumber. Ivy Batuta sebagai artis, Ahmad Ghozali sebagai financial planner dan Moulie dari mandiri. 




“Hal yang pertama saya lakukan ketika mendapatkan uang adalah untuk membayar hutang. Itu wajib. Setelah itu baru menyusul zakat, lalu mengeluarkannya untuk dana pendidikan.” Ujar artis yang kerap wara-wiri menjadi presenter tersebut. Baginya, membayar hutang adalah prioritas utama, baru menyusl kemudian hal-hal lainnya. Ibu dua orang anak yang murah senyum ini juga menganggap bahwa zakat juga bagian terpenting ketika mendapat uang. Karena untuk membersihkan sebagian dari rezeki yang diperolehi.

“Dulu, ketika kecil, saya pernah diajak oleh Ibu saya meminjam uang kepada orang. Alasan meminjam itu untuk membayar sekolah saya. Ya, saya mendengar jelas bahwa ketika meminjam tersebut orang tua saya mengatakan bahwa meminjam uang untuk membayar sekolah saya.” Dengan sedikit terbata, Ivy Batuta bercerita sekilas masa lalunya mengenai keuangan untuk pendidikan. Baginya, pengalaman tersebut adalah yang paling pahit dalam hidup. Dan ketika ia sudah dewasa dan memiliki keluarga, ia tak mau anaknya mengalami kejadian serupa.

Beralih ke narasumber kedua, Ahmad Ghozali. Penulis buku Habiskan Gajimu ini dengan berapi-api mengatakan di awal, “Uang itu bukan untuk disimpan. Tapi untuk digunakan,” saya terdiam sesaat ketika mendengar kalimatnya. Pikir saya, pembicaraan macam apa ini? Tapi, kemudian ia melanjutkan, “Digunakan di jalan yang benar. Dengan tata kelola yang bagus, uang bisa digunakan dengan tepat.” Bernas sekali kalimatnya. 

Ia juga menambahkan jika mengurus uang itu bukan hanya tugas istri di dalam keluarga, tapi juga tugas suaminya. “Ibu-ibu senang kalau dapat uang harus dihabiskan, kan?” Dengan banyak kelakar, ia menyisipi obrolan-obrolan siang itu dengan gelak ketawa. Bagi Ahmad Gozali, “menyetorkan”uang ke atas juga menjadi bagian wajib ketika mendapat rezeki. Hampir serupa dengan Ivy Batuta, “menyetorkan”uang kepada yang di atas merupakan salah satu kewajiban dirinya dan keluarganya.

“Saving dulu, baru shoping.” Itu yang terngiang-nging di kepala saya dari pembicaraan Ahmad Ghozali.
Pembicara terakhir, Pak Moulie. Mewakili Mandiri, ia menjelaskan tentang reksadana yang ada di mandiri. Ia menepis anggapan banyak orang jika menyimpang reksadana harus memiliki uang berjuta-juta. Nyatanya, tidak. Menurutnya, dengan minimal uang Rp. 50.000 saja sudah bisa membuka tabungan reksadana. 

"Ada banyak produk reksadana di mandiri, jadi jangan takut harus memiliki uang yang banyak baru bisa membuka reksadana." Kata Pak Moulie sebagai penutup obrolan petang mengenai literasi keuangan. 

Bagikan:

0 komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P